Tampilkan postingan dengan label Lomba. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lomba. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Juli 2014

Surat dari Tita untuk Adit

Untuk: Adit

Selamat pagi, matahariku. Akhirnya aku bisa menyapa pagimu, walau hanya lewat surat ini.

Sebenarnya aku bingung akan memulai suratku dari mana, tapi ada sesuatu yang bergejolak dalam diriku yang memaksaku untuk tetap menulis surat ini. Melalui surat ini aku ingin menyatakan sesuatu tentangmu.

Aku Tita, seseorang yang selalu memperhatikanmu, entah dari dekat atau dari jauh. Aku yang selalu tersenyum terpaksa saat bertemu atau berpapasan denganmu. Kamu tahu kenapa aku terpaksa? Tentu karena aku sebenarnya malu. Saat itu juga, dunia seolah berhenti berotasi, waktu terasa menghentikan detaknya, kakiku lemas seketika dan lemah untuk berdiri, kemudian aku bingung harus melakukan apa. Tapi saat kamu membalas senyumku dengan senyuman, aku selalu merasakan kesejukan, lalu matamu terlalu menyilaukan untukku.

Aku sangat bersyukur. Mengenalmu seperti anugerah terindah dalam hidupku. Mungkin kamu hanya ada 1 di dunia. Aku begitu bahagia dan banyak hal lain yang ada padamu yang membuatku bahagia. Walau kamu punya kekurangan, tapi aku paham, bukankah tidak ada manusia yang benar-benar sempurna? Bukankah saling melengkapi itu lebih romantis? Hmmm, bisakah kita?

Dit, aku tahu kebiasaanmu, kamu sering memuji dirimu sendiri. Padahal sebenarnya tanpa memuji pun kamu memang sudah begitu adanya, menawan. Bukan, bukan karena menawan aku jadi menyukaimu. Tapi karena aku menyukaimu, kamu jadi tampak menawan di mataku, sangat.

Dit, aku agak bingung akhir-akhir ini. Apa-apa yang kamu lakukan dan itu tertuju padaku, menjadi bergerak perlahan. Dari bangku sebelah yang kamu duduki, aku menyaksikanmu memberikan pulpen pada aku --yang duduk tepat di sampingmu, dengan gerakan yang tampak melambat. Berjalan perlahan dan akhirnya sampai di tanganku. Apa itu hanya perasaanku saja, ya?

Kamu pasti bingung sekarang. Padahal, sebelumnya aku kan membencimu. Benci dengan sikapmu yang cuek dan menyebalkan. Tapi Tuhan menciptakan banyak kebetulan, sampai pada akhirnya rasa benci itu mengganti dirinya menjadi rasa sayang. Kamu percaya?

Entah petunjuk dari mana, tapi aku yakin suatu saat kamu pasti akan menyatakan sesuatu padaku. Di manapun kamu menyatakan perasaanmu tentangku, entah itu di Paris --dekat Menara Eiffel, atau di bangku taman dekat rumahku, aku tetap bahagia. Kamu membawa mawar putih atau hanya sekadar datang dengan tangan kosong, aku tetap bersyukur. Dan apa pun perasaan yang kamu nyatakan kelak, baik atau buruk, aku akan tetap tersenyum, dengan atau tanpa air mata.

Terima kasih sudah membaca suratku.


Adit, aku sayang kamu, sayang.





Tita


***


(Surat ini diikutsertakan untuk tantangan #SuratCintaEiffel Adit-Tita @bentangpustaka)

Minggu, 15 Juni 2014

Surat untuk Ayah

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Teruntuk ayah yang aku panggil dengan sebutan “Papa”.

Selamat malam, Pa! Bagaimana kabar Papa? Pasti baik :)

Selamat Hari Ayah, ya, Pa! Selamat harinya Papa, selamat harinya pria terhebat dalam hidupku. Hal yang ingin aku ucapkan terlebih dahulu: aku rindu Papa, rindu sekali, teramat rindu. Papa sedang apa di sana? Apa Papa juga merindukanku? Kapan kita bisa bertemu, Pa?

Anakmu yang manja ini sedang senang-senangnya menulis. Jadi, anak semata wayangmu ini menulis surat ini untuk Papa. Surat ini aku tulis sambil mendengarkan instrumen lagu kesukaanku, lho. Lagu yang selalu mengingatkan masa kecilku, Pa. Dulu Papa selalu tampil khas dengan perhatian yang tidak terlalu tampak, tapi selalu sukses menyentuh hatiku. Mungkin setiap ayah di dunia begitu. Cuek tapi perhatian, dengan cara mereka sendiri. Juga papa.

Perhatian Papa sungguh sederhana. Mengajariku mengendarai sepeda, mengajariku berenang, mengajariku membaca komik dan menonton kartun, membenarkan aku menghitung matematika, lalu.... Ah, banyak sekali perhatian sederhanamu, Pa. Semua pemberian Papa istimewa sekali bagiku, karena Papa yang pertama menjadi pria teromantis di duniaku.

Pa, sekarang aku sudah akan dewasa. Aku tidak akan sebesar ini jika tanpa bantuan Papa. Aku tidak akan jadi apa-apa seperti sekarang, kalau Papa tidak mengajariku banyak hal. Sekarang, Papa jangan lelah-lelah, ya. Sebab aku akan berusaha, Pa. Berusaha menjadi anak yang Papa banggakan. Aku akan berjuang untuk meraih cita-citaku, Pa.

Pa, Papa sangat beruntung, Papa dicintai oleh malaikat dunia yang juga sangat spesial untukku: Mama. Aku yakin Mama juga sangat merindukan Papa. Sangat, Pa. Tapi Mama jauh lebih tegar dari aku. Mama tidak menunjukkan kesepian dan kesendiriannya. Mama tetap bersemangat untuk membahagiakan aku, seperti Papa membahagiakanku. Aku sangat beruntung memiliki ibu dan ayah seperti Mama dan Papa. Alhamdulillah.

Papa, bagaimana aku mengucapkan terima kasih yang teramat sangat padamu?

Jiwamu masih terasa ada, Pa. Seolah menyemangatiku dan menguatkan Mama. Walau di rumah yang berbeda, kami masih menggantungkan bingkai dengan foto Papa di dinding. Foto hitam putih Papa yang masih terlihat amat sehat. Aku senang melihat senyum Papa di foto itu. Lagi-lagi, Papa pria pertama yang tertampan di duniaku.

Pa, sebenarnya aku tidak kuat mengetik surat ini. Aku benar-benar merindukan Papa. Air mataku tiba-tiba keluar mengalir. Maaf, ya, Pa, aku masih cengeng sampai sekarang.

Aku sangat jarang pergi ke laut, Pa. Maka maafkan aku yang tidak tahu bagaimana cara bertemu Papa. Aku tidak bisa membawakan bunga untuk Papa. Tapi do’aku mudah-mudahan bisa menjadi penawar rindu antara aku dan Papa. Semoga do’aku memberi bahagia dan ketenangan untuk Papa. Semoga Tuhan selalu mendengar setiap do’a untuk Papa.

Aku sangat mencintaimu, Papa. Aku sangat merindukanmu. Papa baik-baik, ya, Pa.

Semoga surat ini sampai ke surga.


Wassalamu'alaikum Wr. Wb.




Salam manis dari anak pertama dan terakhirmu,




Sandra

Rabu, 28 Mei 2014

My Inspiration

Tahun 2012, saat sedang booming-booming-nya Film Negeri 5 Menara, saya dan teman-teman saya berencana untuk menonton film itu. Salah satu teman saya bernama Ani, menjelaskan saya sekilas trailer film itu. “Yuk, San, kita nonton Negeri 5 Menara, ceritanya bagus, pokoknya di akhirnya mereka bisa berada di dekat menara masing-masing negara impian mereka. Pemainnya ada orang blasteran, namanya Gazza Zubizareta,” kata Ani di bangku sebelahku.

Maka saya, Ani, dan beberapa teman lainnya pun menuju Mall yang paling dekat dengan sekolah. Kami ke sana sepulang sekolah dengan baju seragam putih abu-abu yang masih kami kenakan. Sebenarnya, uang saya sangat pas-pas-an. Saya sampai tidak ikut makan sembari menunggu bioskopnya buka (kami terlalu cepat datang), saya hanya duduk di depan bioskop bersama Ani. Hanya duduk.

Film dimulai. Saya yang saat itu masih sangat jarang nonton bioskop sudah pasti tercengang-cengang karena gambar dan suara yang amat jelas. Bukan hanya karena gambar dan suaranya, tapi ceritanya sungguh menggetarkan hati.

Saat itu kebetulan saya kelas 3 SMK. Saya akan lulus dan sedang menentukan pilihan selanjutnya. Sebagai anak SMK, pilihan hidup setelah sekolah ada 2, kerja atau kuliah (atau menikah? Hehe). Sungguh saya bingung sekali. Saya sebenarnya ingin sekali kuliah, tapi saya sangat mengerti keadaan dan kondisi ekonomi keluarga, maka saya berusaha keras untuk mengurung niat itu. Kata Ibu, saya harus bekerja, harus.

Setelah menonton film Negeri 5 Menara, saya memikirkan sesuatu. Saya teringat akan mantra “Man Jadda wajada”: siapa yang bersungguh-sungguh, ia pasti akan berhasil. Bukan siapa yang paling tajam, tapi siapa yang paling bersungguh-sungguh. Saya juga ingat dengan adegan Alif yang pantang menyerah, walaupun masuk Pondok Madani bukanlah keinginannya, ia tetap menjalani kehidupannya di sana. Hal yang membuat saya kagum adalah saat Alif menetapkan untuk masuk ekstrakulikuler Majalah Syams. Entah kenapa saya merasa ada yang menggetarkan hati saya saat melihat kegigihan Alif menjalankan tugasnya di ekstrakulikuler itu. Dari ketidaknyamanannya di Pondok Madani, Alif masih bisa berpikir untuk mengikuti ektrakulikuler yang ia sukai. Bahkan di akhir film, ia dan teman-temannya benar-benar bisa berada di negara impian mereka. Saya berpikir begini: tidak apa jika kita mendapat sesuatu yang tidak sesuai dengan mau kita, karena sebenarnya kita masih punya celah dan kesempatan untuk menikmati sesuatu yang kita inginkan. Dan semua yang kita terima, akan bermanfaat kemudian, sepahit apa pun itu.

Lalu jika dikaitkan dengan kehidupan saya? Saya tidak bisa berkuliah tahun itu. Berkali-kali saya jelaskan tentang mimpi-mimpi saya pada Ibu, tetap saja tidak bisa. Saya juga sadar, seharusnya saya mencari uang saja, karena sampai SMK saya sudah dibiayai sekolah oleh Ibu saya yang berjuang mencari nafkah sendirian (tanpa suami). Akhirnya saya memutuskan untuk bekerja. Saya melamar dan ikut tes sana-sini. Kemudian bulan Mei 2012, saya diterima bekerja di perusahaan swasta kecil menengah di kota Bekasi.

Pengumuman SNMPTN tiba, dan saya benar-benar gagal kuliah. Saya memilih Universitas Indonesia dan Universitas Negeri Jakarta, dan tidak lolos di kedua tempat itu. Saya benar-benar gagal saat itu.

Saya menjalani kerja dengan setengah hati. Sungguh tidak mengasyikkan. Tiap pagi bangun, siap-siap, berangkat, kerja sampai sore, lalu pulang. Begitu terus dari hari Senin sampai Jum’at. Hari Sabtu dan Minggu adalah waktu saya mengurung diri di rumah, saya tidak punya teman selain teman-teman di sekolah. Susah jika ingin bertemu dan bermain dengan mereka, mereka sudah sibuk dengan kehidupan mereka masing-masing. Dan tentu saja di antara mereka ada yang sudah jadi anak kuliah, membuat saya iri tak karuan. Tidak boleh, tidak boleh, batin saya.

Beruntungnya, saya punya handphone dan notebook yang spesifikasi untuk internetnya cukup baik. Jadi saya selalu mencari tahu tentang SBMPTN. Sebenarnya saya belum benar-benar merelakan Universitas Negeri. Saya masih ingin mengikuti SBMPTN. Tapi sampai pada hari SBMPTN tiba pun saya tetap tidak ikut. Saya masih bimbang dengan keadaan yang tidak memungkinkan. Kemudian saya berniat untuk mengikuti SNMPTN atau SBMPTN tahun depan, tahun 2013.

Saya mengikuti TO yang diselenggarakan UI dan bertempat di salah satu SMA Negeri Bekasi. Jujur, sebenarnya saya linglung. Saya ikut TO hanya bersama satu teman saya yang sebaya. Selebihnya adalah anak-anak yang masih SMA/SMK. Nekat betul saya!

Saya sering sekali menghabiskan waktu untuk mencari informasi seputar SBMPTN, atau tentang “anak kuliah”. Saya penasaran: Apa, sih, yang anak kuliah lakukan? Tujuan jadi anak kuliah itu apa?

Kemudian saya menemukan novel “Ranah 3 Warna”. Novel itu saya temukan di toko buku. Novel itu bukan pertama kalinya saya lihat. Tapi dulu –saat masih sekolah, saya belum bisa membeli novel itu dengan uang saya sendiri. Maka saya baru bisa membelinya saat sudah bekerja.

Saya bawa pulang novel itu, dan sungguh mengejutkan! Novel kelanjutan dari cerita film Negeri 5 Menara yang pernah saya tonton ini sesuai dengan keadaan saya. Saya membaca novel itu setiap pulang kerja. Saya jadi lebih semangat bekerja, hmmm, semangat untuk cepat-cepat pulang dan bisa membaca novel itu sampai habis. Dan, sungguh menakjubkan!

Saya masih bersemangat ikut SBMPTN. Saya masih mencari tahu tentang anak kuliah. Saya masih searching universitas dan jurusan yang sesuai. Saya masih mendalami novel Ranah 3 Warna.

Kemudian...

Otak saya berpikir keras. Kalau masuk Universitas Negeri, kerjanya ditinggalin, dong? Kalau kuliah doang, nanti biayanya dari Ibu semua? Nggak kasihan? Kalau kuliah jauh-jauh, ninggalin Ibu sendirian, dong? Kalau jadi anak kos memangnya bisa?

Ya Allah..............

“Man Shabara Zhafira”: siapa yang bersabar, ia pasti akan beruntung. Kalimat di novel Ranah 3 Warna memang membuat saya serasa jleb. Saya harus sabar. Saya tidak boleh egois. Saya tidak boleh mengeluh terus: ‘saya mau kuliah, saya mau kuliah’.

Kisah Alif di novel Ranah 3 Warna lebih menegangkan dari film Negeri 5 Menara. Cobaannya makin banyak. Rintangan silih berganti. Hal yang membuat saya kagum dari kisah itu adalah saat Alif berusaha mengirimkan tulisannya ke media cetak koran dan dibimbing oleh seniornya. Lagi-lagi, entah kenapa saya merasa hati saya bergetar. Apalagi saat Alif bisa ke Kanada, sungguh keren! Dan cerita tentang ayahnya, membuat saya merindukan ayah saya yang juga sudah pergi jauh. Lengkap sekali.

Dari cerita-cerita itu membuat saya merasa saya harus lebih kuat. Saya pasti bisa mendapatkan sesuatu yang saya inginkan bila saya berusaha sungguh-sungguh dan juga bersabar. Kisah Ranah 3 Warna sukses menyemangati dan memotivasi.

Lalu di saat menjelang bulan SBMPTN, saya membeli novel pelengkap Trilogi Negeri 5 Menara: “Rantau 1 Muara”.

Spesial dan istimewa sekali untuk saya. Setelah kisah perjuangan Alif jadi sarjana, novel Rantau 1 Muara menceritakan kisah Alif yang sudah bekerja, dan pekerjaan Alif sangat menggiurkan. Lagi-lagi, entah kenapa saya merasa hati saya bergetar. Alif bekerja sebagai jurnalis. Alif juga mendapat beasiswa dan bekerja di Washington DC. Alif mendapatkan pasangan hidupnya dan kisah Alif-Dinara terasa so sweet!

Sementara itu, setelah beberapa lama saya mencari, menimbang, dan menelaah lebih dalam, saya membuat suatu keputusan. Saya akan tetap bekerja, tapi saya juga akan tetap kuliah. Impian saya, menjadi seorang mahasiswi, harus tetap tercapai. Akhirnya setelah browsing dan bertanya-tanya seputar universitas dan jurusannya, saya membuat suatu keputusan.

Saya tidak jadi mengikuti SBMPTN 2013. Saya akan bekerja sambil kuliah di  Universitas Swasta di Bekasi, mengambil jurusan Ilmu Komunikasi, kelak akan mengambil konsentrasi Jurnalistik. Saya ingin jadi jurnalis, seperti Alif.

***

Ya, itulah yang saya alami selama memahami isi Trilogi Negeri 5 Menara (walaupun novel Negeri 5 Menara tidak saya baca, hanya menonton filmnya). Pada akhirnya, saya mengetahui “Man Saara Ala Darbi Washala”: siapa yang berjalan di jalannya akan sampai di tujuan.

Saya mengerti mengapa hati saya selalu bergetar menonton dan membaca cerita Alif saat berusaha menulis. Ternyata menulis adalah keinginan saya, impian saya. Saya sekarang sudah menjadi mahasiswi jurusan Ilmu Komunikasi. Alhamdulillah, cita-cita saya menjadi mahasiswi sudah tercapai. Dan saya memiliki cita-cita selanjutnya. Saya ingin menjadi jurnalis dan juga, hmmm, penulis! Ingin seperti author of Trilogi Negeri 5 Menara, A. Fuadi. Bismillaahirrahmaanirrahim!

Semoga saya bisa terus berusaha dan gigih mencapai cita-cita saya selanjutnya, semoga cita-cita saya menjadi nyata, juga cinta saya, Aamiin. Allahu Akbar!
Man Jadda wajada!
Man Shabara Zhafira!


Man Saara Ala Darbi Washala!

Selasa, 01 April 2014

Surat untuk Mantan

Dari   : Sandra
Untuk  : Mantan
Hai, Mantan! Apa kabar? Aku harap kamu selalu baik-baik saja. Sudah lama, ya, aku tidak menyapamu. Kita sudah terpisah cukup lama. Coba aku hitung: satu, dua. Hm, kira-kira sudah 2 tahun kita berpisah. Memang, sih, kita masih di kota yang sama, tapi tetap saja kita itu jauh. Hehe.
Aku ingat saat pertama kali bertemu denganmu. Kita bertemu di ruang bernomor 17. Kita dipertemukan dalam rapat OSIS angkatan kita yang pertama kalinya. Awalnya aku hanya tahu namamu, kamu disebutkan satu kepanitiaan denganku. Aku bertanya siapa pemilik namamu kepada orang yang duduk di belakangku, lalu ia menunjuk orang yang duduk di sebelahnya, dan ternyata itu kamu. Kita pun berkenalan.
Satu kepanitiaan denganmu adalah pengalaman baru bagiku. Aku belajar banyak bagaimana cara menjadi panitia acara lomba. Kita sibuk membuat teknis lomba, mencari juri, dan mempersiapkan semua hal yang dibutuhkan. Sampai pada hari pelaksanaan, kamu malah izin tidak datang karena kamu sedang sakit cacar. "Semoga lekas sembuh," ucapku saat itu.
Setelah lomba itu, kita lebih diberikan waktu untuk saling dekat. Aku dan kamu mendapat piket Kantin Kejujuran pada hari yang sama, hari Rabu. Aku dan kamu harus datang ke sekolah lebih pagi, saat kantin belum buka, saat guru dan murid belum banyak yang datang. Aku ingat saat kita berusaha menggantungkan sekantong besar jajanan di dinding kantin. Aku yang memegang pakunya, kamu yang memakunya. Aku kurang ingat saat itu kamu menggunakan apa untuk memaku, sepertinya dengan batu. Hehe.
Setelah berbulan-bulan sering bertemu dan berkomunikasi denganmu, aku semakin mengenalmu, termasuk tentang keluargamu. Aku mengetahui bahwa kamu anak piatu. Sedangkan aku sendiri anak yatim. Kita pun sama-sama anak semata wayang. Dari segala yang kamu ceritakan, aku sangat paham keadaanmu, karena aku juga merasakannya. Lalu, kamu mengingatkan aku untuk tidak mengecewakan Ibu yang masih ada di dekatku. Aku pun ingin kamu menjaga ayahmu.
Semenjak mengenalmu, aku menjadi orang yang suka nekat. Contohnya, saat kamu ulang tahun. Di hari ulang tahunmu tahun 2010, aku mencari tasmu di sela waktu antara habis upacara dan jam pelajaran pertama. Aku memasukkan sekotak brownies sebagai hadiah ulang tahunmu. Apakah kamu juga menjadi orang yang suka nekat? Sebab di hari ulang tahunku di tahun yang sama, kamu memberiku sebuah rekaman suara merdumu. Kamu menyanyikan lagu "Happy Birthday" dan beberapa lagu lainnya. Sungguh hadiah yang mengharukan.
Kamu pasti tahu salah satu buah kesukaanku, kan? Ya, semangka. Aku suka semangka karena buah itu banyak airnya sehingga terasa sangat segar, apalagi kalau sudah didinginkan di kulkas. Kamu tahu? Kala setiap pagi aku sampai di sekolah, jika aku menemukanmu serta kamu tersenyum dan menyapa, bagiku itulah semangka di pagi hari. Haha.
Kita pernah pergi ke acara ulang tahun teman kita. Saat setelah adzan berkumandang, kita menuju mushola yang tidak jauh dari rumah teman kita itu. Kamu yang hendak berwudhu meminta tolong aku untuk memegangi jaket hitammu. Aku pun mengambil jaketmu, aku lipat membungkus lengan kiriku, dan aku lekap. Wangi sekali jaketmu. Hidungku cepat menangkap wanginya dan aku tersenyum.
Aku tahu kamu sangat suka bernyanyi. Kamu juga tahu aku suka. Kamu pernah mengajakku ke studio musik dan mengajakku latihan band di sana. Sepulangnya, kamu memberiku sebungkus apel merah, buah kesukaanku, selain semangka. Kamu juga seorang vokalis Nasyid yang selalu bernyanyi dengan sejuk. Setiap kamu selesai bernyanyi, banyak pasang mata yang berbinar. Kita juga pernah bernyanyi bersama, entah itu saat iseng, atau saat latihan padus, atau saat tampil padus di acara Pentas Seni. Aku ingat kita diberi kesempatan untuk bernyanyi 'berdua saja' dalam padus. Aku jadi Gea Idol, kamu jadi Dirly Idol. Selain bernyanyi, aku juga suka menulis. Aku pernah menulis tentangmu: "Kau adalah musikku, dan musikku adalah kau."
Tapi,
semua adalah rangkaian kisah yang pernah terjadi. Putaran film indah yang punya durasi. Sekarang semua itu bernama kenangan. Apa kamu kira aku melupakan semuanya? Tentu saja tidak. Tuhan Maha Besar, menciptakan otak yang dapat menyimpan memori, termasuk memori tentang kita. Saat aku melihat tukang es krim durian, aku ingat kamu, karena itu es krim kesukaanmu. Saat aku melewati Jalan Perjuangan, Bekasi, aku ingat kamu juga, itu jalan menuju rumahmu. Saat aku........ Ah, sudahlah.
Pernah, di ratusan hari kita telah terpisah, suatu hari aku mendapatimu di sebuah jalan raya. Aku mengetahui kamu karena aku melihat plat nomor belakang motormu, ternyata aku hapal. Saat itu seketika seolah waktu berhenti. Seolah yang berada di jalan raya itu hanya aku dan kamu. Aku tersentak, terkejut, dan bibirku kelu. Aku ingin sekali memanggil, berteriak, menyebutkan namamu, tapi aku tidak bisa. Kendaraan yang padat membuat aku mencari celah untuk melaju. Sampai pada akhirnya kita berpisah (lagi), tanpa menyapa. Tapi aku sudah senang bisa bertemu kamu barang sebentar.
Mantan, dengan surat ini sebenarnya aku hanya ingin bercerita tentang bahagianya aku mengenalmu. Tentang kisah yang terukir cantik dan mempesona. Walau pada durasi terakhir, kita terpecah. Aku tahu, aku yang salah. Aku yang memberi sebuah keputusan yang setiap insan pun tidak ada yang menyukainya. Aku yang salah. Aku minta maaf atas segala kebodohanku. Seandainya saja aku tidak seegois itu.
Aku tahu kamu baik, sangat baik. Maka aku utarakan juga rasa terima kasihku. Terima kasih telah menjadikan aku lebih mengerti tentang cinta, kesetiaan, dan saling menghargai. Terima kasih telah mengajarkanku arti kehilangan. Ternyata, move on itu tidak mudah, ya?
Dari segala hal yang pernah terjadi, aku yakin kita bisa mengambil banyak pelajaran. Kita bahkan sudah beranjak dewasa. Suatu saat kita pasti punya kisah indah (lagi). Entah bersama siapa. Dan kita bisa menjadi pejuang cinta yang lebih baik. Itu karena kenangan kita.
Maafkan aku. Terima kasih banyak.
Salam,
Sandra
-Tulisan ini diikutsertakan untuk lomba #suratuntukruth novel Bernard Batubara-

Rabu, 25 Desember 2013

Nyunyu.com: Karya Anak Bangsa



Pernah nggak kalian nemuin suatu tempat yang ngebahas tentang:

”20 Kartun yang Harus Banget Ditayangin Lagi di TV”?

  
Atau “4 Film yang Pasti Ditayangin Pas Liburan Akhir Tahun”?


Bahkan “Kalau Turun Salju, Kamu Bakal Ngapain”?



Kalo belum pernah, kalian harus ke tempat ini: http://nyunyu.com (cuma tinggal di-klik aja kok, nggak perlu pakai ongkos)

Nyunyu.com? Nyunyu itu apa sih?

Nyunyu itu bukan semacam kura-kura, loh, ya! (Eh, itu mah penyu!)
Nyunyu itu situs tempat anak-anak muda Indonesia yang punya karya. Isinya tentang hal yang penting dibikin jadi nggak penting dan yang nggak penting dibikin jadi penting. Makanya waktu pertama kali kalian masuk ke situ, pasti ada tulisan “Nyunyu - Yang Penting Nggak Penting”.

Kalian sebagai anak muda maupun mudi se-Indonesia, harus tau Nyunyu biar kalian ikut unyu dan mengembangkan karya anak bangsa #kibarinbendera.

Pemimpin redaksinya Arief Muhammad, loh! Si pemegang akun @poconggg. Si ganteng lucu. Si penulis “Poconggg juga Pocong” dan ceritanya juga udah di-film-in. Keren, kan? :3

Di Nyunyu, kalian bisa milih menu makanan yang kalian pilih. Yang mau gue bahas ada: Article, Nyutube, Pojok Galau, Nyubrol, dan Festreeval. Yuk, baca satu-satu menunya!

Article
Kalian bisa nemuin artikel-artikel kayak yang gue contohin di awal tulisan ini. Isinya mantaps! Nyunyu tau aja apa yang kita rasain. Misalnya, waktu itu ceritanya gue tuh lagi kangen sama kartun-kartun zaman gue masih sekolah. Gue suka duduk manis buat mantengin TV dan nonton kartun. PAS BANGET Nyunyu ngebahas “20 Kartun yang Harus Banget Ditayangin Lagi di TV”! Gue pun bersorak sorai, “Bener banget! Iya! Bisa jadi!” Beuh euphoria nonton kartun gue pun meluap-luap. Walaupun pada akhirnya gue galau karena kartun-kartun itu ada yang bener-bener udah nggak tayang di TV lagi -_-. Huft.

Nyutube
Lo bisa nonton video yang super duper lucu dan nggak kebayang…….kreatif! Ya kali ada video yang ngebahas tentang “Odong-Odong Tingkat” sebagai resolusi di tahun 2014 di Jakarta. Ya kali ya……….. Tayangannya mirip tayangan yang ada di TV, tapi bahasanya diplesetin semua, hahahahahahahahahahaha.

Pojok Galau
Lo bisa mojok dan bergalau ria #eh. Misalnya aja lo lagi dilanda suatu hal yang membuat hati lo nggak menentu, mengingat-ingat seseorang, antara senang karena bertemu dan sedih karena tanpa kepastian. Itu artinya lo lagi dilanda PHP! Nah, sebagai penerima harapan palsunya, di sini lo bisa dapet tips “Gimana Sih Biar Gak Kena PHP?” Keceee, kan?! Tips-tips lainnya juga tersedia buat para penggalau mania. Don’t be sad galauers, OK!

Nyubrol
Lo bisa dapet pengetahuan yang lebih. Misalnya, lo bakal tau hasil wawancara ekslusif sama sutradara Bima Satria Garuda. BIMA SATRIA GARUDA! Buat penggemar Bima Satria Garuda pasti bakal seneng banget, deh! #senyumsenyum. Di situ dijelasin gimana cara sang sutradara memperkenalkan kembali serial yang populer di tahun 90-an ke penonton tahun sekarang, harapan terhadap serial Bima Satria Garuda, dan banyak lagi. Bukan cuma sutradara Bima Satria Garuda aja, tapi sama banyak seleb Twitter, seleb Youtube, dan Comedian juga! Seru, deh!

Festreeval
Di sini lo bisa ngembangin bakat lo. Lo bisa ikutan festival yang ngadain berbagai lomba. Hadiahnya juga menarik dan lumayan buat beli paket internet, biar bisa baca Nyunyu terus dan berkarya terus #eaaa.

Nah, udah tau, kan, Nyunyu itu apa? Makanya langsung aja ke sini: http://nyunyu.com!

Belum bisa dibilang gaul, loh, kalo lo belum ke Nyunyu.com! Bacaannya seru banget karena banyak penulis yang langsung nulis di situ.

Cintai karya anak bangsa, yuk! #pakaibatik. WE LOVE INDONESIA! WE LOVE NYUNYU! :*



By:
Sandra - @sandrasasi

Minggu, 08 Desember 2013

#CeritaDariKamar - Boneka Kura-Kura


#CeritaDariKamar
Boneka Kura-Kura

 
Aku memiliki boneka kura-kura yang diletakkan di dekat bantalku. Boneka kura-kura itu bukanlah boneka biasa, karena boneka itu menyimpan cerita serta cahaya. Cerita yang tersimpan di dalam boneka  itu terjadi saat aku masih menjalani kehidupan di Sekolah Menengah Kejuruan. Cerita tersebut berawal dari seorang temanku yang meminjam bukuku pada bulan September 2011. Buku itu dipinjam untuk kakaknya sebagai bahan tugas kuliah. Setelah selesai digunakan, temanku menghubungiku untuk mengembalikan buku tersebut. Pada bulan September yang merupakan bulan ulang tahunku, temanku meminta aku untuk menemuinya di dekat masjid sekolah. Masjid sekolahku bertingkat, dan tempat ibadah untuk perempuan berada di lantai atas. Aku pun menuruni tangga untuk menemui temanku. Aku tersenyum saat melihatnya, ia pun demikian. Temanku menyerahkan buku yang dipinjamnya padaku, namun di dalam lembaran buku ada suatu benda yang membuat buku tersebut tidak tertutup rapat. Aku mengucapkan terima kasih sambil mengambil buku tersebut. Aku sempat bingung dengan buku yang aku terima, tapi  temanku hanya memberi buku tersebut, lalu pergi. Aku kembali ke lantai atas masjid sekolah, di sana aku membuka buku yang menjadi tebal karena terisi sesuatu. Aku kaget melihat boneka kura-kura yang  menjadi isi dari buku tersebut. Aku menatap boneka kura-kura itu dengan heran. Aku  mencari tombol di bagian bawah boneka, aku mengaturnya menjadi “on”. Setelah itu, aku menekan tombol yang ada di bagian atas boneka kura-kura itu. Lalu, aku dan teman-teman yang berada di sekitarku merasa terkejut. Di langit-langit masjid, kami melihat cahaya bintang-bintang dan satu cahaya bulan sabit. Terlihat indah bagi kami, apalagi ditambah dengan lagu yang biasa diputar sebelum tidur. Aku merasa terharu. Boneka kura-kura itu merupakan hadiah ulang tahunku.


  

 
Di kamar, aku suka menyalakan cahaya dari boneka kura-kura itu. Indah sekali bila malam hari aku melihat cahaya bulan bintang di langit-langit kamar, disertai lagu sebelum tidur, membuat aku memekarkan senyumku tanpa aku sadari.

 

Tapi, di tahun 2013 ini, aku kehilangan cahaya itu. Boneka itu sudah tidak bisa bercahaya lagi. Aku  juga tidak tahu apa penyebabnya. Namun boneka itu masih duduk manis di dekat bantalku. Di tahun ini juga, aku sudah lulus dari Sekolah Menengah Kejuruan dan sudah bekerja. Begitu pula dengan teman yang memberiku boneka kura-kura itu, ia sudah bekerja. Kami sudah tidak pernah bertemu lagi. Mungkin boneka kura-kura itu mengerti aku.  Boneka kura-kura itu tidak ingin melihat aku mengingat temanku saat aku memainkannya. Boneka kura-kura itu pasti sedih jika aku merindukan temanku yang sudah berada jauh dariku. Boneka itu tidak ingin aku sedih mengingat kenangan yang telah terjadi bersama temanku. Aku akui, kenangan bersamanya memang cukup indah, karena temanku tersebut adalah seorang yang puitis dan romantis. Kami sama-sama menyukai bulan dan bintang. Pasti itu alasan mengapa ia memberiku boneka kura-kura itu. Walaupun boneka kura-kura itu sudah tidak bisa bercahaya dan memainkan lagu sebelum tidur, boneka kura-kura itu tetap mempunyai cerita. Cerita antara bulan dan bintang. Cerita tentang aku dan temanku.