Minggu, 16 November 2014

Dua Puluh

Hai, Guys!


Kali ini gue bukan mau nulis puisi, atau nulis cerpen, atau nulis artikel dengan ke-sok-tahu-an-nya gue. Hahaha.


Hmmm, gue cuma mau cerita sedikit tentang sesuatu yang gue alami.
Sebenernya , sih, gue mau nulis cerita ini dari bulan September, tapi berhubung gue baru sempet karena kesibukan (jiah) gue yang terus-menerus melanda, akhirnya baru bisa gue rampungin hari ini.
Ini cuma seputar kisah mengenai ulang tahun gue yang keduapuluh, yang kata orang, umur ini udah menjadi dasar seseorang untuk dibilang dewasa, bukan ABG lagi.
Oke, langsung saja!


11 September 2014
Eh, salah deng!
10 September 2014
Handphone  gue berdering. Nomor yang tertera tanpa nama. 0852-….-…. (nggak hafal).
Ah, dia. Gue tahu siapa yang menelpon gue walaupun gue nggak simpan nomornya.
Gue angkat.
“Halo!”
“Halo! Belom tidur?”
“Belom.”
“Jangan tidur dulu, ya!”
“Kenapa?”
“Hmmm, pokoknya jangan tidur dulu, oke!”
“Hmmm, iya.”
Tut… tut… tut!
Dia lagi, apa lagi? Dia mau ngelakuin hal “gila” apa lagi? Setelah dia pernah datang ke depan rumah jam 00.00 di tanggal 11 September tahun 2010? Setelah dia pernah “nyelipin” boneka kura-kura di buku pajak gue dan ketemuan di deket tangga masjid, waktu gue naik umur jadi 17 tahun?
Arrrrggggh!


Pukul 00.00
Gue was-was. Gue mempertajam pendengaran gue. Bukan, bukan buat dengerin suara di telepon, tapi buat mastiin di luar rumah nggak ada “suara-suara aneh” seperti 4 tahun yang lalu.
Tapi, pendengaran gue nggak bisa menyangkal. Gue denger suara-suara gitu di luar rumah, tapi gue nggak ngintip dari jendela kamar, gue takut gue cuma berilusi doang, atau malah de ja vu. Gue masih di kamar belakang (bukan kamar tidur), tapi nggak ngapa-ngapain. Diem. Atau lebih tepat disebut mikir, tapi nggak tahu apa yang dipikir, melayang. Sampai di menit ke 42, handphone gue berdering lagi. Nggak usah mikir siapa yang memanggil, gue udah sangka siapa. Siapa lagi kalau bukan orang yang tadi habis nelpon gue, sebut saja RYF.


Gue mendengar lagi suaranya, suara khas dia yang biasanya terdengar memilukan, tapi kali ini, suaranya berbeda, ini suara yang ceria.


Diawali salam dan sedikit kata-kata pembuka ala dia, lalu tiba-tiba ada suara lain di luar suara dia. Suara wanita. Ups, tenang! Bukan suara pacarnya, tapi suara sahabat SMK gue yang kami panggil Tata.


Tata, wanita periang dengan suara yang cukup menggelegar. Nggak peduli ngomong sama siapa dan di mana, ia selalu terdengar (dan terlihat) ceria, nggak seperti gue yang hobinya cemberut dan melontarkan suara memiris, hahaha.


Selanjutnya, ada suara lain lagi, suara laki-laki yang berat dan kadang bernada datar, Yudi namanya. Teman SMK kami, eh, selain itu juga sahabatnya RYF. Dia pernah satu kantor sama gue, tapi nggak lama. Gue bingung, mereka ada dalam satu tempat apa gimana, sih?! Eh, ternyata ini namanya Conference Call. Hahaha. Maklum, gue, kan, hampir nggak pernah teleponan jadi baru tahu.


Suara di luar rumah makin kedengeran. Gue tambah gusar, gue pindah ke kamar depan (kamar tidur). Walaupun ada nyokap gue, gue tetep milih teleponan di kamar, biasanya, sih, gue nggak mau, gue tahu nyokap itu orangnya suka ngedelek, ntar gue diledekin gini lagi: “Teleponan sama siapa? Udah jam berapa ini? Tidur!” Eh, itu mah bukan ngeledek, yak, tapi marah! Hahaha!


Gue tadinya mau ngintip ke jendela, tapi gue dikagetkan dengan suara lain yang sejujurnya asing banget di telinga gue.


“Halo.”
“Halo. Siapa, ya?”
*RYF,Tata,Yudipadaketawa*
“Halo.”
“Siapa, sih?”
*ketawanyatambah-tambah*
“Beneran nggak tahu. Siapa, sih?” Kalau ada cermin di depan muka gue, sudah dipastikan muka gue cengo’ banget!!!
“Ini beneran nggak tahu?” tanya RYF masih cekikikan.
“Siapa?” Gue melas.
“Ini Ijul,” ucap laki-laki yang sedari tadi gue nggak kenal suaranya itu.
“Oh, Ijul!!!”
“Kok, nggak tahu, sih?” tanya RYF yang sudah pasti heran.
“Iya, kan, nggak pernah denger suaranya lewat telepon,” kata gue polos.
Selama “bareng” sama Ijul, gue nggak pernah, tuh, teleponan sama dia, kecuali, kalau darurat banget. Contohnya, kalau gue lagi di tempat fotocopy, trus….. “Jul, fotocopy-nya berapa? Tadi si Gessy juga mau fotocopy materinya, boleh?” *ROTFL*
Gue memang bukan manusia yang suka teleponan. Aneh, kan?
Kemudian semuanya meledek gue. Suara Ijul terdengar sepatah-dua-patah kata.
Dan….. serius, suaranya Ijul merdu banget! Padahal bukan lagi nyanyi (secara, dia vokalis), dia cuma ngomong aja indah banget suaranya, whahaha!


Setelah tertawa karena meledek dan lain sebagainya, sampailah pada inti pembicaraan (gue lebih memperhatikan bagian ini, hahaha), yang maksudnya adalah ucapan ulang tahun buat gue.
Yang jadi moderator dalam pembicaraan ini, ya, RYF. Gue rasa, sih, ini udah diskenarioin, tapi whatever, lah. Gue jarang-jarang mendapati hal kayak gini :).


Dimulai dari Yudi, setelah ngucapin selamat ulang tahun, dia ngutarain permintaan yang ditujukan ke gue: Do’ain Yudi supaya mendapatkan gebetannya, dan semoga gue menggunakan sisa waktu dengan sebaik-baiknya.


Kedua Tata, ngucapin juga, kemudian minta gue untuk: jangan jauh-jauh, berkomunikasi dengan hati (hahaha, I know what you mean, Ta!), jangan berubah dan tetep jadi Sandra yang dia kenal.


Ketiga Ijul, setelah ngucapin, dia minta: jaga diri baik-baik, do’ain Ijul yang sebentar lagi mau TA (gue udah bayangin dia wisuda aja, hahahahahaha).


Lalu, keempat, RYF, sang moderator. Eh, tapi…………. pembicaraan jadi agak ngelantur, entah ini bagian dari skenario atau bukan. Sampai pada akhirnya RYF nggak ngasih tahu apa permintaannya.


Setelah permintaan dari mereka, gue lah yang gantian mengutarakan permintaan.
Selalu, kalau soal “mengutarakan-mengutarakan” gue awkward banget! Sampai akhirnya si Tata yang baik hati bilang: Sandra pengen dinyanyiin Ijul.
Si Ijul nanya nyanyi lagu apa? Tik tok tik tok. Gue bingung, hahahahahaha.
Untungnya Allah selalu memampirkan ide sekelibat.
“Nyanyi lagunya Project Pop, yang ‘kamu sangat berarti, istimewa di hati’.”
“Ingatlah hari ini!” tanggap RYF.
“Ayo, bareng-bareng!” ajak Ijul.
*nyanyibarengdengansuaradominanIjuldanRYF*
*guesenyum*


Lalu nggak lupa mengenai traktiran. Rencana traktiran dibicarakan dan diputuskan bersama. Kami akan bertemu tanggal 14 September di pecel lele depan kampus gue.
Sampai akhirnya pembicaraan kami berlima selesai karena ada sofa dan kulkas yang berantem (bagian ini disensor, ya! :p).


Tut… tut… tut! Teleponan berakhir di 00.55.


Oh, ya, di tengah teleponan berlima, nyokap gue ikut denger suara-suara aneh di luar rumah, dan bilang, “Di luar ada orang, tuh!” Sampai nyokap gue keluar kamar dan buka pintu rumah, pas balik nemuin gue, beliau bilang, “Ada kucing!” Woelaaaaaah! Hufttttt!


Pukul 01.05
Gue mengangkat handphone.
Suara dia lagi. Dengan kalimat pembuka, lalu inti pembicaraan.
“Tadi aku, kan, belum sebutin permintaan aku.”
“Emang apa?”
“Beneran mau denger?”
“He’eh”
“Permintaanku cuma dua kata.”
“Apa?”
*hening*
***


“Nungguin, ya?!”
“Iiiiiiih!”
*suaraketawadaribaliktelepon*
“Apaan?” ucap gue kepo.
“Jangan pergi!”
Jadi ini lah, hal “gila” yang daritadi gue tunggu-tunggu.
“Iya.”


11 September 2014
Malam hari, di Universitas Bhayangkara Jakarta Raya, kampus II – Bekasi
“Hai!” ucap gue menyapa Adit, Saqoh, Engkong, Dyah, Alex.
Dessy yang berjalan bareng gue, ikut duduk mendekati mereka.
“Saqoh, pizza-nya mana? Udah diambil di Bude?”
Pizza apaan, sih, San?” tanya Adit pakai nada sewot nggak jelas.
“Ih, lah, kita ngapain di sini?”
“Lah, kan, kata lo kita ngumpul di sini? Lo lupa?” tanya Dyah yang nggak biasanya ngomong kayak begitu.
Astagfirullah. Kalau ada cermin di depan muka gue (lagi), muka gue pasti kelihatan kebingungan.


Beberapa jam yang lalu…
Gue sampai di kampus bareng Dessy, dan bawa sekotak Pizza buat makan-makan bareng sahabat-sahabat kampus dalam rangka hari ultah gue. Gue minta tolong Saqoh buat bawain Pizza karena gue bingung bagaimana cara bawanya di tengah kerumunan anak kampus yang banyak (atau lebih dibilang malu atau nggak pede). Akhirnya Saqoh yang baik hati dan penolong bersedia bawain sekotak Pizza itu dan dibawanya ke kantin Bude, dititipin di situ.
Dan…. sebelumnya gue kirim pesan via multichat BBM supaya kami semua ngumpul pulang kuliah, supaya bisa makan Pizza bareng.
Balik lagi di tempat semula, lobi kampus.
“Lho, gimana, sih?” tanya gue, bingung.
“Apaan, sih, San?!” kata Adit yang bikin gue tambah nggak ngerti.


Tiba-tiba, dari belakang muncul sekotak kue bulat dengan lilin 2 dan 0 di atasnya. Lilinnya menyala dan dibawa oleh laki-laki berjulukan Beler. Kue dengan tulisan di atasnya: Lo jangan geer, San!
*nyanyilaguulangtahun*
*makeawish* *tiuplilin*
“Ini rencana Adit!” Entah siapa yang bilang.
“Enggak, ini dari kita semua,” kata Adit dengan nadanya yang amat gue kenal.
*speechless*
Mereka pada ngomong apa gitu, tapi gue nggak fokus.
“Ini kue Blueberry, kue kesukaan gue, jadi nanti bisa buat gue! Hahaha,” ledek Adit (kalau nggak salah, gue lupa! :p)
*potongkue*
Serius, kuenya lembut banget! Gue motongnya nggak pake usah pakai tenaga, udah kepotong kuenya #apasih.


Yap, potongan kue yang pertama.
“Potongan kue pertama buat siapa?”
“Dessy!”
“Nggak boleh cewek. Juga nggak boleh gue, Saqoh, atau Engkong!” ucap Alex.
“Ih!”
*padaketawa*
*handphonedengansettingvideodiaktifkan*
“Buat siapa, Sandra?” tanya Engkong sambil megang handphone gue, merekam.
“Adit.”
“Ciyeeeee!”
Ah, udah, ah, jangan diceritain. Hahahahahaha.
Nggak, nggak…
“Dengan cara begini, udah sebagai kado terindah, buat Sandra,” ceplos Alex, ngasal.
*guediem*
Dan…. akhirnya gue nyuapin Adit kue potongan pertama.
Kedua: Dessy. Ketiga: Dyah. Keempat: Alex. Kelima: Saqoh. Keenam: Engkong.
Alhamdulillah! That’s a specially moment for me!!!!!! :’)
*makanPizza*
*rapiinkueyangmasihada*
“Buat nyokap lo, San! Bilang, dari Adit!”


Setelah makan-makan, kami semua pun menuju motor masing-masing buat pulang.
Dyah gue tarik buat nemenin gue ambil motor di samping kampus, jauh -_-
“Ngapain Dyah ikut lo? Dyah jangan bareng lo, kejauhan!”
“Enggak. Dyah nemenin gue ambil motor!”
“Nggak usah. Dit, temenin Sandra, tuh!”
“Ayo, San!”
Gue menduduki jok belakang motor Adit. Berhenti di deket motor gue. Gue cantolin kue yang buat nyokap di motor, pake helm, hidupin mesin motor, dan mengendarai motor gue menuju gerbang bareng Adit. Yap, no voice selama cuma berdua sama Adit :p
Gue pulang.
Membawa kue Blueberry. Mengendarai motor menuju rumah.
Tidak merasakan apa-apa.
Hambar.
What’s happen with me?
Hahaha. Seperti yang Tata katakan, berkomunikasi dengan hati.
Gue….. belum bisa.
Permintaan yang gue pikir itu nggak mudah. Buktinya, gue nggak tahu, gue senang, sedih, terharu, atau apa?! Hambar. Apa gue mati rasa? Atau gue ini Aleksitimia (suatu kondisi ketidakmampuan individu untuk menghayati suasana perasaannya)? Hahahaha. Gue mulai ngawur.
Memang, semua spesial banget buat gue, tapi tanpa seseorang yang spesial, rasanya ada yang aneh.
Egois memang. Tapi hati gue yang merasakan.


Sampai tanggal 14 September tiba……………
Gue sakit tenggorokan. Kebanyakan pulang malem pas menjelang ospek, badan gue mulai lemah.
Tapi gue tetep berusaha ketemu sama RYF, Ijul, Tata, Nisa, Yudi.
Makan bareng mereka, bercanda bareng mereka, karaokean bareng mereka sampai pukul 23.00-an.
Pulangnya, gue dianter sama RYF dan Yudi sampai rumah. FYI, gue nggak pakai jaket.
Besoknya, gue beneran sakit, demam. Gue nggak masuk kerja di hari Senin.
Besoknya lagi gue masuk kerja, dengan badan yang masih kurang bersahabat.
Besoknya lagi gue nggak masuk kerja lagi.
Besoknya lagi gue nggak masuk kerja lagi.
Hari Kamis baru masuk kerja.
Gue kenapa?
Baru kali ini gue nggak masuk kerja 3 hari karena sakit dalam waktu yang hampir berurutan.
Sepertinya gue…………….. kecapek’an. Hehehe.


Cukup sekian cerita gue. Haha. Kalau ada kesalahan dalam penulisan dan dialog, gue minta maaf yang sebesar-besarnya, karena gue nggak bisa ingat persis perkataan tiap-tiap orangnya, mohon maklum :).
Thanks, Guys, udah sempetin baca! Kalau kalian mau kenal sama tokoh-tokoh yang ada di cerita gue, silakan tanya gue ke @sandrasasi. Whahaha. Macem selebtweet aja gue :p
Semoga ada pesan tersirat yang bisa menjadi pelajaran atau pesan buat kalian yang membacanya.
Setelah gue merasakan semua hal di atas, gue mengerti sesuatu.

Setiap orang punya tempatnya masing-masing. Ada yang ditempatkan sebagai sahabat, bahkan seolah seperti keluarga baru. Mereka semua spesial, kita berhak bahagia atas itu. Tidak usah dipikirkan harus merasa apa, berbahagialah. Hingga pada saatnya kita tahu: siapa yang paling istimewa, dan siapa yang hanya membawa pelajaran. Semua adalah yang terbaik yang Allah beri. Allah Maha Mengetahui, kan? :)
Sekali lagi, makasih :)!

Minggu, 02 November 2014

Menunggu

“Lo masih nungguin dia?” tanya laki-laki yang duduk berhadapan dengan kemudi, sesekali menatap perempuan di sebelah kirinya.
“Hah?” ucap Nia tersentak, seolah tidak mendengar.
Laki-laki itu mengulang pertanyaan walaupun ia tahu sebenarnya Nia sudah mendengar.

“Iya, lo masih nungguin Sigit?”
Perempuan itu menyelipkan helaian rambutnya di belakang telinga sambil mendesah kecil.
“Sampai kapan lo memendam perasaan, Nia? Lo nggak usah mikirin gue,” tutur laki-laki pengemudi itu lalu tertawa kecil.
“Lo kenapa nanya-nanya, sih? Udah nyetir aja!”
“Lho, memangnya kenapa kalau menyetir sambil ngobrol?”
“Nanti lo nggak fokus nyetir! Lo, kan, juga lagi bawa satu nyawa, kalau kenapa-kenapa gimana?”
“Heh, kita itu dikasih otak yang super hebat tahu! Mestinya otak bisa dipakai buat mengerjakan beberapa pekerjaan sekaligus, sayang kalau dipakai beberapa persen doang!”
“Wira, please, deh!” kata Nia sebal. Laki-laki di sebelah kanannya itu memang lebih cerdas darinya, Wira selalu punya pernyataan yang sulit disangkal.
“Nia, kita harus kayak Albert Einstein, Thomas Alfa Edison, atau penemu-penemu lainnya, memaksimalkan kinerja otak. Nah, jadi gue ngelakuin ini supaya…….”
“Setop! Iya, iya! Tapi sebenernya kita ini mau ke mana, sih? Gue, kan, lo culik tadi, tapi lo nggak bilang kita mau ke mana, gue telepon polisi, nih!”
“Polisi, kan, nggak kenal gue, buat apa lo telepon dia. Mending lo jawab pertanyaan gu e yang tadi, deh. Lo masih nungguin Sigit?”
“Menurut lo?”
“Masih lah! Terakhir gue denger cerita lo, lo seneng banget bisa ketemu dia di Rabu malam. Lo bilang dia matanya berbinar banget, dan lo selalu teduh melihatnya. Dari situ gue tahu kalau lo masih nunggu dia, nunggu dia peka sama lo. Nunggu dia nggak cuma nganggep lo temen. Ya, kan?”
“Ah, lo sok tahu.”

Wira tertawa lagi. Ia mengemudikan mobilnya melintasi jalan satu arah yang sepi. Sementara Nia memilih mengalihkan pandangannya ke jendela, memandang hamparan rumput dan tanah kosong yang ia dan Wira lalui. Nia berharap pertanyaan Wira tidak perlu dijawab.
Mobil melaju cukup kencang, lalu berbelok ke kanan dan melewati jalan yang lebih sempit. Wira menginjak pedal rem, mobil pun berhenti.

“Kita sudah sampai,” kata Wira dengan nada suara yang hampir tidak terdengar oleh Nia.
“Kita ini di depan rumah siapa?”
“Coba tebak!”
“Gue kenal?”
“Kenal banget lah! Dia juga kenal lo! Keluar saja, temui orang di dalam rumahnya!”
Nia bingung. Tapi ia tetap membuka pintu mobil, melangkah keluar, dan berjalan dua langkah. Ia memandangi teras rumah itu. Terdapat satu buah meja dan dua buah kursi yang terbuat dari kayu. Tiba-tiba Nia melihat seseorang duduk di salah satu bangku itu.

Sigit.
Nia melihat sosok Sigit tersenyum menghadapnya. Jantung Nia terasa berdegup lebih cepat. Nia melambaikan tangannya namun tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Baru saja Nia ingin mendekat, namun dalam hitungan lima detik, Nia malah mengucek kedua matanya.
“Hah?” teriak Nia sendirian.

Nia langsung terburu-buru ke arah mobil, membuka pintu, langsung duduk, dan menutup pintu dengan tenaga yang cukup kencang.
“Lo kenapa?” tanya Wira panik. Sejauh ia melihat Nia lewat kaca di hadapannya, nampaknya Nia tidak melakukan apa-apa selain melambaikan tangan.
Nia diam, namun dengan muka yang amat tegang dan serius.
“Lo tadi melambaikan tangan sama siapa?”
“Gue mau pulang, Ra. Gue takut.”
“Takut apa, Nia? Lo jangan horor, dong!”
“Gue kayaknya udah terlalu menyimpan perasaan, sampai-sampai gue….. punya ilusi hati yang bener-bener berlebihan, Ra. Gue takut.”

Wira mengambilkan sekaleng minuman bersoda pada Nia.
“Gue cuma punya ini di mobil, nggak ada air putih. Sekarang lo minum dulu, biar tenang!”
Nia mengikuti perintah Wira. Wajahnya berubah, tidak setegang tadi.
“Gue tadi melihat Sigit di teras rumah itu. Tapi ternyata gue cuma berilusi, Ra. Sebenernya Sigit nggak ada di situ. Lagipula itu rumah siapa saja gue nggak tahu. Tadi gue kira itu rumah Sigit. Wira, kita pulang saja, ya!”
“Nia,  sebenernya itu rumah Sigit. Gue memang bawa lo ke rumah dia. Sudah sampai sini, kok, malah minta pulang?!”
“Enggak, tetep saja gue nggak mau, Ra. Kita pulang saja! Percuma, gue cuma berilusi doang, nggak mungkin dia mau menyapa gue seperti yang tadi gue bayangin sendiri. Dia nggak seramah itu sama gue. Gue nggak mau termakan ilusi hati kayak gini, Ra. Gue tersiksa!”
“Yakin mau pulang?”
“Iya.”
“Lo nggak nungguin dia keluar dari rumahnya?”
“Nggak.”
“Bentar lagi dia keluar kali, tungguin saja!”
“Nggak mau.”
“Sudah sejauh ini, lho!”
“Nggak bisa, Ra. Dia bukan buat gue.”
“Lo nggak usah mikirin gue, gue nggak apa-apa. Walaupun memang gue sayang banget sama lo, tapi gue tahu lo menunggu siapa. Gue mau bantuin lo untuk melakukan hal lain selain menunggu, gue mau lo menemuinya. Makanya gue ajak…..”
“Ra! Ayo pulang!”
“Tapi……”
“Ra, gue mau pulang sama lo. Gue sadar, kok, sama semua yang lo lakuin ke gue. Gue tahu lo begitu pedulinya sama gue, sampai-sampai lo malah nganterin gue ke rumah Sigit. Tapi sekarang gue sadar, Ra. Sigit bukan buat gue, dia nggak ada buat gue. Yang sekarang gue mau adalah pulang sama lo!” ucap Nia dengan nada yang makin lama makin meninggi, lalu bulir air dari matanya jatuh. Nia berusaha mengatur napas, namun gagal karena menangis.
“Orang yang gue tunggu belum tentu juga menunggu gue, Ra. Gue nyerah.”
Sebenarnya Wira ingin sekali memeluk Nia, namun ia menahan niatnya itu. Wira tidak mau Nia malah menjadi marah. Wira hanya menatap nanar Nia yang sedang menjadi lemah.
“Maafin gue, Ra. Ayo kita pulang!” ucap Nia sambil….. memeluk Wira.


Note:
Sebenarnya Wira bohong. Ia tidak membawa Nia ke rumah Sigit. Bahkan Wira sendiri tidak tahu itu rumah siapa. Yang benar: Wira sangat menyayangi Nia.

Apalah Arti Menunggu?

Ini bukan soal judul lagunya Raisa, soalnya sekarang yang lagi booming judulnya LDR (apa, sih!).
Ini soal arti dari kata “menunggu”, tapi nggak pakai KBBI.
Jadi, gini…
Kata orang, pekerjaan yang paling membosankan adalah menunggu.

Life-is-to-short-2014-quote
Kata gambar di atas, “Life is too short to wait” yang punya makna kalau hidup itu terlalu singkat, jadi sangat sayang kalau digunain buat menunggu.

Wait, wait!
Coba, deh, dipikir dan ditelaah lagi! Kenapa? Mungkin ada yang nggak sesuai sama teori-teori yang gue sebutkan di atas.

Sebelumnya, coba inget-inget dulu apa saja, sih, yang masuk kategori “menunggu”?
Menunggu mie instan matang dan siap buat disantap
Menunggu cairan tipe-x mengering di kertas
Menunggu kereta atau bus dateng untuk mengantar kita ke tempat tujuan
Menunggu seseorang di sebuah cafe atas janji yang sudah disepakati sebelumnya
Menunggu film favorit (yang masih “coming soon”) tayang di bioskop
Menunggu mantan mau maafin kesalahan dan balikan *eh
Menunggu gebetan putus dari pacarnya *eh
Oke, segitu saja.

Dari contoh-contoh itu, ada yang sadar nggak, kalau menunggu adalah suatu tindakan/action?
Yap, menunggu itu bukan cuma berdiam diri. Menunggu adalah sebuah tindakan nyata yang kita sadari. Menunggu itu bukan membuang waktu, menunggu itu bagian dari proses atau usaha mencapai sesuatu.

Waktu kita mau makan mie instan, kita meracik mie tersebut sesuai petunjuk, lalu kita masih harus nungguin mie itu matang. Walaupun lamanya nggak lama-lama-banget, tapi tetep saja menunggu itu adalah proses supaya mie itu benar-benar matang dan bisa dimakan.

Waktu kita pakai tipe-x buat menghapus tinta pulpen di kertas, jelas harus menunggu cairannya mengering , kan? Supaya setelah itu bisa menimpanya dengan tulisan (tinta pulpen) yang baru. Kalau kita nggak nunggu? Ya, siap-siap saja pulpennya bakal nggak nyata karena terkena cairan tipe-x yang belum kering, atau cairan tipe-x yang nggak rata keringnya di kertas, membuat nggak rapi untuk ditimpa tulisan baru.

Waktu nunggu kereta atau bus, seseorang, film “coming soon”, juga merupakan usaha atau proses yang nggak bisa dipungkiri. Soalnya, kalau kita nggak merelakan diri untuk menunggu, kita malah nggak dapat apa-apa, kan?
;)
Jadi, tenang, Guys, kalau kalian harus banget melakukan suatu tindakan bernama “menunggu”. Karena setelah gue telaah, menunggu bukan sesuatu yang sia-sia, itu bagian dari proses. Cuma sayangnya, nggak sedikit orang yang nggak sabaran, banyak orang yang maunya apa-apa cepet. Sebenarnya ada cara yang lebih tepat supaya “menunggu” itu jadi nggak terasa.

Misalnya, pas lagi nunggu kereta atau bus, bisa dimanfaatin buat mainan games di handphone, atau baca novel, atau teleponan sama pacar, haha. Pas lagi masak mie instan, nonton tv dulu sebentar, tapi jangan kelamaan, bisa-bisa mie-nya bonyok, haha. Pas lagi…..ah, kalian sendiri juga tahu lah!

Tapi, ada catatan, nih! Menunggu itu juga harus rasional dan realistis. Kalau menunggu mie instan matang, ya, jelas, mie-nya memang sedang dimasak di panci yang berisi air dan dipanaskan di atas kompor. Kalian menunggu sesuatu yang nggak sia-sia.

Kalau menunggu mantan balik lagi ke kita? Hmmm. Coba pikir lagi, deh! Kita lagi nunggu seseorang yang juga nunggu kita nggak? :p Kalau dianya udah nggak mikirin kita, udah nggak peduli sama kita, apalagi dia udah punya pacar baru, lebih baik menunggunya disudahi saja, supaya tidak ada yang sia-sia.

Tapi kalau memang masih mau balikan, usaha yang bisa dilakukan bukan menunggu, tapi bertindak lain. Bertindak apa? Ya, itu, sih, kalian yang tahu, karena kalian yang ngejalanin, yang tahu titik masalahnya, yang tahu apa yang harus diperbaiki. Jadi, bertindaklah dengan cara lain, karena menunggu bukan cara yang tepat.
Ya, sekali lagi, menunggu itu bagian dari proses, jadi harus ditempatkan di tempat yang tepat. Ada yang harus ada menunggu-nya, yang juga yang enggak. Karena menunggu itu sebenarnya menyempurnakan pencapaian. Sebab kalau kita sering gegabah dan terlalu terburu-buru mengambil keputusan, bisa jadi kita salah pencapaian.

Menunggulah jika itu cara terbaik mencapai yang terbaik.
Bahkan, “Hidup terlalu singkat untuk menunggu” itu kurang tepat. Kenapa? Pertama, hidup di dunia itu memang benar-benar singkat. Kedua, kita semua memang sedang menunggu, menunggu giliran meninggalkan kehidupan dunia yang singkat ini.
Sekian.

Saya menunggu komentar kalian! :p