Jumat, 19 September 2014

Gaun Biru Muda

Aku melepas roll hair satu per satu, lalu menyisir rambutku yang melengkung ke dalam dan jatuh ke bahu. Aku membenarkan poni yang sengaja kutata ke arah kanan wajahku, berharap poni ini akan tetap rapi walau diterpa angin di luar sana. Kubangunkan badanku dari kursi rias, meraih tas yang hanya berisikan ponsel dan dompet.

Gaun panjang biru muda yang aku kenakan malam ini, aku tampilkan sekali lagi di depan cermin besar. Cantik. Sengaja gaun pemberian Ibuku beberapa tahun lalu ini kukenakan, yang sebenarnya telah kuikrarkan untuk kupakai saat makan malam bersama, ya, seorang laki-laki idamanku. Tiba-tiba aku ingin menertawai diriku. Aku melanggar ikrarku sendiri. Mana mungkin aku mengenakan gaun ini untuk sekadar makan malam bersama seseorang? Aku saja sudah tidak bisa menghitung sudah keberapa kali aku patah hati. Dasar bodoh. Aku tetap ingin mengenakan gaun ini, setidaknya sebelum kematianku. Sungguh, aku sangat bahagia bisa mengenakan gaun ini.

Aku keluar dari kamar, menuruni anak tangga dengan mengangkat sedikit gaunku yang menyentuh keramik. Suara high heels-ku mengetuk-ngetuk lantai, memecah hening. Sekali lagi aku ingin tertawa. Bak Tuan Putri saja, Kau, Nona! “Tuan Putri yang Kesepian”, lebih tepatnya. Tentu saja, di rumah ini tidak ada siapa-siapa lagi kecuali aku. Ayah masih bekerja di perusahaan besarnya, biasanya akan pulang jika sudah pukul sembilan malam, jam-jam di mana keluarga sudah selesai makan malam bersama dan bercengkarama. Sementara aku sudah sangat sering di penjara megah ini, sendirian. Seorang pekerja rumah tangga di rumah ini hanya diperbolehkan bekerja sampai aku pulang dari kampus, tidak sampai menginap. Bagaimana caraku meramaikan rumah ini? Apa aku bakar saja rumah ini supaya ramai? Haha, klise.

Aku mengunci pintu dan pagar rumahku. Aku berjalan seolah aku akan benar-benar pergi makan malam bersama seseorang, ah, nyatanya, aku tidak tahu akan pergi ke mana.

Beruntungnya, kota yang kusinggahi ini sangat ramai, terlampau ramai malah. Aku menyusuri trotoar besar di sebelah jalan raya yang padat kendaraan. Aku hanya berjalan, mengikuti panjangnya susunan bata yang menjadi bahan trotoar besar ini. Memandang lurus dengan tatapan kosong. Lelah berjalan, aku membanting tubuhku duduk pada sebuah bangku kayu di tengah trotoar. Diam. Menunduk dan memandang lekat gaun biru muda yang masih licin tanpa kusut, namun pikiran dan hatiku lah yang sebenarnya kusut. Sejak kepergian Ibu dua tahun yang lalu, kehidupan serasa hanya sebuah mimpi.

Setiap aku terjaga dari tidur, aku selalu mengira aku sedang bermimpi, semua bukanlah kenyataan. Bahkan tidak ada yang menyadariku atau mencubitku untuk memberitahu aku sedang di mana? Di mimpikah? Pernah beberapa bulan setiap bangun pagi, aku malah menyuguhi diriku dengan sarapan air mata. Aku ketakutan. Aku takut aku masih terus di dalam mimpi dan tidak bisa bangun lagi. Sebab yang aku tahu, dunia nyataku adalah Ibuku masih hidup, tapi ini mimpi, kan? Ah, siapa yang peduli dengan ketakutanku? Bahkan setiap bangun pagiku, Ayah sudah buru-buru pergi ke perusahaan besarnya untuk melanjutkan kehidupannya. Ayah sangatlah cuek, namanya juga laki-laki, ya, bagiku semua laki-laki sebegitu cueknya.

Kini aku duduk, menyandarkan punggungku pada bangku ini karena lelah. Bukan hanya lelah kaki, tapi juga lelah hati. Selain Ayah, siapa lagi yang kupunya? Karena perusahaan besar Ayahku, aku tidak pernah lagi bertemu dengan saudara-saudara Ayah. Mengapa? Hai, apa aku masih mau berpikir bagaimana bisa itu terjadi? Huh, memikirkan cara bertemu Ayahku di waktu yang tepat saja sudah membuatku kehabisan tenaga. Lalu, Ibuku yang merupakan anak satu-satunya dan sudah yatim piatu sejak aku lahir, siapa saudaranya yang bisa kutemukan?

Atau mungkin aku bisa menemui seorang atau beberapa teman? Yang benar saja? Aku yang selama ini terlalu sering sendirian, menganggap teman itu tidak ada yang setia, percuma. Lebih baik berteman dengan diri sendiri, tidak diatur, tidak disakiti, tidak dimanfaatkan.

Dan di ujung angin malam, kesepian ini terasa benar-benar mematikan untukku.

Aku lebih baik pergi, menyusul Ibu dan bahagia di sana. Sederhana bukan?

Kini aku berencana mengikuti manusia-manusia kota dan memasuki tempat yang tak pernah kukunjungi sebelumnya. Entah diskotik, atau ‘cafe’, yang mungkin akan membunuhku secara baik-baik. Tapi sungguh, aku tidak bisa ‘minum’ dengan cara yang baik dan benar, bisa-bisa aku malah mati secara terkejut. Tidak, lagipula itu tidak membuatku mati seketika, hanya mematikan masa depan saja. Tanggung, kan?

Atau aku akan berjalan cepat ke tengah jalan raya tanpa melihat kendaraan yang melaju. Berharap ada kendaraan yang menabrakku hingga aku terpental beberapa meter. Tidak, aku tidak ingin menjadi wanita bergaun biru muda yang masuk koran dengan pose tubuh yang tercecer, menggelikan. Huek.

Atau aku akan berdiri di sebuah jembatan tinggi, melongok ke bawah dan menatap sungai dengan aliran air yang deras di bawahnya. Tanpa aba-aba, aku akan menjatuhkan tubuhku menuju sungai dengan tenang. Aku yakin kain gaunku akan berterbangan begitu indahnya bagai bidadari terbang. Kemudian, aku tenggelam dan hilang. Tapi sayang sekali, di dekat sini, sungai berisi banyak sampah, bukan air, namanya juga sungai kota.

Ah, aku tidak berbakat bunuh diri.

Ponselku berbunyi. Ayah memanggil.
“Halo.”
“Kamu di mana?”
“Di luar, Yah.”
“Cepat pulang!”
“Ya.”
Aku memutus panggilan. Ada ide mengalir cepat tiba-tiba. Ide bunuh diri yang sangat baik. Aku akan pulang, meminta maaf pada Ayah atas segala kesalahanku, lalu aku akan membunuhku dengan pisau yang biasa terletak di dapur rumah. Sungguh, bunuh diri yang sangat baik bukan?

Aku bergegas pulang, melepas high heels, berlari telanjang kaki agar aku cepat sampai rumah. Aku tahu aku akan ditertawakan Ayah pulang dengan dandanan seperti ini. Masa bodoh. Yang penting aku cepat pergi –entah ke rumah atau ke surga.



Ayah memperhatikanku dari ujung kaki hingga kepala.

“Kamu habis menemui siapa?” tanya Ayah yang duduk di sofa sambil membuka kacamatanya.
“Tidak  ada.”
“Tapi mengapa malam ini kamu cantik sekali?”

Sungguh, baru kali ini Ayah memuji, uh, meledekku.

“Iseng saja. Sayang, kan, gaun ini belum pernah dipakai,” ucapku asal, masih berdiri menghadap Ayah.
“Oh.”
“Ayah. Boleh aku minta waktumu sebentar?” tanyaku seraya duduk di sampingnya.
“Ya.”
“Aku ingin meminta maaf padamu, Ayah. Pasti selama ini aku pernah membuatmu kecewa, bahkan menyakiti Ayah. Maafkan aku,” ucapku lirih sambil menundukkan kepala.
“Ayah juga minta maaf,” balas Ayah tanpa senyum sedetikpun. Sudah kuduga, Ayah benar-benar tidak pernah peka.

Aku harus melanjutkan rencanaku. Baru saja akan menuju dapur, Ayah malah memanggil.
“Asha, tolong kunci pintu dahulu! Tadi, kan, kamu yang terakhir masuk rumah.”

Sungguh, baru kali ini Ayah memanggil namaku secara utuh. Ada sesuatu yang terasa berjalan melewati hatiku, entah apa.

Aku berjalan ogah ke arah pintu. Kunci yang kuputar menimbulkan bunyi sebanyak dua kali. Seusai mengunci pintu, aku membalikkan badan. Seketika, kini aku yang mengunci diriku, terpaku, menahan nafas, membelalakkan mata, dan hanya bisa berteriak sekencang yang aku bisa.

“Ayaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah!”


Ayahku mati. Dengan pisau yang harusnya membunuhku, pisau yang sudah aku rencanakan untuk membunuhku. Aku terlambat. Aku terlambat mati lebih dahulu. Aku terlambat menyelamatkan ayah. Tepat di atas meja dapur, tergeletak secarik kertas dengan tulisan: Ayah lelah. Ayah pun patah hati, bahkan sudah hancur karena tiadanya Ibumu. Ayah lebih kesepian. Kesepian bukan akhir dari segalanya, kematian lah yang mengakhiri segalanya. Jangan berniat mati karena kesepian, Asha. Cukup Ayah saja.

Minggu, 07 September 2014

Masa Depan

Terkadang, aku ingin sekali melihat masa depan
Aku ingin melihat diriku yang berubah menjadi lebih cantik
Ingin melihat wajah Ibu yang sudah beristirahat mengurusku, namun aku yang mengurus beliau, Ibu duduk manis dan membaca buku kesukaannya
Ingin memandang wajah berseri laki-laki tampan yang bersedia duduk bersamaku pada satu meja makan

Aku ingin memperhatikan setiap detil dunia yang semakin megah
Ingin memperhatikan orang-orang menggunakan benda-benda yang mirip alat sihir saking canggihnya
Ingin melihat robot-robot yang membantu manusia, serupa doraemon

Aku ingin sekali menatap manusia-manusia berlalu lalang di depanku, dan sesekali ada yang meraih tanganku untuk bersalaman atau mungkin minta berfoto
Ingin melihat film yang dibuat berdasarkan buku dengan namaku di halaman depannya
Ingin menepuktangani diriku yang sudah tidak takut lagi sekadar berbicara

Aku ingin mengintip diriku yang bercengkrama dengan keluarga besar, keluarga yang kudapatkan dari ledakan kesepian rumah lama
Ingin melihat aku menikmati kenyamanan rumah yang interiornya aku atur bersama laki-laki tampan tadi
Ingin melihat aku mencubit pipi anak kecil atau mengepang rambutnya, lalu berkata, "Kamu anak Mama yang cantik!"
Ingin melihat aku membenarkan sepatu anak kecil dan menambahkan topi di kepalanya, lalu berkata, "Kamu ganteng kayak Papa kamu!"

Sayangnya aku tidak bisa melihat masa depan
Tentu saja
Coba pikir!
Jika aku bisa melihat masa depan
Masa yang kupijaki kini bisa-bisa kacau balau

Sebab jika masa depanku sudah kutahui
Maka saat ini aku tidak akan seberjuang ini
Lalu, masa depan itu tidak pernah ada

Menyeramkan bukan?

Selasa, 19 Agustus 2014

Now Playing

Ini malam
Malam penuh lagu yang didendangkan tepat di telinga
Mengalun hingga mengisi isi kepalaku
Berjalan beriringan bersama dirimu
Ya, kamu yang kini aku pikirkan
Aku tersenyum malu-malu meresapi arti lagu
Ada kamu di dalamnya
Bagaimana bisa?
Aku tidak terganggu akan hadirmu yang selalu melayang di anganku sendiri
Aku menikmatinya
Sejenak, mengalir lirih

Aku menyayangimu

Aku rasa ini cukup

Tolong, rasakan gesekan angin dan dedaunan di tempat biasa
Kamu akan tahu ada yang mengagumimu dari jauh tapi dekat
Atau kamu akan tahu sewindu kemudian
Terhitung sejak awal kita bertemu
Suatu hari nanti, jangan cintai aku apa adanya
Sebab kamu lah teman hidupku, sepatu kiri
Ayo berlari!


Now Playing: Lagu-lagu dari “Tulus”

Jumat, 01 Agustus 2014

Kalimat Singkat

Seberapa kuat hati bisa menahan gejolak rasa? Aku jatuh cinta diam-diam. Senyumnya yang sejuk menjadikan mataku teduh. Ya Tuhan, betapa harunya aku. Sudah lama aku lupa akan perasaan ini. Kini hadir lagi bersama embusan angin malam yang cantik. Terima kasih, Tuhan Yang Maha Kuasa.






Sumber gambar: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgQxoQRidyOhYa3XOcr6iBXCDgW6VAR42a9cdKB891pds7zC6zSNYaY8DVKJ1-2mGpYH_1zo0qwHIXVslfabI5y7D5CJue6Hti70oOYmBJUEa1Tj3uDisVipz6zUPFO5GC8E9Iy6pdV0Q/s1600/tumblr_lcbrj9ov6r1qbg4z7o1_500_large.jpg

Selasa, 29 Juli 2014

Jika dan Hanya Jika

Seandainya aku ahli matermatika
Aku tidak akan menuliskannya
Sebab ini hanya rumus
Namun kini kujadikan kamus

Jika dan hanya jika
Jika saja kamu tahu aku menunggumu, dan itu hanya jika
Jika saja kamu tahu aku mengingatmu sekarang bahkan setiap hari, dan itu hanya jika
Jika saja kamu tahu ada manusia yang senang bernyanyi karena kamulah objeknya, dan itu hanya jika

Kepadamu yang aku sulit terka
Kepadamu yang aku coba terka
Kepadamu yang aku usahakan terka
Kepadamu yang aku sungguh-sungguh terka

Bagaimana caraku membuatmu melihatku dari sisi jendela yang berbeda?
Jika saja aku berhasil dan itu hanya jika
Bagaimana caraku memberikanmu sepercik kesejukan yang serupa dengan cuaca malam?
Jika saja aku sanggup dan itu hanya jika

Sebenarnya aku ingin menyebutkan sesuatu
Tentang berbagai hal yang mengenalkanku padamu
Atau sesuatu yang ingin kuperkenalkan padamu
Tapi aku takut kamu letih mendengarku, maka aku bergeming

Kau tahu?
Sebenarnya rasa takut itu terus menyerangku
Memasuki relung jiwa yang rapuh untuk berteriak
Hingga pada akhirnya, aktivitas itu menjadi bagian daripada aku
Aku ketakutan
Aku takut.............jatuh cinta



Jika cinta selalu bisa berlabuh tanpa ombak badai di lautan, dan itu hanya jika
Jika cinta tak lebih sulit memecahkan masalah matematika, dan itu hanya jika
Jika cinta mampu membuat kuat hati yang abadi, dan itu hanya jika
Jika cinta hanya sebuah perasaan yang tak harus memaksa untuk memiliki, dan itu hanya jika

Terima kasih, senja biru, rumus baru, kamusku yang haru
Jika saja kamu mendengar hatiku yang patah saat ini
Dan itu hanya jika





Sumber gambar: http://www.kawankumagz.com/articleFoto/Ketika_Cinta_Bertepuk_Sebelah_Tangan___.jpg

Rabu, 02 Juli 2014

Surat dari Tita untuk Adit

Untuk: Adit

Selamat pagi, matahariku. Akhirnya aku bisa menyapa pagimu, walau hanya lewat surat ini.

Sebenarnya aku bingung akan memulai suratku dari mana, tapi ada sesuatu yang bergejolak dalam diriku yang memaksaku untuk tetap menulis surat ini. Melalui surat ini aku ingin menyatakan sesuatu tentangmu.

Aku Tita, seseorang yang selalu memperhatikanmu, entah dari dekat atau dari jauh. Aku yang selalu tersenyum terpaksa saat bertemu atau berpapasan denganmu. Kamu tahu kenapa aku terpaksa? Tentu karena aku sebenarnya malu. Saat itu juga, dunia seolah berhenti berotasi, waktu terasa menghentikan detaknya, kakiku lemas seketika dan lemah untuk berdiri, kemudian aku bingung harus melakukan apa. Tapi saat kamu membalas senyumku dengan senyuman, aku selalu merasakan kesejukan, lalu matamu terlalu menyilaukan untukku.

Aku sangat bersyukur. Mengenalmu seperti anugerah terindah dalam hidupku. Mungkin kamu hanya ada 1 di dunia. Aku begitu bahagia dan banyak hal lain yang ada padamu yang membuatku bahagia. Walau kamu punya kekurangan, tapi aku paham, bukankah tidak ada manusia yang benar-benar sempurna? Bukankah saling melengkapi itu lebih romantis? Hmmm, bisakah kita?

Dit, aku tahu kebiasaanmu, kamu sering memuji dirimu sendiri. Padahal sebenarnya tanpa memuji pun kamu memang sudah begitu adanya, menawan. Bukan, bukan karena menawan aku jadi menyukaimu. Tapi karena aku menyukaimu, kamu jadi tampak menawan di mataku, sangat.

Dit, aku agak bingung akhir-akhir ini. Apa-apa yang kamu lakukan dan itu tertuju padaku, menjadi bergerak perlahan. Dari bangku sebelah yang kamu duduki, aku menyaksikanmu memberikan pulpen pada aku --yang duduk tepat di sampingmu, dengan gerakan yang tampak melambat. Berjalan perlahan dan akhirnya sampai di tanganku. Apa itu hanya perasaanku saja, ya?

Kamu pasti bingung sekarang. Padahal, sebelumnya aku kan membencimu. Benci dengan sikapmu yang cuek dan menyebalkan. Tapi Tuhan menciptakan banyak kebetulan, sampai pada akhirnya rasa benci itu mengganti dirinya menjadi rasa sayang. Kamu percaya?

Entah petunjuk dari mana, tapi aku yakin suatu saat kamu pasti akan menyatakan sesuatu padaku. Di manapun kamu menyatakan perasaanmu tentangku, entah itu di Paris --dekat Menara Eiffel, atau di bangku taman dekat rumahku, aku tetap bahagia. Kamu membawa mawar putih atau hanya sekadar datang dengan tangan kosong, aku tetap bersyukur. Dan apa pun perasaan yang kamu nyatakan kelak, baik atau buruk, aku akan tetap tersenyum, dengan atau tanpa air mata.

Terima kasih sudah membaca suratku.


Adit, aku sayang kamu, sayang.





Tita


***


(Surat ini diikutsertakan untuk tantangan #SuratCintaEiffel Adit-Tita @bentangpustaka)

Selasa, 01 Juli 2014

Pertanyaan Besar

Hai, Bintang!
Ke mana saja dirimu?
Kamu benar-benar bintang, ya?
Bisa tampil di hadapanku di tenangnya malam
Namun juga menghilang kala siang menjelang
Kamu, datang dan hilang, lagi dan lagi

Aku selalu punya pertanyaan besar, Bintang
Sebenarnya mana yang benar?
Kamu terlalu lelah menantiku lalu bersama yang lain,
atau aku yang sangat terlambat menyayangimu?

Aku sudah berusaha
Entah berusaha membuat jarak pada kita
Atau berusaha menguapkan rasa sayangku yang berdosa ini ke awan-awan
Hingga tak ada lagi kita
Dalam cerita indah, dalam cerita manis
Sama seperti cerita kita yang telah kau tulis dan kau bakar habis
Bahkan aku belum sempat tahu apa ending-nya
Kamu sudah memusnahkan itu
Baiklah, itu hakmu, Bintang

Perempuan yang kamu panggil bulan ini benar-benar bingung
Kamu selalu bilang bahwa esok akan berbeda
Tapi aku selalu menerka kamu bohong
Dia yang ada di sampingmu juga perempuan, dia juga punya hati
Aku tidak akan sampai hati menyakitinya

Namun, apa maksud dari semua khayalanmu?
Apa maksud dari segala cerita dan fiksi yang kau nyatakan?
Apa maksudmu, Bintang? Apa?
Jelaskan padaku! Aku mohon!

Semoga kalimatku ini tidak memberi efek apa-apa untukmu
Jangan balik menelponku
Sebab aku hanya ingin menyampaikan pesan
Sebab aku tak berhak atasmu
Tetap dia yang membahagiakanmu
Berbahagialah walau bukan aku alasanmu bahagia
Aku tahu diri aku siapa

Tunggu!
Tunggu dulu!
Aku ingin bertanya lagi
Kamu terlalu lelah menantiku lalu bersama yang lain,
atau aku yang sangat terlambat menyayangimu?
Apa jawabannya?

Mungkin hanya Tuhan yang tahu

Senin, 16 Juni 2014

Ketika Aku Harus Bawa Bekal

Kususuri jalan panjang yang mengikuti arus sungai kota
Bersama beberapa teman, aku mengendarai kuda besi bermesin
Aku mengejar yang di depan, juga teman di belakangku
Lalu aku tiba pada sebuah tempat

Kata orang-orang, ini tempat berkumpulnya ‘anak muda’
Aku yang juga merasa bagian dari mereka pun masuk
Asing bagiku, baru pertama aku datang
Aku tiba-tiba meragu untuk melangkah lebih jauh

Bukan perihal salah tempat, namun tampak penuh tempat
Aku dan teman-teman terlalu malu, hingga belum ada yang masuk di menit ke sekian
Sampai datanglah seorang laki-laki menghampiri
Aku yakin, laki-laki ini peka akan kebingunganku

Selayaknya malaikat acara, ia membawakan kursi lebih ke sebuah meja
Selayaknya tamu istimewa, kami disambut dan dipersilakan duduk
Aku memanggil nama seorang perempuan yang tidak sama cantik denganku
Ia dengan rambut sebahu lebih, menaikkan kedua ujung bibirnya
Aku telah dulu mengenalnya

Lagi-lagi, aku dan teman-teman seperti tamu istimewa
Kami duduk di posisi paling depan
Dengan seenaknya duduk padahal terlambat

Inti acara pun dimulai
Manusia-manusia asing satu per satu maju
Ada yang membawa secarik kertas, atau segenggam kertas digital
Aku mendengarkan suara-suara yang mereka suarakan

Tapi pikiranku tidak di tempatnya
Lain dari yang lain, aku tidak fokus pada puisi
Lain dari yang lain, aku lebih ingin memaknai posisi
Seiring waktu berlalu, setiap pasang mata sudah menampilkan diri

Kini giliranku...

Aku tidak fokus, lidahku agak kelu rasanya
Tapi bagaimanapun juga, aku harus tetap bersuara
Maka aku bunyikan pita suaraku, aku bacakan kalimat-kalimat syahdu
Mungkin tidak se-syahdu yang seharusnya, namun aku tetap melanjutkan sampai akhir
Selesai, lega bercampur tidak lega, sudahlah

Setidaknya aku tidak berpuisi sendirian seperti biasanya
Setidaknya aku belajar membuka mulutku saat di depan orang banyak
Setidaknya aku sedang menjajaki jalur menuju citaku
Ya, citaku!

Aku hampir lupa pada waktu
Sudah puluhan menit aku hanya duduk dengan canggung
Kecanggungan berganti kesadaran
Ini tempat makan dan minum berbayar
Dengan perintah kesadaran, aku memesan sesuatu

Angka-angka yang tertera lebih dari empat
Dua atau tiga angka nol berbaris rapi di sebelah kanan titik
Aku agak tertegun, bukan karena apa-apa

Sementara itu...

Kamu menuju suatu tempat yang lain
Aku memang tidak mengikutimu, tapi sedikit bisa membayangkannya
Kamu di antara manusia-manusia asing pula
Mungkin ada yang kamu kenali tapi tidak semua

Kamu punya cita di sana, seperti ceritamu padaku sebelumnya
Kamu berniat untuk  membuat orang lain tertawa
Dengan ‘komedi berdiri’ yang sedang merajai kekreatifan negara
Aku tidak menontonmu tapi sedikit ada gambaran untukku

Pasti banyak orang yang memberi suguhan lucu dan manis
Semanis minuman segar yang disediakan berbayar
Aku tidak tahu jelas berapa banyak angka yang tertera di sana
Entah tertera pada menu di papan tulis hitam
Atau tertera pada buku bergambar makanan dan minuman

Aku mengira bahwa kamu seperti aku, sedang tertegun
Bahkan jika kamu tidak mencicipi sedikit saja
Kamu bisa saja didapati sedang diledeki yang lain
Yang tabah, ya, kamu!

Hal yang tersirat pada benak kita masing-masing
Apakah cita berbanding lurus dengan harga makanan?
Apakah cita bisa dicapai dengan membeli minuman segar?
Apa harus menggembungkan dompet untuk meraih impian?

Lagi-lagi ini hal lain yang mungkin hanya dipikir oleh kita
Bukan berfokus pada puisi
Bukan berfokus pada komedi
Aku dan kamu bergumam, “Apa bulan depan kita bawa bekal saja?”
Bekal yang entah dibawa dari rumah, atau bekal yang yang kita beli di jalan
Apa pun itu, bekal bisa menambah tenaga kita berkarya, kan?

Sepulangnya kita dari tempat cita
Banyak hal yang dipelajari dan menjadi pelajaran
Lalu terbesit satu hal yang kamu juga tahu

Kelak saat kita tampil kembali pada acara yang sama
Saat kita lebih percaya diri dari bulan kemarin
Saat itu juga kita berucap, “Ketika aku harus bawa bekal...”
Bukan hanya bekal makanan dan minuman

Namun juga bekal kemampuan

Minggu, 15 Juni 2014

Surat untuk Ayah

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Teruntuk ayah yang aku panggil dengan sebutan “Papa”.

Selamat malam, Pa! Bagaimana kabar Papa? Pasti baik :)

Selamat Hari Ayah, ya, Pa! Selamat harinya Papa, selamat harinya pria terhebat dalam hidupku. Hal yang ingin aku ucapkan terlebih dahulu: aku rindu Papa, rindu sekali, teramat rindu. Papa sedang apa di sana? Apa Papa juga merindukanku? Kapan kita bisa bertemu, Pa?

Anakmu yang manja ini sedang senang-senangnya menulis. Jadi, anak semata wayangmu ini menulis surat ini untuk Papa. Surat ini aku tulis sambil mendengarkan instrumen lagu kesukaanku, lho. Lagu yang selalu mengingatkan masa kecilku, Pa. Dulu Papa selalu tampil khas dengan perhatian yang tidak terlalu tampak, tapi selalu sukses menyentuh hatiku. Mungkin setiap ayah di dunia begitu. Cuek tapi perhatian, dengan cara mereka sendiri. Juga papa.

Perhatian Papa sungguh sederhana. Mengajariku mengendarai sepeda, mengajariku berenang, mengajariku membaca komik dan menonton kartun, membenarkan aku menghitung matematika, lalu.... Ah, banyak sekali perhatian sederhanamu, Pa. Semua pemberian Papa istimewa sekali bagiku, karena Papa yang pertama menjadi pria teromantis di duniaku.

Pa, sekarang aku sudah akan dewasa. Aku tidak akan sebesar ini jika tanpa bantuan Papa. Aku tidak akan jadi apa-apa seperti sekarang, kalau Papa tidak mengajariku banyak hal. Sekarang, Papa jangan lelah-lelah, ya. Sebab aku akan berusaha, Pa. Berusaha menjadi anak yang Papa banggakan. Aku akan berjuang untuk meraih cita-citaku, Pa.

Pa, Papa sangat beruntung, Papa dicintai oleh malaikat dunia yang juga sangat spesial untukku: Mama. Aku yakin Mama juga sangat merindukan Papa. Sangat, Pa. Tapi Mama jauh lebih tegar dari aku. Mama tidak menunjukkan kesepian dan kesendiriannya. Mama tetap bersemangat untuk membahagiakan aku, seperti Papa membahagiakanku. Aku sangat beruntung memiliki ibu dan ayah seperti Mama dan Papa. Alhamdulillah.

Papa, bagaimana aku mengucapkan terima kasih yang teramat sangat padamu?

Jiwamu masih terasa ada, Pa. Seolah menyemangatiku dan menguatkan Mama. Walau di rumah yang berbeda, kami masih menggantungkan bingkai dengan foto Papa di dinding. Foto hitam putih Papa yang masih terlihat amat sehat. Aku senang melihat senyum Papa di foto itu. Lagi-lagi, Papa pria pertama yang tertampan di duniaku.

Pa, sebenarnya aku tidak kuat mengetik surat ini. Aku benar-benar merindukan Papa. Air mataku tiba-tiba keluar mengalir. Maaf, ya, Pa, aku masih cengeng sampai sekarang.

Aku sangat jarang pergi ke laut, Pa. Maka maafkan aku yang tidak tahu bagaimana cara bertemu Papa. Aku tidak bisa membawakan bunga untuk Papa. Tapi do’aku mudah-mudahan bisa menjadi penawar rindu antara aku dan Papa. Semoga do’aku memberi bahagia dan ketenangan untuk Papa. Semoga Tuhan selalu mendengar setiap do’a untuk Papa.

Aku sangat mencintaimu, Papa. Aku sangat merindukanmu. Papa baik-baik, ya, Pa.

Semoga surat ini sampai ke surga.


Wassalamu'alaikum Wr. Wb.




Salam manis dari anak pertama dan terakhirmu,




Sandra

Kamis, 12 Juni 2014

Cinta

Kelopak mataku terbuka
Tak cepat tetapi juga tak lambat
Aku melihat langit-langit yang putih
Bawahku empuk dan aku berbaring

Aku berusaha menemui pikiranku
Aku bertanya apa yang terjadi
Ia menjawab, "Kamu baru saja bermimpi."
Aku menghela nafas, ternyata aku tidak jadi jatuh

Aku masih menatap langit-langit yang putih
Mengingat ulang mimpi burukku
Tubuhku bangun menuju jendela kamar
Mengintip dan melihat pagi


"Hari masih cerah," ucapku dalam hati
Aku beranjak dan menuju teras rumah
Aku duduk pada sebuah kursi bambu
Menahan badan dengan kedua tangan di dudukan dan menggoyangkan kedua kakiku

Aku sangat suka dengan pagi
Saat yang paling tepat untuk bersemangat
Aku juga masih suka dirimu
Tapi belum pernah ada waktu yang tepat untuk menjelaskannya

Pagi ini aku tidak ingin berteriak seperti biasanya
Aku yakin Tuhan juga mendengar setiap bisikanku
Bisikan  mengenaimu
Bisikan atas cerita seputarmu

Rasa degup jantung kala itu benar-benar menggempa
Untung saja jantung ini diberi lem yang sangat kuat oleh penciptaNya
Kalau tidak, lepaslah jantungku
Itu semua padahal hanya karena akan bertemu denganmu

Kini aku telah mengerti semuanya
Cinta itu memberi, saling memberi
Cinta itu menerima dan saling melengkapi
Bukan sama-sama hebat, bukan sama-sama juara


Jika ada yang enggan memberi, itu bukan cinta
Jika ada yang memberi syarat, itu belum cinta
Pernah tidak dirimu menyukai sesuatu?
Sesuatu yang disuka bukan berarti dimiliki juga, kan?
Menyukai pagi, misalnya

Pagi memang bukan milikku seutuhnya
Pagi adalah milik Yang Maha Besar
Tapi Tuhan menitipkan pagi padaku
Dengan harapan aku tetap bersyukur, berdo'a, dan bersemangat

Dan dirimu serupa pagi
Aku tidak memilikimu tapi aku mensyukurinya
Aku tidak bisa selalu bersamamu tapi masih bisa mengagumimu
Aku tetap bahagia

Lihatlah, bunga masih tersenyum dipayungi awan berjalan
Aku memandang ayunan yang bergoyang sendirian tanpa aku
Aku menitipkan salam pada rumput hijau untuk menyampaikannya pada senja nanti
Aku berusaha masih merasa lapang dan tenang

Ternyata, aku masih terlalu percaya diri
Padahal aku sudah melayang tinggi
Padahal aku hampir benar-benar jatuh
Tapi aku tetap menikmati ini

Walau aku tahu kenyataannya tak seindah angan
Tapi aku tetap mengakhiri puisi cintaku
Teruntuk........
Seseorang yang membawaku dalam gabungan Perasaan-Jatuh-Cinta



Sekian





Sumber gambar:
http://learninghabit.files.wordpress.com/2013/08/cute-love-backgrounds.jpg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjsJMrDkk_J6Boz95bzD-h4WUN1mKiPumYbjZRN_OBh7u29E0GEJ2hLYYn3qB2zem92oOxY4gGC-cNqDKSUqxQ6xkJuEeokZSy0QFXJHzgr4OsLI1o56tt7lGPmuNyrc_-z7TD41AXHA-E/s1600/04-09-13-morning-window.jpg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgsdYmLoOWjxOBS9JzHVi-GXCAIjYEZFQg3LAKvNal00TkniCwYQRBFrgSG14npM5e8xAtlX127HZXwKn7PYZnSPReF_zqqS1vHSPVlJxHPuSVYPg1o1IuydLGzWyCR361AkZzOrfBGZqEN/s400/7-manfaat-kesehatan-dari-jatuh-cinta.jpg