Sabtu, 21 Desember 2013

Selamat Hari Ibu, Ma!



Seandainya setiap hari adalah hari Ibu, setiap anak pasti akan selalu berbakti pada ibunya.

Ibu yang aku sebut dengan nama: Mama!


Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Mama, apa kabar? Aku sangat berharap mama selalu sehat, baik, dan dalam lindungan Allah SWT.
Ma, hari ini aku ingat sesuatu. Aku ingat kalau besok adalah hari Ibu, harinya Mama.
Sengaja aku buka lemari dan buka-buka album foto saat semua masih lengkap. Ada foto Mama sama papa, ada foto nenek, om, tante, paman, bibi. Masih lengkap.
Salah satu foto yang buat aku tercengang:


Mama menggendong aku

 
Mama yang membuat aku menjadi "hidup", bahkan sampai bisa menulis ini. Aku sangat bersyukur karena aku diberi kesempatan untuk melihat dunia ini, Ma.
Bayi yang Mama gendong itu benar-benar seperti tak berdaya, tidak bisa melakukan apa-apa. Aku sampai ngebayangin bagaimana kalau aku yang masih bayi dan tidak berdaya itu didiamkan saja, atau bahkan dibuang. Tapi Mama dengan rela mau bantuin aku supaya tumbuh dan menjadi “seseorang” dalam hidup ini. Alhamdulillah. :)

Mama selalu membuat aku bahagia. Dari kecil aku selalu diajarin “tersenyum”, bahkan sampai sekarang. Artinya aku harus selalu tersenyum walaupun banyak cobaan dalam hidup ini. 

Mama yang ngajarin aku “tersenyum”

Mama bukan orang yang pelit bahkan sangat-sangat dermawan. Kalau ada makanan, aku selalu didahulukan, kalau habis, Mama nggak pernah protes, malah Mama seneng banget aku bisa ngabisin makanan yang Mama masak atau Mama beli.



Aku terus tumbuh-tumbuh-berkembang. Hingga pada saatnya aku mengijak usia 9 tahun. Aku masih kelas 4 SD, dan sesuatu terjadi………

Papa meninggal.
Mama kehilangan pasangan hidup Mama yang sangat Mama cintai.
Aku masih ingat, Ma. Setelah itu kita pergi dan berpindah rumah. Tapi aku yakin kenangan tentang kita dan papa nggak akan pergi. Mama lebih memilih untuk nggak menikah lagi. Mama memang wanita yang sangat setia.

Masa-masa nggak ada papa memang cukup berat. Mama harus berjualan nasi uduk, lontong sayur, gado-gado, rujak, dan karedok di depan rumah dan menyiapkannya dari sebelum Subuh. Mama harus mengerjakan semuanya tanpa bantuan dari keluarga atau orang lain.



Pekerjaan Mamaku :')
Dulu aku yang punya waktu senggang pun ikut membantu sebisanya. Pergi belanja bahan-bahan dagangan naik sepeda, gilingin kacang tanah, goreng: kacang tanah, kerupuk, bakwan, tempe, tahu. Bahkan juga bantuin pekerjaan rumah, kayak nyapu, ngepel, nyuci baju, nyuci piring, bersihin kamar mandi. Tapi sekarang? Aku terlalu sibuk! Aku udah nggak sempet bantuin Mama. Aku sibuk sama urusanku sendiri. :(
 
Aku pernah ngebantah Mama. Aku pernah nyuekin Mama ngomong. Aku selalu nyusahin Mama. Aku masih suka egois.

Saat aku ngebantah Mama, harusnya aku inget bagaimana Mama membuat aku jadi “hidup”, capek ngebesarin aku, bangun tengah malam buat nenangin aku, ngerawat aku sampai sekarang dengan biaya GRATIS!
Saat aku cuekin Mama, harusnya aku inget saat Mama selalu dengerin pertanyaan-pertanyaan aku dan Mama selalu jawab dengan lembut.
Saat aku selalu nyusahin Mama, harusnya aku inget kalau Mama yang sekarang butuh aku, Mama yang kebutuhannya perlu dicukupi, Mama!
Saat aku masih suka egois dan lebih mentingin urusanku, harusnya aku inget Mama yang selalu inget aku, Mama yang selalu khawatir kalau aku belum pulang, Mama yang selalu mikirin aku dan mendo’akan aku, walaupun aku nggak tahu, atau bahkan nggak mau tahu, Astagfirullah.
Saat aku merasa sudah hebat, harusnya aku ingat ini dalam-dalam: “Dibalik kesuksesan seorang anak, terdapat do’a dan dukungan seorang IBU”.

Mama, terima kasih. Terima kasih banyak yang melebihi banyak.

Maafkan anakmu ini yang banyak melakukan kesalahan padamu, Ma.

“Ya Allah, ampunilah aku dan kedua orangtuaku kasihanilah mereka sebagaimana mereka mendidik aku ketika aku masih kecil, Aamiin.”

Surga di telapak kakimu, Ma. Semoga Allah selalu menjaga Mama dan memberikan Mama senyum bahagia di dunia dan akhirat, Aamiin… :)

Selamat hari Ibu, Mama!
Aku sangat cinta dan sayang padamu, Ma! :)


Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Anakmu,

  
Sandra




Minggu, 08 Desember 2013

Ikan untuk Lauk Makan


Kami dari keluarga yang kurang mampu. Hidup seadanya saja. Makan nasi dengan terasi, tidak ada lauk, itu pun sudah bersyukur. Kehidupan ibuku sebagai seorang pedagang padi. Kadang untung, kadang rugi karena ibuku dibohongi oleh suami temannya yang bekerja sebagai tukang becak. Padi tersebut sering diambil oleh tukang becak itu, yang juga pengangkut padi milik ibuku. Aku melihat pekerjaan ibuku dan aku merasa kasihan, lalu aku turun tangan. Ibuku istirahat, aku yang berdagang, saat aku berumur 17 tahun. Lalu akulah yang mengetahui bahwa padi yang diangkut oleh suami teman ibuku itu dijual kepada temannya yang lain, kemudian ketahuan olehku. Aku bertanya pada pembeli padi tersebut “Beli dari siapa itu padi?” “Dari suami temannya ibumu.” Lalu padi tsb dijemur untuk ditimbang dan digiling. Ternyata, 50 kg dari satu karung padi yang memiliki berat 100 kg itu diambil, serta timbangan yang digunakan, sengaja diinjak oleh suami teman ibuku agar berat padi tetap memiliki berat 100 kg. Kemudian aku bertanya, “Kenapa timbangan itu diinjak?” Ia menjawab “Tidak.” Ibuku berkata lagi “ Coba sekarang ditimbang ulang! Kamu menjauh!” Setelah ia mundur dari timbangan tersebut, ternyata timbangan itu benar-benar hanya 50 kg. “Tidak mau tahu, dan aku tidak mau rugi. Itu urusanmu dengan suamimu.” kataku pada istrinya. “Tidak begitu.” Akupun berkata “Aku bukan ibuku yang bisa kau bohongi, walaupun aku masih kecil, tapi cara berpikirku dewasa.” Temanku itu membalas, “Oh ya sudah, besok ibumu saja yang berdagang.” “Oh tidak. Aku saja yang meneruskan berdagang. Ibuku biar saja istirahat,” ucapku kesal.

Lalu setelah aku yang meneruskan berdagang, akhirnya aku mendapatkan untung, membawa pulang beras 2 kg serta uang sebesar Rp 3.000,-. Sesampainya di rumah, aku menceritakan perihal kebohongan teman ibuku. Akhirnya ibuku tertawa dan berkata ,“Berarti selama ini aku dibohongi dan aku tidak tahu. Maafkan aku ya, Nak.”

Satu hal yang membahagiakan untuk kami. Akhirnya aku bisa membeli ikan sebagai lauk makan kami.

-Diceritakan langsung oleh ibuku, Bunami-

#CeritaDariKamar - Boneka Kura-Kura


#CeritaDariKamar
Boneka Kura-Kura

 
Aku memiliki boneka kura-kura yang diletakkan di dekat bantalku. Boneka kura-kura itu bukanlah boneka biasa, karena boneka itu menyimpan cerita serta cahaya. Cerita yang tersimpan di dalam boneka  itu terjadi saat aku masih menjalani kehidupan di Sekolah Menengah Kejuruan. Cerita tersebut berawal dari seorang temanku yang meminjam bukuku pada bulan September 2011. Buku itu dipinjam untuk kakaknya sebagai bahan tugas kuliah. Setelah selesai digunakan, temanku menghubungiku untuk mengembalikan buku tersebut. Pada bulan September yang merupakan bulan ulang tahunku, temanku meminta aku untuk menemuinya di dekat masjid sekolah. Masjid sekolahku bertingkat, dan tempat ibadah untuk perempuan berada di lantai atas. Aku pun menuruni tangga untuk menemui temanku. Aku tersenyum saat melihatnya, ia pun demikian. Temanku menyerahkan buku yang dipinjamnya padaku, namun di dalam lembaran buku ada suatu benda yang membuat buku tersebut tidak tertutup rapat. Aku mengucapkan terima kasih sambil mengambil buku tersebut. Aku sempat bingung dengan buku yang aku terima, tapi  temanku hanya memberi buku tersebut, lalu pergi. Aku kembali ke lantai atas masjid sekolah, di sana aku membuka buku yang menjadi tebal karena terisi sesuatu. Aku kaget melihat boneka kura-kura yang  menjadi isi dari buku tersebut. Aku menatap boneka kura-kura itu dengan heran. Aku  mencari tombol di bagian bawah boneka, aku mengaturnya menjadi “on”. Setelah itu, aku menekan tombol yang ada di bagian atas boneka kura-kura itu. Lalu, aku dan teman-teman yang berada di sekitarku merasa terkejut. Di langit-langit masjid, kami melihat cahaya bintang-bintang dan satu cahaya bulan sabit. Terlihat indah bagi kami, apalagi ditambah dengan lagu yang biasa diputar sebelum tidur. Aku merasa terharu. Boneka kura-kura itu merupakan hadiah ulang tahunku.


  

 
Di kamar, aku suka menyalakan cahaya dari boneka kura-kura itu. Indah sekali bila malam hari aku melihat cahaya bulan bintang di langit-langit kamar, disertai lagu sebelum tidur, membuat aku memekarkan senyumku tanpa aku sadari.

 

Tapi, di tahun 2013 ini, aku kehilangan cahaya itu. Boneka itu sudah tidak bisa bercahaya lagi. Aku  juga tidak tahu apa penyebabnya. Namun boneka itu masih duduk manis di dekat bantalku. Di tahun ini juga, aku sudah lulus dari Sekolah Menengah Kejuruan dan sudah bekerja. Begitu pula dengan teman yang memberiku boneka kura-kura itu, ia sudah bekerja. Kami sudah tidak pernah bertemu lagi. Mungkin boneka kura-kura itu mengerti aku.  Boneka kura-kura itu tidak ingin melihat aku mengingat temanku saat aku memainkannya. Boneka kura-kura itu pasti sedih jika aku merindukan temanku yang sudah berada jauh dariku. Boneka itu tidak ingin aku sedih mengingat kenangan yang telah terjadi bersama temanku. Aku akui, kenangan bersamanya memang cukup indah, karena temanku tersebut adalah seorang yang puitis dan romantis. Kami sama-sama menyukai bulan dan bintang. Pasti itu alasan mengapa ia memberiku boneka kura-kura itu. Walaupun boneka kura-kura itu sudah tidak bisa bercahaya dan memainkan lagu sebelum tidur, boneka kura-kura itu tetap mempunyai cerita. Cerita antara bulan dan bintang. Cerita tentang aku dan temanku.