Minggu, 12 Oktober 2014

Rendang Keras dan Lalat di Piring

Aku mulai muak dengan ini. Berlama-lama di depan layar komputer yang menampilkan angka-angka berderet. Kumpulan angka yang berbaris dengan titik-titik yang memisahkan antara bilangan yang satu dengan bilangan yang lain. Angka yang menunjukkan nominal uang. Kasihannya, aku hanya melihat nominalnya saja, bukan melihat bahkan menyentuh uangnya. Uangnya tidak ada di sini.

Beginilah seorang akuntan, bekerja menghitung uang, tanpa melihat wujud uangnya. Sebenarnya menjadi akuntan bukanlah keinginanku, ini terpaksa karena keinginan Ayah. Aku seorang sarjana akuntansi yang tidak suka pekerjaan monoton, aku lebih suka berkreasi dan menghasilkan suatu karya yang bisa dinikmati orang lain.

“Jangan melamun! Cepat selesaikan laporan keuanganmu sebelum Pak Bos memintanya. Aku sudah memberitahumu, ya! Jangan sampai kamu dimarahi lagi seperti waktu itu. Aku sudah cukup bosan mendengar ocehan marah-marah di kantor ini,” ucap Manager Keuanganku dengan muka yang selalu kusut, melebihi kusutnya baju yang belum disetrika.

Aku memonyongkan bibirku, manyun. Aku pikir, bisa-bisanya dia berkata seperti itu, sedangkan aku juga sama bosannya jika mendengar berisiknya marah-marah Pak Bos, bahkan sama muaknya seperti saat mengamati deretan angka-angka di hadapanku ini. Tapi bisa apa aku, siapa aku?

Jam dinding yang berdetak sendirian menunjukkan waktu pukul 11.30. Istirahat makan siang. Aku bergegas mematikan monitor, tanpa menutup satu pun aplikasi yang terbuka. Masa bodoh lah. Sayang, kan, kalau waktu istirahatku habis beberapa menit hanya karena menutup aplikasi di komputer?

Aku bergegas keluar kantor untuk makan. Tempat makan di perusahaan ini berada di lantai tiga.

Aku bertemu beberapa teman kantor dari departemen lain di tempat makan. Mereka kusapa, basa-basi saja, biar tidak terkesan sombong. Padahal sebenarnya aku agak malas menyapa mereka, apalagi harus duduk dan makan bersama mereka. Terkadang mereka masih membicarakan pekerjaan. Sebenarnya mereka itu tahu waktu tidak, sih? Waktu istirahat, kok, membicarakan pekerjaan? Bukan hanya karena aku tidak mengerti pekerjaan—departemen mereka, tapi kepalaku langsung pening jika mendengar pembicaraan yang berbau pekerjaan. Tolonglah hargai waktu istirahat yang telah diciptakan ini.

Aku memilih makan di meja lain, sendirian. Kulahap menu makanku yang isinya nasi berkuah dengan rendang yang banyak bumbunya, serta beberapa helai daun singkong.

Uh. Daging rendangnya keras sekali. Aku tidak sanggup memotong daging ini dengan sendok makan. Gigiku lebih kuat untuk memotongnya. Tapi masa iya, aku harus memasukkan daging ke dalam mulut dan aku potong-potong dulu menggunakan gigiku? Baiklah, ini agak menjijikkan. Seharusnya koki masakan Padang itu mengerti cara masak daging rendang yang benar. Aku jadi merasa yakin kalau bisa memasak daging rendang lebih baik dari ini. Maklum, Ibuku pintar memasak, dan aku sangat suka ikut kegiatan memasak dengan Ibu. Bahkan sekarang aku memanfaatkan waktu libur –Sabtu Minggu untuk memasak makanan pesanan orang.

Nasiku hampir habis. Aku malah memperhatikan piringku yang hampir kosong. Apa ini?

Aku terkejut melihat sesuatu yang aku kira menemplok di piring. Seekor lalat hitam kecil di pinggir piringku, membuat aku berpikir bahwa sepertinya makanan di piring ini menjadi kurang sehat.

Mataku melotot, memperhatikan baik-baik seekor lalat yang membuatku memiliki praduga negatif. Aku saksikan dengan detail lalat itu. Semakin aku memandanginya, lalat ini tidak kunjung pergi. Heran, maka aku sentuh saja lalat itu. Dan....... Sial, lalatnya bukan lalat sungguhan. Ini hanya gambar. Kalau dikira lalat sungguhan bagaimana? Seharusnya bukan piring model seperti ini yang dipakai. Mengundang konsumen yang bisa jadi salah perkiraan.

Tiba-tiba ada yang berbunyi dari dalam kantong celana bahanku. Ada yang menelpon.

“Halo, dengan Bu Mus?” tanya seorang wanita di balik telepon.
“Ya, benar.”
“Saya Ranti, yang kemarin memesan makanan untuk acara ulang tahun anak saya. Masih ingat?”
“Tentu saja, Bu Ranti yang memesan sepaket nasi tumpeng, kan? Ada apa, Bu?”
“Iya, masakanmu dan Ibumu enak, lho! Teman-teman anak saya juga bilang begitu. Nah begini, dua minggu ke depan kantor saya akan mengadakan kegiatan Family Gathering, saya berencana untuk memesan konsumsi padamu. Apa bisa?”
“Wah, sangat bisa, Bu. Kirimkan saja menu apa yang diinginkan, nanti saya beritahu Ibu saya.”
“Terima kasih. Nanti saya hubungi lagi.”

Aku tersenyum semringah. Bangganya jika dipuji masakan aku dan Ibuku enak. Aku merasa sudah melakukan sesuatu yang bernilai untuk orang lain. Apakah ini berlebihan? Aku tidak peduli.

Pokoknya aku merasa berhasil, tidak seperti pekerjaanku sebagai akuntan yang mengundang Pak Bos marah-marah dengan bisingnya. Entah karena aku salah input lah, tidak balance lah, tidak tepat waktu lah.

Ah, ya, omong-omong, sudah waktunya masuk kantor dan bekerja lagi. Sudah 1 jam aku berada di sini.

Aku melangkahkan kakiku dengan gontai, memegang kepalaku yang bersiap-siap akan pening lagi.

Hai, tunggu dulu, bukankah tadi aku merasakan kepuasan? Mengapa tiba-tiba aku tidak bersemangat lagi?

Aku menghentikan langkahku. Menatap beberapa koki yang berlalu lalang.

Salah satu koki itu memasang wajah kusam, ia berbicara dengan suara yang meninggi, “Padahal orang kantoran mah enak cuma tinggal duduk dan menikmati makanan, tapi masih ada saja yang nggak menghabiskan makanannya. Nggak tahu apa, membuatnya, kan, capek? Kalau saya sarjana, sudah dari dulu jadi orang kantoran saja.”

Aku berpikir sejenak, tidak peduli waktu masuk kantor sudah berlalu berapa menit.

Hm, kasihan sekali orang itu, dia malah lebih ingin menjadi orang kantoran. Aku malah ingin seperti dia. Bukankah aku lebih cocok menjadi seorang koki atau pengusaha restoran?! Aku lebih merasa berharga di posisi itu. Mengapa setiap manusia tidak ditempatkan pada pekerjaan yang sesuai keinginannya, sih?

Ragusa yang Pulang

Ia menatapku begitu dalam, tentu saja membuat aku canggung. Aku mengangkat sesendok es krim coklat dari mangkuk putih lonjong di depanku, lalu melahapnya, berharap kecanggunganku tertutupi dengan melakukan ini.

Aku memang sedang di dalam ruangan dengan banyak pengunjung di dalamnya, namun pikiranku melayang entah ke mana. Aku merasa pikiranku sedang berkelana, ke tempat yang pernah kusinggahi, tapi aku tidak akan pernah bisa kembali ke tempat itu. Tempat yang terbayang jelas sosok seseorang yang sekarang sedang mengintaiku: masa lalu.

“Put, kita mulai cerita baru. Mau, kan?” ucapnya sangat hati-hati padaku.

Deg. Aku yang duduk di hadapannya terpaku. Aku bergeming. Tidak sedang menunggu apa-apa, tapi berharap ia tidak menungguku bicara.

Tanpa perintah, penglihatanku samar. Ada yang menghalangi kedua bola mata. Aku berkedip pelan satu kali, ada yang jatuh dari mata sebelah kanan, kemudian disusul dari mata sebelah kiri. Perlahan bulir air menghujani pipiku tanpa suara. Aku merasa berhenti bernafas sesekali. Kemudian selembar tisu melayang di depan wajahku, dibawa oleh lima jari yang pemiliknya aku kenal. Telingaku mendengar kalimat dari seseorang yang sedari tadi masih setia di hadapanku.

“Kok nangis? Malu, ah. Pakai tisu, nih!”

Aku memang menangis, tapi aku mengembangkan senyum. Aneh. Aku sendiri tidak ingat kapan aku pernah melakukan ini sebelumnya. Menangis dan tersenyum di waktu yang bersamaan.

“Nggak apa-apa,” kataku seraya mengambil tisu dan mengelap air yang telah membuat wajahku basah.

Sekarang giliran ia yang tersenyum. Sepertinya ia memang menungguku menjawab pertanyaannya.

“Apa kamu yakin? Tapi aku, kan, pernah salah?” tanyaku, kini tidak disertai senyuman, perasaanku lah penyebabnya. Perasaan takut menyerangku tiba-tiba.

“Setiap manusia pernah salah, kok.”
“Maksudku, aku pernah salah sama kamu. Waktu itu, aku meninggalkanmu hanya karena lebih memilih orang lain. Aku ini jah..........”
“Sssttt. Jangan menengok ke belakang, Putri! Kita belajar dari masa lalu, perbaiki kesalahan lalu, kita masih punya masa yang masih suci,” tuturnya dengan tatapan mata yang  selalu aku hapal, teduh.
“Aku tidak yakin bisa membahagiakanmu setelah menyakitimu,” ucapku tanpa menatap matanya. Aku tidak kuat.

Ia menghela nafas. Seolah melepaskan beberapa beban yang ia tahan sejak awal berjumpa denganku. Dan aku tahu persis beban itu.

“Memang sakit sekali, sih. Tapi entah kenapa rasa sayangku masih terlalu besar dari rasa benciku. Aku pikir, aku juga yang salah, aku kurang membahagiakanmu. Tidak seperti, hmmm laki-laki yang kamu pilih saat itu. Maka aku pikir, membahagiakanmu adalah penundaan. Dan inilah waktu yang tepat membahagiakanmu, setelah kamu bukan milik siapa-siapa.”
“Aku tetap jahat, Arya!” kataku dengan nada yang mulai meninggi.

Arya menghela nafas untuk kedua kalinya. Sendok di tangannya tidak mengayun selama berbicara padaku. Es krim di meja kami sama-sama mencair perlahan, mungkin terkena panas dari energi yang aku dan Arya keluarkan. Baru kali ini aku tidak menikmati makan es krim. Padahal dulu saat masih “bersama” Arya, tempat dengan papan nama “Ragusa” di depannya ini adalah tempat makan favoritku. Walau jauh dari rumah kami masing-masing, kami tetap pergi ke sini. Dan sekarang kami di sini dengan suasana dan kondisi yang jauh berbeda.

“Apakah sebaiknya kita berjalan sendiri-sendiri saja sekarang? Aku tidak ingin menyakitimu lagi. Sungguh,” ucapku memohon, tapi tidak sepenuh hati, sebab masih ada sepotong hatiku yang tertinggal padanya.

“Sebentar, aku ingin bertanya dulu.”
“Apa?”
“Anggap saja aku adalah rumah lamamu. Apakah kamu meninggalkanku karena aku tidak cukup baik untuk melindungimu? Sampai kamu mencari rumah baru? Aku tahu, Putri, rumah itu tidak salah. Jika sudah merasa tidak cocok dengan rumah, penghuninya berhak pindah. Tapi apakah kamu lupa, bukankah rumah itu bisa direnovasi?”
“Hmmm. Iya, benar, aku lupa.”
“Selain manusia pernah salah, setiap manusia juga pernah lupa.”
“Tapi aku lupa dengan sangat bodoh. Aku tidak yakin pulang ke rumah itu lagi, aku terlalu bersalah.”
“Jangan membohongi diri, Putri. Air matamu saja menjelaskannya padaku. Air matamu jatuh pertama dari mata sebelah kanan. Itu berarti kamu menangis karena bahagia. Lain halnya jika air matamu jatuh pertama dari mata sebelah kiri, itu baru kesedihan. Ya, kan?”

Aku menelan ludah. Aku tidak mengerti mengapa Arya selalu bisa menebak dengan tepat. Percuma saja aku mengelak. Sia-sia aku mengutuk diriku ini yang sudah terlanjur amat bodoh. Walaupun kisah masa lalu terus berputar di kepalaku, aku ternyata sangat bahagia saat Arya masih mau menerimaku, sekarang. Buktinya, air mata saja mengungkapkannya.

Arya tahu aku tidak mau mengutarakan perasaan bahagiaku. Dengan tenang, Arya memperjelas maksudnya.

“Jika kamu mau memperbaikinya, tetaplah di sini, nikmatilah es krimmu. Jika kamu masih enggan, maka kamu bisa meninggalkanku di sini, biarlah kita berjalan sendiri-sendiri seperti katamu. Aku akan berusaha melepaskanmu untuk kedua kalinya, setidaknya aku sudah agak terlatih untuk itu. Bahkan mungkin, kelak bisa jadi profesional. Hehe.”

Aku masih diam.

“Put? Bagaimana?”

Aku belum menjawab.

“Put? Put? Putri? Bangun!”


Aku membuka kedua mataku. Samar-samar, kulihat bagian belakang jok mobil, diduduki oleh seorang wanita yang memanggilku.

"Bangun, Putri! Kita sudah sampai di rumah baru."

Sial. Ternyata yang tadi itu hanya mimpi.

"Apa, Bu? Kita pindah rumah?" tanyaku yang baru menyadari ada sebuah kardus di pangkuanku. 

Ibuku malah tertawa kecil.

"Nyawamu belum kumpul, ya? Kita, kan, hari ini pindah rumah."

"Kenapa kita pindah?" tanyaku bingung, nyawaku benar-benar belum terkumpul.

"Rumah kita yang lama, kan, sudah nggak cocok untuk kita. Anggota keluarga kita sudah bertambah banyak, sedangkan rumah kita terlalu sempit. Sudah, sekarang kamu bawa barang-barang kamu, kita berbenah!"

Aku memilih terpaku sebentar, memandangi kardus coklat yang tidak terlalu berat di pangkuanku. Isi kardus coklat ini hanya barang-barang sederhana pemberian laki-laki bernama Arya, mantan kekasih yang masih mengikuti pikiranku. Terbesit satu kalimat di kepala: Apa benar cinta bisa kembali pulang?

Jumat, 19 September 2014

Gaun Biru Muda

Aku melepas roll hair satu per satu, lalu menyisir rambutku yang melengkung ke dalam dan jatuh ke bahu. Aku membenarkan poni yang sengaja kutata ke arah kanan wajahku, berharap poni ini akan tetap rapi walau diterpa angin di luar sana. Kubangunkan badanku dari kursi rias, meraih tas yang hanya berisikan ponsel dan dompet.

Gaun panjang biru muda yang aku kenakan malam ini, aku tampilkan sekali lagi di depan cermin besar. Cantik. Sengaja gaun pemberian Ibuku beberapa tahun lalu ini kukenakan, yang sebenarnya telah kuikrarkan untuk kupakai saat makan malam bersama, ya, seorang laki-laki idamanku. Tiba-tiba aku ingin menertawai diriku. Aku melanggar ikrarku sendiri. Mana mungkin aku mengenakan gaun ini untuk sekadar makan malam bersama seseorang? Aku saja sudah tidak bisa menghitung sudah keberapa kali aku patah hati. Dasar bodoh. Aku tetap ingin mengenakan gaun ini, setidaknya sebelum kematianku. Sungguh, aku sangat bahagia bisa mengenakan gaun ini.

Aku keluar dari kamar, menuruni anak tangga dengan mengangkat sedikit gaunku yang menyentuh keramik. Suara high heels-ku mengetuk-ngetuk lantai, memecah hening. Sekali lagi aku ingin tertawa. Bak Tuan Putri saja, Kau, Nona! “Tuan Putri yang Kesepian”, lebih tepatnya. Tentu saja, di rumah ini tidak ada siapa-siapa lagi kecuali aku. Ayah masih bekerja di perusahaan besarnya, biasanya akan pulang jika sudah pukul sembilan malam, jam-jam di mana keluarga sudah selesai makan malam bersama dan bercengkarama. Sementara aku sudah sangat sering di penjara megah ini, sendirian. Seorang pekerja rumah tangga di rumah ini hanya diperbolehkan bekerja sampai aku pulang dari kampus, tidak sampai menginap. Bagaimana caraku meramaikan rumah ini? Apa aku bakar saja rumah ini supaya ramai? Haha, klise.

Aku mengunci pintu dan pagar rumahku. Aku berjalan seolah aku akan benar-benar pergi makan malam bersama seseorang, ah, nyatanya, aku tidak tahu akan pergi ke mana.

Beruntungnya, kota yang kusinggahi ini sangat ramai, terlampau ramai malah. Aku menyusuri trotoar besar di sebelah jalan raya yang padat kendaraan. Aku hanya berjalan, mengikuti panjangnya susunan bata yang menjadi bahan trotoar besar ini. Memandang lurus dengan tatapan kosong. Lelah berjalan, aku membanting tubuhku duduk pada sebuah bangku kayu di tengah trotoar. Diam. Menunduk dan memandang lekat gaun biru muda yang masih licin tanpa kusut, namun pikiran dan hatiku lah yang sebenarnya kusut. Sejak kepergian Ibu dua tahun yang lalu, kehidupan serasa hanya sebuah mimpi.

Setiap aku terjaga dari tidur, aku selalu mengira aku sedang bermimpi, semua bukanlah kenyataan. Bahkan tidak ada yang menyadariku atau mencubitku untuk memberitahu aku sedang di mana? Di mimpikah? Pernah beberapa bulan setiap bangun pagi, aku malah menyuguhi diriku dengan sarapan air mata. Aku ketakutan. Aku takut aku masih terus di dalam mimpi dan tidak bisa bangun lagi. Sebab yang aku tahu, dunia nyataku adalah Ibuku masih hidup, tapi ini mimpi, kan? Ah, siapa yang peduli dengan ketakutanku? Bahkan setiap bangun pagiku, Ayah sudah buru-buru pergi ke perusahaan besarnya untuk melanjutkan kehidupannya. Ayah sangatlah cuek, namanya juga laki-laki, ya, bagiku semua laki-laki sebegitu cueknya.

Kini aku duduk, menyandarkan punggungku pada bangku ini karena lelah. Bukan hanya lelah kaki, tapi juga lelah hati. Selain Ayah, siapa lagi yang kupunya? Karena perusahaan besar Ayahku, aku tidak pernah lagi bertemu dengan saudara-saudara Ayah. Mengapa? Hai, apa aku masih mau berpikir bagaimana bisa itu terjadi? Huh, memikirkan cara bertemu Ayahku di waktu yang tepat saja sudah membuatku kehabisan tenaga. Lalu, Ibuku yang merupakan anak satu-satunya dan sudah yatim piatu sejak aku lahir, siapa saudaranya yang bisa kutemukan?

Atau mungkin aku bisa menemui seorang atau beberapa teman? Yang benar saja? Aku yang selama ini terlalu sering sendirian, menganggap teman itu tidak ada yang setia, percuma. Lebih baik berteman dengan diri sendiri, tidak diatur, tidak disakiti, tidak dimanfaatkan.

Dan di ujung angin malam, kesepian ini terasa benar-benar mematikan untukku.

Aku lebih baik pergi, menyusul Ibu dan bahagia di sana. Sederhana bukan?

Kini aku berencana mengikuti manusia-manusia kota dan memasuki tempat yang tak pernah kukunjungi sebelumnya. Entah diskotik, atau ‘cafe’, yang mungkin akan membunuhku secara baik-baik. Tapi sungguh, aku tidak bisa ‘minum’ dengan cara yang baik dan benar, bisa-bisa aku malah mati secara terkejut. Tidak, lagipula itu tidak membuatku mati seketika, hanya mematikan masa depan saja. Tanggung, kan?

Atau aku akan berjalan cepat ke tengah jalan raya tanpa melihat kendaraan yang melaju. Berharap ada kendaraan yang menabrakku hingga aku terpental beberapa meter. Tidak, aku tidak ingin menjadi wanita bergaun biru muda yang masuk koran dengan pose tubuh yang tercecer, menggelikan. Huek.

Atau aku akan berdiri di sebuah jembatan tinggi, melongok ke bawah dan menatap sungai dengan aliran air yang deras di bawahnya. Tanpa aba-aba, aku akan menjatuhkan tubuhku menuju sungai dengan tenang. Aku yakin kain gaunku akan berterbangan begitu indahnya bagai bidadari terbang. Kemudian, aku tenggelam dan hilang. Tapi sayang sekali, di dekat sini, sungai berisi banyak sampah, bukan air, namanya juga sungai kota.

Ah, aku tidak berbakat bunuh diri.

Ponselku berbunyi. Ayah memanggil.
“Halo.”
“Kamu di mana?”
“Di luar, Yah.”
“Cepat pulang!”
“Ya.”
Aku memutus panggilan. Ada ide mengalir cepat tiba-tiba. Ide bunuh diri yang sangat baik. Aku akan pulang, meminta maaf pada Ayah atas segala kesalahanku, lalu aku akan membunuhku dengan pisau yang biasa terletak di dapur rumah. Sungguh, bunuh diri yang sangat baik bukan?

Aku bergegas pulang, melepas high heels, berlari telanjang kaki agar aku cepat sampai rumah. Aku tahu aku akan ditertawakan Ayah pulang dengan dandanan seperti ini. Masa bodoh. Yang penting aku cepat pergi –entah ke rumah atau ke surga.



Ayah memperhatikanku dari ujung kaki hingga kepala.

“Kamu habis menemui siapa?” tanya Ayah yang duduk di sofa sambil membuka kacamatanya.
“Tidak  ada.”
“Tapi mengapa malam ini kamu cantik sekali?”

Sungguh, baru kali ini Ayah memuji, uh, meledekku.

“Iseng saja. Sayang, kan, gaun ini belum pernah dipakai,” ucapku asal, masih berdiri menghadap Ayah.
“Oh.”
“Ayah. Boleh aku minta waktumu sebentar?” tanyaku seraya duduk di sampingnya.
“Ya.”
“Aku ingin meminta maaf padamu, Ayah. Pasti selama ini aku pernah membuatmu kecewa, bahkan menyakiti Ayah. Maafkan aku,” ucapku lirih sambil menundukkan kepala.
“Ayah juga minta maaf,” balas Ayah tanpa senyum sedetikpun. Sudah kuduga, Ayah benar-benar tidak pernah peka.

Aku harus melanjutkan rencanaku. Baru saja akan menuju dapur, Ayah malah memanggil.
“Asha, tolong kunci pintu dahulu! Tadi, kan, kamu yang terakhir masuk rumah.”

Sungguh, baru kali ini Ayah memanggil namaku secara utuh. Ada sesuatu yang terasa berjalan melewati hatiku, entah apa.

Aku berjalan ogah ke arah pintu. Kunci yang kuputar menimbulkan bunyi sebanyak dua kali. Seusai mengunci pintu, aku membalikkan badan. Seketika, kini aku yang mengunci diriku, terpaku, menahan nafas, membelalakkan mata, dan hanya bisa berteriak sekencang yang aku bisa.

“Ayaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah!”


Ayahku mati. Dengan pisau yang harusnya membunuhku, pisau yang sudah aku rencanakan untuk membunuhku. Aku terlambat. Aku terlambat mati lebih dahulu. Aku terlambat menyelamatkan ayah. Tepat di atas meja dapur, tergeletak secarik kertas dengan tulisan: Ayah lelah. Ayah pun patah hati, bahkan sudah hancur karena tiadanya Ibumu. Ayah lebih kesepian. Kesepian bukan akhir dari segalanya, kematian lah yang mengakhiri segalanya. Jangan berniat mati karena kesepian, Asha. Cukup Ayah saja.

Minggu, 07 September 2014

Masa Depan

Terkadang, aku ingin sekali melihat masa depan
Aku ingin melihat diriku yang berubah menjadi lebih cantik
Ingin melihat wajah Ibu yang sudah beristirahat mengurusku, namun aku yang mengurus beliau, Ibu duduk manis dan membaca buku kesukaannya
Ingin memandang wajah berseri laki-laki tampan yang bersedia duduk bersamaku pada satu meja makan

Aku ingin memperhatikan setiap detil dunia yang semakin megah
Ingin memperhatikan orang-orang menggunakan benda-benda yang mirip alat sihir saking canggihnya
Ingin melihat robot-robot yang membantu manusia, serupa doraemon

Aku ingin sekali menatap manusia-manusia berlalu lalang di depanku, dan sesekali ada yang meraih tanganku untuk bersalaman atau mungkin minta berfoto
Ingin melihat film yang dibuat berdasarkan buku dengan namaku di halaman depannya
Ingin menepuktangani diriku yang sudah tidak takut lagi sekadar berbicara

Aku ingin mengintip diriku yang bercengkrama dengan keluarga besar, keluarga yang kudapatkan dari ledakan kesepian rumah lama
Ingin melihat aku menikmati kenyamanan rumah yang interiornya aku atur bersama laki-laki tampan tadi
Ingin melihat aku mencubit pipi anak kecil atau mengepang rambutnya, lalu berkata, "Kamu anak Mama yang cantik!"
Ingin melihat aku membenarkan sepatu anak kecil dan menambahkan topi di kepalanya, lalu berkata, "Kamu ganteng kayak Papa kamu!"

Sayangnya aku tidak bisa melihat masa depan
Tentu saja
Coba pikir!
Jika aku bisa melihat masa depan
Masa yang kupijaki kini bisa-bisa kacau balau

Sebab jika masa depanku sudah kutahui
Maka saat ini aku tidak akan seberjuang ini
Lalu, masa depan itu tidak pernah ada

Menyeramkan bukan?

Selasa, 19 Agustus 2014

Now Playing

Ini malam
Malam penuh lagu yang didendangkan tepat di telinga
Mengalun hingga mengisi isi kepalaku
Berjalan beriringan bersama dirimu
Ya, kamu yang kini aku pikirkan
Aku tersenyum malu-malu meresapi arti lagu
Ada kamu di dalamnya
Bagaimana bisa?
Aku tidak terganggu akan hadirmu yang selalu melayang di anganku sendiri
Aku menikmatinya
Sejenak, mengalir lirih

Aku menyayangimu

Aku rasa ini cukup

Tolong, rasakan gesekan angin dan dedaunan di tempat biasa
Kamu akan tahu ada yang mengagumimu dari jauh tapi dekat
Atau kamu akan tahu sewindu kemudian
Terhitung sejak awal kita bertemu
Suatu hari nanti, jangan cintai aku apa adanya
Sebab kamu lah teman hidupku, sepatu kiri
Ayo berlari!


Now Playing: Lagu-lagu dari “Tulus”

Jumat, 01 Agustus 2014

Kalimat Singkat

Seberapa kuat hati bisa menahan gejolak rasa? Aku jatuh cinta diam-diam. Senyumnya yang sejuk menjadikan mataku teduh. Ya Tuhan, betapa harunya aku. Sudah lama aku lupa akan perasaan ini. Kini hadir lagi bersama embusan angin malam yang cantik. Terima kasih, Tuhan Yang Maha Kuasa.






Sumber gambar: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgQxoQRidyOhYa3XOcr6iBXCDgW6VAR42a9cdKB891pds7zC6zSNYaY8DVKJ1-2mGpYH_1zo0qwHIXVslfabI5y7D5CJue6Hti70oOYmBJUEa1Tj3uDisVipz6zUPFO5GC8E9Iy6pdV0Q/s1600/tumblr_lcbrj9ov6r1qbg4z7o1_500_large.jpg

Selasa, 29 Juli 2014

Jika dan Hanya Jika

Seandainya aku ahli matermatika
Aku tidak akan menuliskannya
Sebab ini hanya rumus
Namun kini kujadikan kamus

Jika dan hanya jika
Jika saja kamu tahu aku menunggumu, dan itu hanya jika
Jika saja kamu tahu aku mengingatmu sekarang bahkan setiap hari, dan itu hanya jika
Jika saja kamu tahu ada manusia yang senang bernyanyi karena kamulah objeknya, dan itu hanya jika

Kepadamu yang aku sulit terka
Kepadamu yang aku coba terka
Kepadamu yang aku usahakan terka
Kepadamu yang aku sungguh-sungguh terka

Bagaimana caraku membuatmu melihatku dari sisi jendela yang berbeda?
Jika saja aku berhasil dan itu hanya jika
Bagaimana caraku memberikanmu sepercik kesejukan yang serupa dengan cuaca malam?
Jika saja aku sanggup dan itu hanya jika

Sebenarnya aku ingin menyebutkan sesuatu
Tentang berbagai hal yang mengenalkanku padamu
Atau sesuatu yang ingin kuperkenalkan padamu
Tapi aku takut kamu letih mendengarku, maka aku bergeming

Kau tahu?
Sebenarnya rasa takut itu terus menyerangku
Memasuki relung jiwa yang rapuh untuk berteriak
Hingga pada akhirnya, aktivitas itu menjadi bagian daripada aku
Aku ketakutan
Aku takut.............jatuh cinta



Jika cinta selalu bisa berlabuh tanpa ombak badai di lautan, dan itu hanya jika
Jika cinta tak lebih sulit memecahkan masalah matematika, dan itu hanya jika
Jika cinta mampu membuat kuat hati yang abadi, dan itu hanya jika
Jika cinta hanya sebuah perasaan yang tak harus memaksa untuk memiliki, dan itu hanya jika

Terima kasih, senja biru, rumus baru, kamusku yang haru
Jika saja kamu mendengar hatiku yang patah saat ini
Dan itu hanya jika





Sumber gambar: http://www.kawankumagz.com/articleFoto/Ketika_Cinta_Bertepuk_Sebelah_Tangan___.jpg

Rabu, 02 Juli 2014

Surat dari Tita untuk Adit

Untuk: Adit

Selamat pagi, matahariku. Akhirnya aku bisa menyapa pagimu, walau hanya lewat surat ini.

Sebenarnya aku bingung akan memulai suratku dari mana, tapi ada sesuatu yang bergejolak dalam diriku yang memaksaku untuk tetap menulis surat ini. Melalui surat ini aku ingin menyatakan sesuatu tentangmu.

Aku Tita, seseorang yang selalu memperhatikanmu, entah dari dekat atau dari jauh. Aku yang selalu tersenyum terpaksa saat bertemu atau berpapasan denganmu. Kamu tahu kenapa aku terpaksa? Tentu karena aku sebenarnya malu. Saat itu juga, dunia seolah berhenti berotasi, waktu terasa menghentikan detaknya, kakiku lemas seketika dan lemah untuk berdiri, kemudian aku bingung harus melakukan apa. Tapi saat kamu membalas senyumku dengan senyuman, aku selalu merasakan kesejukan, lalu matamu terlalu menyilaukan untukku.

Aku sangat bersyukur. Mengenalmu seperti anugerah terindah dalam hidupku. Mungkin kamu hanya ada 1 di dunia. Aku begitu bahagia dan banyak hal lain yang ada padamu yang membuatku bahagia. Walau kamu punya kekurangan, tapi aku paham, bukankah tidak ada manusia yang benar-benar sempurna? Bukankah saling melengkapi itu lebih romantis? Hmmm, bisakah kita?

Dit, aku tahu kebiasaanmu, kamu sering memuji dirimu sendiri. Padahal sebenarnya tanpa memuji pun kamu memang sudah begitu adanya, menawan. Bukan, bukan karena menawan aku jadi menyukaimu. Tapi karena aku menyukaimu, kamu jadi tampak menawan di mataku, sangat.

Dit, aku agak bingung akhir-akhir ini. Apa-apa yang kamu lakukan dan itu tertuju padaku, menjadi bergerak perlahan. Dari bangku sebelah yang kamu duduki, aku menyaksikanmu memberikan pulpen pada aku --yang duduk tepat di sampingmu, dengan gerakan yang tampak melambat. Berjalan perlahan dan akhirnya sampai di tanganku. Apa itu hanya perasaanku saja, ya?

Kamu pasti bingung sekarang. Padahal, sebelumnya aku kan membencimu. Benci dengan sikapmu yang cuek dan menyebalkan. Tapi Tuhan menciptakan banyak kebetulan, sampai pada akhirnya rasa benci itu mengganti dirinya menjadi rasa sayang. Kamu percaya?

Entah petunjuk dari mana, tapi aku yakin suatu saat kamu pasti akan menyatakan sesuatu padaku. Di manapun kamu menyatakan perasaanmu tentangku, entah itu di Paris --dekat Menara Eiffel, atau di bangku taman dekat rumahku, aku tetap bahagia. Kamu membawa mawar putih atau hanya sekadar datang dengan tangan kosong, aku tetap bersyukur. Dan apa pun perasaan yang kamu nyatakan kelak, baik atau buruk, aku akan tetap tersenyum, dengan atau tanpa air mata.

Terima kasih sudah membaca suratku.


Adit, aku sayang kamu, sayang.





Tita


***


(Surat ini diikutsertakan untuk tantangan #SuratCintaEiffel Adit-Tita @bentangpustaka)

Selasa, 01 Juli 2014

Pertanyaan Besar

Hai, Bintang!
Ke mana saja dirimu?
Kamu benar-benar bintang, ya?
Bisa tampil di hadapanku di tenangnya malam
Namun juga menghilang kala siang menjelang
Kamu, datang dan hilang, lagi dan lagi

Aku selalu punya pertanyaan besar, Bintang
Sebenarnya mana yang benar?
Kamu terlalu lelah menantiku lalu bersama yang lain,
atau aku yang sangat terlambat menyayangimu?

Aku sudah berusaha
Entah berusaha membuat jarak pada kita
Atau berusaha menguapkan rasa sayangku yang berdosa ini ke awan-awan
Hingga tak ada lagi kita
Dalam cerita indah, dalam cerita manis
Sama seperti cerita kita yang telah kau tulis dan kau bakar habis
Bahkan aku belum sempat tahu apa ending-nya
Kamu sudah memusnahkan itu
Baiklah, itu hakmu, Bintang

Perempuan yang kamu panggil bulan ini benar-benar bingung
Kamu selalu bilang bahwa esok akan berbeda
Tapi aku selalu menerka kamu bohong
Dia yang ada di sampingmu juga perempuan, dia juga punya hati
Aku tidak akan sampai hati menyakitinya

Namun, apa maksud dari semua khayalanmu?
Apa maksud dari segala cerita dan fiksi yang kau nyatakan?
Apa maksudmu, Bintang? Apa?
Jelaskan padaku! Aku mohon!

Semoga kalimatku ini tidak memberi efek apa-apa untukmu
Jangan balik menelponku
Sebab aku hanya ingin menyampaikan pesan
Sebab aku tak berhak atasmu
Tetap dia yang membahagiakanmu
Berbahagialah walau bukan aku alasanmu bahagia
Aku tahu diri aku siapa

Tunggu!
Tunggu dulu!
Aku ingin bertanya lagi
Kamu terlalu lelah menantiku lalu bersama yang lain,
atau aku yang sangat terlambat menyayangimu?
Apa jawabannya?

Mungkin hanya Tuhan yang tahu

Senin, 16 Juni 2014

Ketika Aku Harus Bawa Bekal

Kususuri jalan panjang yang mengikuti arus sungai kota
Bersama beberapa teman, aku mengendarai kuda besi bermesin
Aku mengejar yang di depan, juga teman di belakangku
Lalu aku tiba pada sebuah tempat

Kata orang-orang, ini tempat berkumpulnya ‘anak muda’
Aku yang juga merasa bagian dari mereka pun masuk
Asing bagiku, baru pertama aku datang
Aku tiba-tiba meragu untuk melangkah lebih jauh

Bukan perihal salah tempat, namun tampak penuh tempat
Aku dan teman-teman terlalu malu, hingga belum ada yang masuk di menit ke sekian
Sampai datanglah seorang laki-laki menghampiri
Aku yakin, laki-laki ini peka akan kebingunganku

Selayaknya malaikat acara, ia membawakan kursi lebih ke sebuah meja
Selayaknya tamu istimewa, kami disambut dan dipersilakan duduk
Aku memanggil nama seorang perempuan yang tidak sama cantik denganku
Ia dengan rambut sebahu lebih, menaikkan kedua ujung bibirnya
Aku telah dulu mengenalnya

Lagi-lagi, aku dan teman-teman seperti tamu istimewa
Kami duduk di posisi paling depan
Dengan seenaknya duduk padahal terlambat

Inti acara pun dimulai
Manusia-manusia asing satu per satu maju
Ada yang membawa secarik kertas, atau segenggam kertas digital
Aku mendengarkan suara-suara yang mereka suarakan

Tapi pikiranku tidak di tempatnya
Lain dari yang lain, aku tidak fokus pada puisi
Lain dari yang lain, aku lebih ingin memaknai posisi
Seiring waktu berlalu, setiap pasang mata sudah menampilkan diri

Kini giliranku...

Aku tidak fokus, lidahku agak kelu rasanya
Tapi bagaimanapun juga, aku harus tetap bersuara
Maka aku bunyikan pita suaraku, aku bacakan kalimat-kalimat syahdu
Mungkin tidak se-syahdu yang seharusnya, namun aku tetap melanjutkan sampai akhir
Selesai, lega bercampur tidak lega, sudahlah

Setidaknya aku tidak berpuisi sendirian seperti biasanya
Setidaknya aku belajar membuka mulutku saat di depan orang banyak
Setidaknya aku sedang menjajaki jalur menuju citaku
Ya, citaku!

Aku hampir lupa pada waktu
Sudah puluhan menit aku hanya duduk dengan canggung
Kecanggungan berganti kesadaran
Ini tempat makan dan minum berbayar
Dengan perintah kesadaran, aku memesan sesuatu

Angka-angka yang tertera lebih dari empat
Dua atau tiga angka nol berbaris rapi di sebelah kanan titik
Aku agak tertegun, bukan karena apa-apa

Sementara itu...

Kamu menuju suatu tempat yang lain
Aku memang tidak mengikutimu, tapi sedikit bisa membayangkannya
Kamu di antara manusia-manusia asing pula
Mungkin ada yang kamu kenali tapi tidak semua

Kamu punya cita di sana, seperti ceritamu padaku sebelumnya
Kamu berniat untuk  membuat orang lain tertawa
Dengan ‘komedi berdiri’ yang sedang merajai kekreatifan negara
Aku tidak menontonmu tapi sedikit ada gambaran untukku

Pasti banyak orang yang memberi suguhan lucu dan manis
Semanis minuman segar yang disediakan berbayar
Aku tidak tahu jelas berapa banyak angka yang tertera di sana
Entah tertera pada menu di papan tulis hitam
Atau tertera pada buku bergambar makanan dan minuman

Aku mengira bahwa kamu seperti aku, sedang tertegun
Bahkan jika kamu tidak mencicipi sedikit saja
Kamu bisa saja didapati sedang diledeki yang lain
Yang tabah, ya, kamu!

Hal yang tersirat pada benak kita masing-masing
Apakah cita berbanding lurus dengan harga makanan?
Apakah cita bisa dicapai dengan membeli minuman segar?
Apa harus menggembungkan dompet untuk meraih impian?

Lagi-lagi ini hal lain yang mungkin hanya dipikir oleh kita
Bukan berfokus pada puisi
Bukan berfokus pada komedi
Aku dan kamu bergumam, “Apa bulan depan kita bawa bekal saja?”
Bekal yang entah dibawa dari rumah, atau bekal yang yang kita beli di jalan
Apa pun itu, bekal bisa menambah tenaga kita berkarya, kan?

Sepulangnya kita dari tempat cita
Banyak hal yang dipelajari dan menjadi pelajaran
Lalu terbesit satu hal yang kamu juga tahu

Kelak saat kita tampil kembali pada acara yang sama
Saat kita lebih percaya diri dari bulan kemarin
Saat itu juga kita berucap, “Ketika aku harus bawa bekal...”
Bukan hanya bekal makanan dan minuman

Namun juga bekal kemampuan