Senin, 18 November 2013

Sheila - Part I (Terinspirasi dari lagu-lagu Sheila On 7)

Ribuan hari aku menunggumu
Jutaan lagu tercipta untukmu
Apakah kau akan terus begini
Masih adakah celah di hatimu
Yang masih bisa tuk kusinggahi
Cobalah aku kapan engkau mau
Tahukah lagu yang kau suka?
Tahukah bintang yang kau sapa?
Tahukah rumah yang kau tuju?
Itu aku…

Angin malam ini cukup dingin. Di tempat ini, aku hanya memandang pohon-pohon yang melambai-lambai. Langit di atas sana hanya hitam, tidak dengan hiasan titik-titik putih. Sayup-sayup aku teringat sesuatu. Aku mengepalkan jemariku dan membukanya satu persatu. Satu, dua, tiga, empat. Aku berhenti membuka jariku saat hitungan keempat, lalu tersenyum tanpa suara. Hitungan ini meyakinkanku, aku sudah ribuan hari menunggu dia. Aku tertawa kecil dalam hati, lagi-lagi tak bersuara.

Di saat kita bersama
Di waktu kita tertawa, menangis, merenung oleh cinta…..

Saat itu, aku masih sekolah…

***
Aku berlari kecil menuju lapangan, ikut berdiri pada baris yang telah dibentuk. Aku masih terengah-engah. Aku berdiri tepat dibelakang Rena.
“La, kok, tumben baru datang sekarang?” tanya Rena. Aku yang sedang membuat stabil kembali nafasku sambil menjawab, “Iya,tadi macet, Ren. Untung gerbangnya belum ditutup.”

Upacara berlangsung cukup tertib. Seperti biasa, diakhir upacara, disiarkan suatu pengumuman. Kali ini, pengumuman tentang prestasi yang baru saja diraih oleh salah satu murid sekolahku. Ia meraih juara kedua lomba Matematika Teknik se-Jawa Barat. Ia mendapat ucapan selamat dari Kepala Sekolah.

Seusai upacara, semua yang berada di lapangan langsung berhamburan keluar tak beraturan. Aku dan Rena berjalan sambil mencari seseorang.
“La, di sana!” kata Rena sambil menunjuk ke arah tiang basket.
Kami langsung berjalan menuju tempat itu.
“Hai, Gara, selamat yaaaaa!” teriak Rena.
“Terima kasih, ya!” seru Anggara sambil tersenyum.
“Kayaknya bisa, nih, traktir Pop Ice di kantin, hehe,” kataku.
Anggara tertawa kecil. “Istirahat nanti siang aja, yuk!” ajak Anggara.
Aku pun berseru, “Asyik, oke!”
***
Kantin sekolah hari ini cukup sepi.  Aku dan Rena menghampiri Anggara yang sudah duduk di salah satu kursi.
“Lo udah lama di kantin, Ra?” tanyaku.
“Baru, kok. Kalian langsung pesan aja!”
“Gue mau rasa Vanilla Latte, La,” kata Rena.
***
“Lo lombanya waktu itu di mana, Ra, kok sampai tiga hari?” tanya Rena sambil  menyeruput Pop Ice.
“Lombanya di Bandung. Di sana itu orang-orang pedesaan. Cantik…........”
“Ciye, Gara!............” ledekku memotong cerita.
“Bukan itu aja maksud gue. Orang-orang di sana pinter-pinter. Mereka belajar matematika itu pakai buku itu,” jelas Anggara sambil menunjuk buku besar yang aku pegang.
“Terus isi bukunya penuh?” tanyaku.
“Iya. Isinya rumus semua.”
“Wow. Di sana lo nginap di mana, Ra?” tanya Rena penasaran.
“Di salah satu hotel di kotanya, dekat jalan raya, jadi gue nggak bisa langsung lihat pemandangan hijaunya Bandung.”
“Yah, sayang banget,” kataku sambil membuang gelas plastik yang sudah kosong ke dalam tong sampah.
“Eh, tahu nggak, abis lulus, Insya Allah gue mau kuliah di Bandung.”
“Bandung?”
“Iya, La. Bandung itu kota impian gue,” jelas Anggara padaku.
Aku hanya tersenyum kecil.

Hari telah berganti
Tak bisa kuhindari
Tibalah saat ini bertemu dengannya…..

“Hari ini hari terakhir latihan teater, loh, La. Lo beneran nggak bisa dateng? Kan perpisahannya seminggu lagi.”
“Bisa, Rena. Tapi gue datengnya agak telat, hehe.”
“Emang mau ngapain?”
“Mau anterin kue coklat ke Anggara.”
“Oh. Kue coklat buatan ibu kamu yang tadi aku makan?”
“Iya, Ren. Izin, ya.”
“Oke, Sheila.”

Aku menyusuri koridor utama sekolah dan menggerakkan kepala dan mataku kiri kanan. Aku yang tidak menemukan Anggara dikoridor, lanjut berjalan ke arah ruangan yang terdengar “suara” dari luar. Aku melihat Anggara sedang mengikuti iringan musik akustik dengan bernyanyi. Dia belum melihatku. Aku malah diam berdiri di depan pintu. Beberapa saat kemudian, Anggara melihatku. Aku tersentak dan mulai memanggil, “Anggara, sini deh!”
Anggara menghampiriku dan aku langsung memberikan kotak makanan kecil.
“Ini apa, La?”
“Ini kue coklat buatan ibu gue, ibu gue buatnyabanyak, tadi Rena udah makan, nah, yang ini buat lo.”
“Makasih, ya, La. Pas banget buat dimakan di selalatihan.”
“Iya, sama-sama, Ra. Gue langsung latihan teater,ya!”
“Iya, La. Sukses, ya, latihannya!”
“Lo juga!”

***

Mungkin diriku masih ingin bersama kalian
Mungkin jiwaku masih haus sanjungan kalian

“Ciye….. tadi akustikannya bagus banget, Ra!” puji Rena pada Anggara.
“Hehe. Kalian juga aktingnya bagus, lucu lagi, kalian jadi cewek centil di sekolah, tadi gue ketawa melulu.”
“Menghibur orang itu dapat pahala,” kataku sambil menoleh ke arah Rena.
“Iya, dong. Eh, hmmm, ini hari perpisahan, ya?” kata Rena dengan nada yang menurun.
“Nggak terasa, ya, kita udah tiga tahun bareng-bareng,” ucapku pelan.
Anggara menatap aku dan Rena dengan tidak biasa, “Iya. Maafin gue, ya, kalau gue punya salah.”
Rena langsung berucap, “Gue juga, Ra.”
“Gue juga minta maaf, ya,” kataku.
Anggara tersenyum memandangi aku dan Rena. “Gue bakal ke Bandung hari Rabu, makasih banyak atas do’a kalian, gue jadi beneran bisa kuliah di sana.”
Aku hanya diam dan menunduk. Aku berharap tidak ada lagi kalimat yang terdengar dari Anggara. Aku hanya mendengar perkataan batinku, “Jangan berhenti berharap!”

Bersambung...



3 komentar :

  1. hmmm lagu sehila bisa juga ya jadi inspirasi bikin cerita kyk gini :))

    BalasHapus
  2. iya, Alhamdulillah nemu idenya dari lagu-lagu Sheila :) oh iya, maaf, bukan Sehila, tapi Sheila xD hhehe. Thanks ya udah mampir :D ini part II-nya baru diposting -> http://sandrasasikirana.blogspot.com/2013/11/sheila-part-ii-terinspirasi-dari-lagu.html
    Enjoy! ;)

    BalasHapus
  3. Bagusse. Knp gak yang JAP aja? Hahahaha ngarep

    BalasHapus