Jumat, 01 Agustus 2014

Kalimat Singkat

Seberapa kuat hati bisa menahan gejolak rasa? Aku jatuh cinta diam-diam. Senyumnya yang sejuk menjadikan mataku teduh. Ya Tuhan, betapa harunya aku. Sudah lama aku lupa akan perasaan ini. Kini hadir lagi bersama embusan angin malam yang cantik. Terima kasih, Tuhan Yang Maha Kuasa.






Sumber gambar: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgQxoQRidyOhYa3XOcr6iBXCDgW6VAR42a9cdKB891pds7zC6zSNYaY8DVKJ1-2mGpYH_1zo0qwHIXVslfabI5y7D5CJue6Hti70oOYmBJUEa1Tj3uDisVipz6zUPFO5GC8E9Iy6pdV0Q/s1600/tumblr_lcbrj9ov6r1qbg4z7o1_500_large.jpg

Selasa, 29 Juli 2014

Jika dan Hanya Jika

Seandainya aku ahli matermatika
Aku tidak akan menuliskannya
Sebab ini hanya rumus
Namun kini kujadikan kamus

Jika dan hanya jika
Jika saja kamu tahu aku menunggumu, dan itu hanya jika
Jika saja kamu tahu aku mengingatmu sekarang bahkan setiap hari, dan itu hanya jika
Jika saja kamu tahu ada manusia yang senang bernyanyi karena kamulah objeknya, dan itu hanya jika

Kepadamu yang aku sulit terka
Kepadamu yang aku coba terka
Kepadamu yang aku usahakan terka
Kepadamu yang aku sungguh-sungguh terka

Bagaimana caraku membuatmu melihatku dari sisi jendela yang berbeda?
Jika saja aku berhasil dan itu hanya jika
Bagaimana caraku memberikanmu sepercik kesejukan yang serupa dengan cuaca malam?
Jika saja aku sanggup dan itu hanya jika

Sebenarnya aku ingin menyebutkan sesuatu
Tentang berbagai hal yang mengenalkanku padamu
Atau sesuatu yang ingin kuperkenalkan padamu
Tapi aku takut kamu letih mendengarku, maka aku bergeming

Kau tahu?
Sebenarnya rasa takut itu terus menyerangku
Memasuki relung jiwa yang rapuh untuk berteriak
Hingga pada akhirnya, aktivitas itu menjadi bagian daripada aku
Aku ketakutan
Aku takut.............jatuh cinta



Jika cinta selalu bisa berlabuh tanpa ombak badai di lautan, dan itu hanya jika
Jika cinta tak lebih sulit memecahkan masalah matematika, dan itu hanya jika
Jika cinta mampu membuat kuat hati yang abadi, dan itu hanya jika
Jika cinta hanya sebuah perasaan yang tak harus memaksa untuk memiliki, dan itu hanya jika

Terima kasih, senja biru, rumus baru, kamusku yang haru
Jika saja kamu mendengar hatiku yang patah saat ini
Dan itu hanya jika





Sumber gambar: http://www.kawankumagz.com/articleFoto/Ketika_Cinta_Bertepuk_Sebelah_Tangan___.jpg

Rabu, 02 Juli 2014

Surat dari Tita untuk Adit

Untuk: Adit

Selamat pagi, matahariku. Akhirnya aku bisa menyapa pagimu, walau hanya lewat surat ini.

Sebenarnya aku bingung akan memulai suratku dari mana, tapi ada sesuatu yang bergejolak dalam diriku yang memaksaku untuk tetap menulis surat ini. Melalui surat ini aku ingin menyatakan sesuatu tentangmu.

Aku Tita, seseorang yang selalu memperhatikanmu, entah dari dekat atau dari jauh. Aku yang selalu tersenyum terpaksa saat bertemu atau berpapasan denganmu. Kamu tahu kenapa aku terpaksa? Tentu karena aku sebenarnya malu. Saat itu juga, dunia seolah berhenti berotasi, waktu terasa menghentikan detaknya, kakiku lemas seketika dan lemah untuk berdiri, kemudian aku bingung harus melakukan apa. Tapi saat kamu membalas senyumku dengan senyuman, aku selalu merasakan kesejukan, lalu matamu terlalu menyilaukan untukku.

Aku sangat bersyukur. Mengenalmu seperti anugerah terindah dalam hidupku. Mungkin kamu hanya ada 1 di dunia. Aku begitu bahagia dan banyak hal lain yang ada padamu yang membuatku bahagia. Walau kamu punya kekurangan, tapi aku paham, bukankah tidak ada manusia yang benar-benar sempurna? Bukankah saling melengkapi itu lebih romantis? Hmmm, bisakah kita?

Dit, aku tahu kebiasaanmu, kamu sering memuji dirimu sendiri. Padahal sebenarnya tanpa memuji pun kamu memang sudah begitu adanya, menawan. Bukan, bukan karena menawan aku jadi menyukaimu. Tapi karena aku menyukaimu, kamu jadi tampak menawan di mataku, sangat.

Dit, aku agak bingung akhir-akhir ini. Apa-apa yang kamu lakukan dan itu tertuju padaku, menjadi bergerak perlahan. Dari bangku sebelah yang kamu duduki, aku menyaksikanmu memberikan pulpen pada aku --yang duduk tepat di sampingmu, dengan gerakan yang tampak melambat. Berjalan perlahan dan akhirnya sampai di tanganku. Apa itu hanya perasaanku saja, ya?

Kamu pasti bingung sekarang. Padahal, sebelumnya aku kan membencimu. Benci dengan sikapmu yang cuek dan menyebalkan. Tapi Tuhan menciptakan banyak kebetulan, sampai pada akhirnya rasa benci itu mengganti dirinya menjadi rasa sayang. Kamu percaya?

Entah petunjuk dari mana, tapi aku yakin suatu saat kamu pasti akan menyatakan sesuatu padaku. Di manapun kamu menyatakan perasaanmu tentangku, entah itu di Paris --dekat Menara Eiffel, atau di bangku taman dekat rumahku, aku tetap bahagia. Kamu membawa mawar putih atau hanya sekadar datang dengan tangan kosong, aku tetap bersyukur. Dan apa pun perasaan yang kamu nyatakan kelak, baik atau buruk, aku akan tetap tersenyum, dengan atau tanpa air mata.

Terima kasih sudah membaca suratku.


Adit, aku sayang kamu, sayang.





Tita


***


(Surat ini diikutsertakan untuk tantangan #SuratCintaEiffel Adit-Tita @bentangpustaka)

Selasa, 01 Juli 2014

Pertanyaan Besar

Hai, Bintang!
Ke mana saja dirimu?
Kamu benar-benar bintang, ya?
Bisa tampil di hadapanku di tenangnya malam
Namun juga menghilang kala siang menjelang
Kamu, datang dan hilang, lagi dan lagi

Aku selalu punya pertanyaan besar, Bintang
Sebenarnya mana yang benar?
Kamu terlalu lelah menantiku lalu bersama yang lain,
atau aku yang sangat terlambat menyayangimu?

Aku sudah berusaha
Entah berusaha membuat jarak pada kita
Atau berusaha menguapkan rasa sayangku yang berdosa ini ke awan-awan
Hingga tak ada lagi kita
Dalam cerita indah, dalam cerita manis
Sama seperti cerita kita yang telah kau tulis dan kau bakar habis
Bahkan aku belum sempat tahu apa ending-nya
Kamu sudah memusnahkan itu
Baiklah, itu hakmu, Bintang

Perempuan yang kamu panggil bulan ini benar-benar bingung
Kamu selalu bilang bahwa esok akan berbeda
Tapi aku selalu menerka kamu bohong
Dia yang ada di sampingmu juga perempuan, dia juga punya hati
Aku tidak akan sampai hati menyakitinya

Namun, apa maksud dari semua khayalanmu?
Apa maksud dari segala cerita dan fiksi yang kau nyatakan?
Apa maksudmu, Bintang? Apa?
Jelaskan padaku! Aku mohon!

Semoga kalimatku ini tidak memberi efek apa-apa untukmu
Jangan balik menelponku
Sebab aku hanya ingin menyampaikan pesan
Sebab aku tak berhak atasmu
Tetap dia yang membahagiakanmu
Berbahagialah walau bukan aku alasanmu bahagia
Aku tahu diri aku siapa

Tunggu!
Tunggu dulu!
Aku ingin bertanya lagi
Kamu terlalu lelah menantiku lalu bersama yang lain,
atau aku yang sangat terlambat menyayangimu?
Apa jawabannya?

Mungkin hanya Tuhan yang tahu

Senin, 16 Juni 2014

Ketika Aku Harus Bawa Bekal

Kususuri jalan panjang yang mengikuti arus sungai kota
Bersama beberapa teman, aku mengendarai kuda besi bermesin
Aku mengejar yang di depan, juga teman di belakangku
Lalu aku tiba pada sebuah tempat

Kata orang-orang, ini tempat berkumpulnya ‘anak muda’
Aku yang juga merasa bagian dari mereka pun masuk
Asing bagiku, baru pertama aku datang
Aku tiba-tiba meragu untuk melangkah lebih jauh

Bukan perihal salah tempat, namun tampak penuh tempat
Aku dan teman-teman terlalu malu, hingga belum ada yang masuk di menit ke sekian
Sampai datanglah seorang laki-laki menghampiri
Aku yakin, laki-laki ini peka akan kebingunganku

Selayaknya malaikat acara, ia membawakan kursi lebih ke sebuah meja
Selayaknya tamu istimewa, kami disambut dan dipersilakan duduk
Aku memanggil nama seorang perempuan yang tidak sama cantik denganku
Ia dengan rambut sebahu lebih, menaikkan kedua ujung bibirnya
Aku telah dulu mengenalnya

Lagi-lagi, aku dan teman-teman seperti tamu istimewa
Kami duduk di posisi paling depan
Dengan seenaknya duduk padahal terlambat

Inti acara pun dimulai
Manusia-manusia asing satu per satu maju
Ada yang membawa secarik kertas, atau segenggam kertas digital
Aku mendengarkan suara-suara yang mereka suarakan

Tapi pikiranku tidak di tempatnya
Lain dari yang lain, aku tidak fokus pada puisi
Lain dari yang lain, aku lebih ingin memaknai posisi
Seiring waktu berlalu, setiap pasang mata sudah menampilkan diri

Kini giliranku...

Aku tidak fokus, lidahku agak kelu rasanya
Tapi bagaimanapun juga, aku harus tetap bersuara
Maka aku bunyikan pita suaraku, aku bacakan kalimat-kalimat syahdu
Mungkin tidak se-syahdu yang seharusnya, namun aku tetap melanjutkan sampai akhir
Selesai, lega bercampur tidak lega, sudahlah

Setidaknya aku tidak berpuisi sendirian seperti biasanya
Setidaknya aku belajar membuka mulutku saat di depan orang banyak
Setidaknya aku sedang menjajaki jalur menuju citaku
Ya, citaku!

Aku hampir lupa pada waktu
Sudah puluhan menit aku hanya duduk dengan canggung
Kecanggungan berganti kesadaran
Ini tempat makan dan minum berbayar
Dengan perintah kesadaran, aku memesan sesuatu

Angka-angka yang tertera lebih dari empat
Dua atau tiga angka nol berbaris rapi di sebelah kanan titik
Aku agak tertegun, bukan karena apa-apa

Sementara itu...

Kamu menuju suatu tempat yang lain
Aku memang tidak mengikutimu, tapi sedikit bisa membayangkannya
Kamu di antara manusia-manusia asing pula
Mungkin ada yang kamu kenali tapi tidak semua

Kamu punya cita di sana, seperti ceritamu padaku sebelumnya
Kamu berniat untuk  membuat orang lain tertawa
Dengan ‘komedi berdiri’ yang sedang merajai kekreatifan negara
Aku tidak menontonmu tapi sedikit ada gambaran untukku

Pasti banyak orang yang memberi suguhan lucu dan manis
Semanis minuman segar yang disediakan berbayar
Aku tidak tahu jelas berapa banyak angka yang tertera di sana
Entah tertera pada menu di papan tulis hitam
Atau tertera pada buku bergambar makanan dan minuman

Aku mengira bahwa kamu seperti aku, sedang tertegun
Bahkan jika kamu tidak mencicipi sedikit saja
Kamu bisa saja didapati sedang diledeki yang lain
Yang tabah, ya, kamu!

Hal yang tersirat pada benak kita masing-masing
Apakah cita berbanding lurus dengan harga makanan?
Apakah cita bisa dicapai dengan membeli minuman segar?
Apa harus menggembungkan dompet untuk meraih impian?

Lagi-lagi ini hal lain yang mungkin hanya dipikir oleh kita
Bukan berfokus pada puisi
Bukan berfokus pada komedi
Aku dan kamu bergumam, “Apa bulan depan kita bawa bekal saja?”
Bekal yang entah dibawa dari rumah, atau bekal yang yang kita beli di jalan
Apa pun itu, bekal bisa menambah tenaga kita berkarya, kan?

Sepulangnya kita dari tempat cita
Banyak hal yang dipelajari dan menjadi pelajaran
Lalu terbesit satu hal yang kamu juga tahu

Kelak saat kita tampil kembali pada acara yang sama
Saat kita lebih percaya diri dari bulan kemarin
Saat itu juga kita berucap, “Ketika aku harus bawa bekal...”
Bukan hanya bekal makanan dan minuman

Namun juga bekal kemampuan

Minggu, 15 Juni 2014

Surat untuk Ayah

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Teruntuk ayah yang aku panggil dengan sebutan “Papa”.

Selamat malam, Pa! Bagaimana kabar Papa? Pasti baik :)

Selamat Hari Ayah, ya, Pa! Selamat harinya Papa, selamat harinya pria terhebat dalam hidupku. Hal yang ingin aku ucapkan terlebih dahulu: aku rindu Papa, rindu sekali, teramat rindu. Papa sedang apa di sana? Apa Papa juga merindukanku? Kapan kita bisa bertemu, Pa?

Anakmu yang manja ini sedang senang-senangnya menulis. Jadi, anak semata wayangmu ini menulis surat ini untuk Papa. Surat ini aku tulis sambil mendengarkan instrumen lagu kesukaanku, lho. Lagu yang selalu mengingatkan masa kecilku, Pa. Dulu Papa selalu tampil khas dengan perhatian yang tidak terlalu tampak, tapi selalu sukses menyentuh hatiku. Mungkin setiap ayah di dunia begitu. Cuek tapi perhatian, dengan cara mereka sendiri. Juga papa.

Perhatian Papa sungguh sederhana. Mengajariku mengendarai sepeda, mengajariku berenang, mengajariku membaca komik dan menonton kartun, membenarkan aku menghitung matematika, lalu.... Ah, banyak sekali perhatian sederhanamu, Pa. Semua pemberian Papa istimewa sekali bagiku, karena Papa yang pertama menjadi pria teromantis di duniaku.

Pa, sekarang aku sudah akan dewasa. Aku tidak akan sebesar ini jika tanpa bantuan Papa. Aku tidak akan jadi apa-apa seperti sekarang, kalau Papa tidak mengajariku banyak hal. Sekarang, Papa jangan lelah-lelah, ya. Sebab aku akan berusaha, Pa. Berusaha menjadi anak yang Papa banggakan. Aku akan berjuang untuk meraih cita-citaku, Pa.

Pa, Papa sangat beruntung, Papa dicintai oleh malaikat dunia yang juga sangat spesial untukku: Mama. Aku yakin Mama juga sangat merindukan Papa. Sangat, Pa. Tapi Mama jauh lebih tegar dari aku. Mama tidak menunjukkan kesepian dan kesendiriannya. Mama tetap bersemangat untuk membahagiakan aku, seperti Papa membahagiakanku. Aku sangat beruntung memiliki ibu dan ayah seperti Mama dan Papa. Alhamdulillah.

Papa, bagaimana aku mengucapkan terima kasih yang teramat sangat padamu?

Jiwamu masih terasa ada, Pa. Seolah menyemangatiku dan menguatkan Mama. Walau di rumah yang berbeda, kami masih menggantungkan bingkai dengan foto Papa di dinding. Foto hitam putih Papa yang masih terlihat amat sehat. Aku senang melihat senyum Papa di foto itu. Lagi-lagi, Papa pria pertama yang tertampan di duniaku.

Pa, sebenarnya aku tidak kuat mengetik surat ini. Aku benar-benar merindukan Papa. Air mataku tiba-tiba keluar mengalir. Maaf, ya, Pa, aku masih cengeng sampai sekarang.

Aku sangat jarang pergi ke laut, Pa. Maka maafkan aku yang tidak tahu bagaimana cara bertemu Papa. Aku tidak bisa membawakan bunga untuk Papa. Tapi do’aku mudah-mudahan bisa menjadi penawar rindu antara aku dan Papa. Semoga do’aku memberi bahagia dan ketenangan untuk Papa. Semoga Tuhan selalu mendengar setiap do’a untuk Papa.

Aku sangat mencintaimu, Papa. Aku sangat merindukanmu. Papa baik-baik, ya, Pa.

Semoga surat ini sampai ke surga.


Wassalamu'alaikum Wr. Wb.




Salam manis dari anak pertama dan terakhirmu,




Sandra

Kamis, 12 Juni 2014

Cinta

Kelopak mataku terbuka
Tak cepat tetapi juga tak lambat
Aku melihat langit-langit yang putih
Bawahku empuk dan aku berbaring

Aku berusaha menemui pikiranku
Aku bertanya apa yang terjadi
Ia menjawab, "Kamu baru saja bermimpi."
Aku menghela nafas, ternyata aku tidak jadi jatuh

Aku masih menatap langit-langit yang putih
Mengingat ulang mimpi burukku
Tubuhku bangun menuju jendela kamar
Mengintip dan melihat pagi


"Hari masih cerah," ucapku dalam hati
Aku beranjak dan menuju teras rumah
Aku duduk pada sebuah kursi bambu
Menahan badan dengan kedua tangan di dudukan dan menggoyangkan kedua kakiku

Aku sangat suka dengan pagi
Saat yang paling tepat untuk bersemangat
Aku juga masih suka dirimu
Tapi belum pernah ada waktu yang tepat untuk menjelaskannya

Pagi ini aku tidak ingin berteriak seperti biasanya
Aku yakin Tuhan juga mendengar setiap bisikanku
Bisikan  mengenaimu
Bisikan atas cerita seputarmu

Rasa degup jantung kala itu benar-benar menggempa
Untung saja jantung ini diberi lem yang sangat kuat oleh penciptaNya
Kalau tidak, lepaslah jantungku
Itu semua padahal hanya karena akan bertemu denganmu

Kini aku telah mengerti semuanya
Cinta itu memberi, saling memberi
Cinta itu menerima dan saling melengkapi
Bukan sama-sama hebat, bukan sama-sama juara


Jika ada yang enggan memberi, itu bukan cinta
Jika ada yang memberi syarat, itu belum cinta
Pernah tidak dirimu menyukai sesuatu?
Sesuatu yang disuka bukan berarti dimiliki juga, kan?
Menyukai pagi, misalnya

Pagi memang bukan milikku seutuhnya
Pagi adalah milik Yang Maha Besar
Tapi Tuhan menitipkan pagi padaku
Dengan harapan aku tetap bersyukur, berdo'a, dan bersemangat

Dan dirimu serupa pagi
Aku tidak memilikimu tapi aku mensyukurinya
Aku tidak bisa selalu bersamamu tapi masih bisa mengagumimu
Aku tetap bahagia

Lihatlah, bunga masih tersenyum dipayungi awan berjalan
Aku memandang ayunan yang bergoyang sendirian tanpa aku
Aku menitipkan salam pada rumput hijau untuk menyampaikannya pada senja nanti
Aku berusaha masih merasa lapang dan tenang

Ternyata, aku masih terlalu percaya diri
Padahal aku sudah melayang tinggi
Padahal aku hampir benar-benar jatuh
Tapi aku tetap menikmati ini

Walau aku tahu kenyataannya tak seindah angan
Tapi aku tetap mengakhiri puisi cintaku
Teruntuk........
Seseorang yang membawaku dalam gabungan Perasaan-Jatuh-Cinta



Sekian





Sumber gambar:
http://learninghabit.files.wordpress.com/2013/08/cute-love-backgrounds.jpg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjsJMrDkk_J6Boz95bzD-h4WUN1mKiPumYbjZRN_OBh7u29E0GEJ2hLYYn3qB2zem92oOxY4gGC-cNqDKSUqxQ6xkJuEeokZSy0QFXJHzgr4OsLI1o56tt7lGPmuNyrc_-z7TD41AXHA-E/s1600/04-09-13-morning-window.jpg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgsdYmLoOWjxOBS9JzHVi-GXCAIjYEZFQg3LAKvNal00TkniCwYQRBFrgSG14npM5e8xAtlX127HZXwKn7PYZnSPReF_zqqS1vHSPVlJxHPuSVYPg1o1IuydLGzWyCR361AkZzOrfBGZqEN/s400/7-manfaat-kesehatan-dari-jatuh-cinta.jpg

Minggu, 01 Juni 2014

Jatuh


















Pada akhirnya aku benar-benar melayang bebas
Tanpa parasut yang terbawa 
Tanpa apa pun di bawah sana 
Hanya menggandeng udara menuju gravitasi

Aku memejamkan mata
Hanya berdo’a dan yakin Tuhan di dekatku
Tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini
Aku hanya tetap memejamkan mata


Mataku terlalu lemah untuk terbuka
Hati memerintah mataku untuk terus diam
Menanti hingga aku tiba di bawah sana
Dengan atau tanpa pertolonganmu

Aku memejamkan mata sedari tadi
Tapi aku tidak tahu apa yang ada di balik mataku
Gelap dalam mataku perlahan berubah
Kesuraman yang memenuhi ruang penglihatanku menghilang entah ke mana
Ruang penglihatanku menjadi putih
Hidungku masih bisa memasukkan dan mengeluarkan udara
Aku bingung, aku masih hidup atau sudah di surga?

Samar-samar otakku melukiskan sesuatu
Segala tentangmu terbayang satu per satu
Senyummu, tawamu, candaanmu
Sifat dan karaktermu yang begitu khas kukenal
Semua aktivitasmu yang aku tahu
Beragam gerakmu yang aku teliti
Verbal dan non verbal-mu yang begitu menarik
Membuatku mempelajari setiap artinya

Aku tidak paham itu ilusi atau logikaku saja?
Tapi, mengapa, ya, aku jadi pandai berilusi bagaikan sang pengarang?
Tapi mengapa aku bisa memaknai segala sesuatu yang terjadi
Lalu selalu mengaitkannya padamu? Mengapa?

Maaf kalau perasaanku masih ada
Maaf aku masih mengingatmu
Mengingatmu berkata, “Hai” dan aku pun tersenyum
Mengingat perasaan yang lapang dan tenang
Maaf aku telah menganggapmu sebagai anugerah

Aku masih terlalu percaya diri
Padahal setelah ini aku benar-benar tidak tahu
Adakah dirimu sedang di bawah sana?
Adakah dirimu sedang bersiap menangkapku?
Adakah kebetulan-kebetulan lain yang akan terjadi?

Tuhan, tolonglah aku!
Aku akan terjatuh sebentar lagi
Terkapar tak berdaya sama sekali
Aku hanya ingin bertanya
Apa setelah ini hari masih cerah?
Apa setelah bunga masih mau tersenyum?
Apa kemarau akan berganti jadi musim hujan bersalju berkepanjangan?
Dingin, beku, tak bebas bergerak

Entahlah aku tidak atau belum tahu
Lalu siapa yang akan mengutarakan perasaaan ini padamu?
Jika aku memang benar-benar akan terjatuh

Apa pun yang terjadi setelah ini 
Aku tetap bahagia telah mengenalmu 
Aku tetap menghargai radarku yang telah menemukanmu 
Aku tetap bahagia

Teruntuk..................

Rabu, 28 Mei 2014

My Inspiration

Tahun 2012, saat sedang booming-booming-nya Film Negeri 5 Menara, saya dan teman-teman saya berencana untuk menonton film itu. Salah satu teman saya bernama Ani, menjelaskan saya sekilas trailer film itu. “Yuk, San, kita nonton Negeri 5 Menara, ceritanya bagus, pokoknya di akhirnya mereka bisa berada di dekat menara masing-masing negara impian mereka. Pemainnya ada orang blasteran, namanya Gazza Zubizareta,” kata Ani di bangku sebelahku.

Maka saya, Ani, dan beberapa teman lainnya pun menuju Mall yang paling dekat dengan sekolah. Kami ke sana sepulang sekolah dengan baju seragam putih abu-abu yang masih kami kenakan. Sebenarnya, uang saya sangat pas-pas-an. Saya sampai tidak ikut makan sembari menunggu bioskopnya buka (kami terlalu cepat datang), saya hanya duduk di depan bioskop bersama Ani. Hanya duduk.

Film dimulai. Saya yang saat itu masih sangat jarang nonton bioskop sudah pasti tercengang-cengang karena gambar dan suara yang amat jelas. Bukan hanya karena gambar dan suaranya, tapi ceritanya sungguh menggetarkan hati.

Saat itu kebetulan saya kelas 3 SMK. Saya akan lulus dan sedang menentukan pilihan selanjutnya. Sebagai anak SMK, pilihan hidup setelah sekolah ada 2, kerja atau kuliah (atau menikah? Hehe). Sungguh saya bingung sekali. Saya sebenarnya ingin sekali kuliah, tapi saya sangat mengerti keadaan dan kondisi ekonomi keluarga, maka saya berusaha keras untuk mengurung niat itu. Kata Ibu, saya harus bekerja, harus.

Setelah menonton film Negeri 5 Menara, saya memikirkan sesuatu. Saya teringat akan mantra “Man Jadda wajada”: siapa yang bersungguh-sungguh, ia pasti akan berhasil. Bukan siapa yang paling tajam, tapi siapa yang paling bersungguh-sungguh. Saya juga ingat dengan adegan Alif yang pantang menyerah, walaupun masuk Pondok Madani bukanlah keinginannya, ia tetap menjalani kehidupannya di sana. Hal yang membuat saya kagum adalah saat Alif menetapkan untuk masuk ekstrakulikuler Majalah Syams. Entah kenapa saya merasa ada yang menggetarkan hati saya saat melihat kegigihan Alif menjalankan tugasnya di ekstrakulikuler itu. Dari ketidaknyamanannya di Pondok Madani, Alif masih bisa berpikir untuk mengikuti ektrakulikuler yang ia sukai. Bahkan di akhir film, ia dan teman-temannya benar-benar bisa berada di negara impian mereka. Saya berpikir begini: tidak apa jika kita mendapat sesuatu yang tidak sesuai dengan mau kita, karena sebenarnya kita masih punya celah dan kesempatan untuk menikmati sesuatu yang kita inginkan. Dan semua yang kita terima, akan bermanfaat kemudian, sepahit apa pun itu.

Lalu jika dikaitkan dengan kehidupan saya? Saya tidak bisa berkuliah tahun itu. Berkali-kali saya jelaskan tentang mimpi-mimpi saya pada Ibu, tetap saja tidak bisa. Saya juga sadar, seharusnya saya mencari uang saja, karena sampai SMK saya sudah dibiayai sekolah oleh Ibu saya yang berjuang mencari nafkah sendirian (tanpa suami). Akhirnya saya memutuskan untuk bekerja. Saya melamar dan ikut tes sana-sini. Kemudian bulan Mei 2012, saya diterima bekerja di perusahaan swasta kecil menengah di kota Bekasi.

Pengumuman SNMPTN tiba, dan saya benar-benar gagal kuliah. Saya memilih Universitas Indonesia dan Universitas Negeri Jakarta, dan tidak lolos di kedua tempat itu. Saya benar-benar gagal saat itu.

Saya menjalani kerja dengan setengah hati. Sungguh tidak mengasyikkan. Tiap pagi bangun, siap-siap, berangkat, kerja sampai sore, lalu pulang. Begitu terus dari hari Senin sampai Jum’at. Hari Sabtu dan Minggu adalah waktu saya mengurung diri di rumah, saya tidak punya teman selain teman-teman di sekolah. Susah jika ingin bertemu dan bermain dengan mereka, mereka sudah sibuk dengan kehidupan mereka masing-masing. Dan tentu saja di antara mereka ada yang sudah jadi anak kuliah, membuat saya iri tak karuan. Tidak boleh, tidak boleh, batin saya.

Beruntungnya, saya punya handphone dan notebook yang spesifikasi untuk internetnya cukup baik. Jadi saya selalu mencari tahu tentang SBMPTN. Sebenarnya saya belum benar-benar merelakan Universitas Negeri. Saya masih ingin mengikuti SBMPTN. Tapi sampai pada hari SBMPTN tiba pun saya tetap tidak ikut. Saya masih bimbang dengan keadaan yang tidak memungkinkan. Kemudian saya berniat untuk mengikuti SNMPTN atau SBMPTN tahun depan, tahun 2013.

Saya mengikuti TO yang diselenggarakan UI dan bertempat di salah satu SMA Negeri Bekasi. Jujur, sebenarnya saya linglung. Saya ikut TO hanya bersama satu teman saya yang sebaya. Selebihnya adalah anak-anak yang masih SMA/SMK. Nekat betul saya!

Saya sering sekali menghabiskan waktu untuk mencari informasi seputar SBMPTN, atau tentang “anak kuliah”. Saya penasaran: Apa, sih, yang anak kuliah lakukan? Tujuan jadi anak kuliah itu apa?

Kemudian saya menemukan novel “Ranah 3 Warna”. Novel itu saya temukan di toko buku. Novel itu bukan pertama kalinya saya lihat. Tapi dulu –saat masih sekolah, saya belum bisa membeli novel itu dengan uang saya sendiri. Maka saya baru bisa membelinya saat sudah bekerja.

Saya bawa pulang novel itu, dan sungguh mengejutkan! Novel kelanjutan dari cerita film Negeri 5 Menara yang pernah saya tonton ini sesuai dengan keadaan saya. Saya membaca novel itu setiap pulang kerja. Saya jadi lebih semangat bekerja, hmmm, semangat untuk cepat-cepat pulang dan bisa membaca novel itu sampai habis. Dan, sungguh menakjubkan!

Saya masih bersemangat ikut SBMPTN. Saya masih mencari tahu tentang anak kuliah. Saya masih searching universitas dan jurusan yang sesuai. Saya masih mendalami novel Ranah 3 Warna.

Kemudian...

Otak saya berpikir keras. Kalau masuk Universitas Negeri, kerjanya ditinggalin, dong? Kalau kuliah doang, nanti biayanya dari Ibu semua? Nggak kasihan? Kalau kuliah jauh-jauh, ninggalin Ibu sendirian, dong? Kalau jadi anak kos memangnya bisa?

Ya Allah..............

“Man Shabara Zhafira”: siapa yang bersabar, ia pasti akan beruntung. Kalimat di novel Ranah 3 Warna memang membuat saya serasa jleb. Saya harus sabar. Saya tidak boleh egois. Saya tidak boleh mengeluh terus: ‘saya mau kuliah, saya mau kuliah’.

Kisah Alif di novel Ranah 3 Warna lebih menegangkan dari film Negeri 5 Menara. Cobaannya makin banyak. Rintangan silih berganti. Hal yang membuat saya kagum dari kisah itu adalah saat Alif berusaha mengirimkan tulisannya ke media cetak koran dan dibimbing oleh seniornya. Lagi-lagi, entah kenapa saya merasa hati saya bergetar. Apalagi saat Alif bisa ke Kanada, sungguh keren! Dan cerita tentang ayahnya, membuat saya merindukan ayah saya yang juga sudah pergi jauh. Lengkap sekali.

Dari cerita-cerita itu membuat saya merasa saya harus lebih kuat. Saya pasti bisa mendapatkan sesuatu yang saya inginkan bila saya berusaha sungguh-sungguh dan juga bersabar. Kisah Ranah 3 Warna sukses menyemangati dan memotivasi.

Lalu di saat menjelang bulan SBMPTN, saya membeli novel pelengkap Trilogi Negeri 5 Menara: “Rantau 1 Muara”.

Spesial dan istimewa sekali untuk saya. Setelah kisah perjuangan Alif jadi sarjana, novel Rantau 1 Muara menceritakan kisah Alif yang sudah bekerja, dan pekerjaan Alif sangat menggiurkan. Lagi-lagi, entah kenapa saya merasa hati saya bergetar. Alif bekerja sebagai jurnalis. Alif juga mendapat beasiswa dan bekerja di Washington DC. Alif mendapatkan pasangan hidupnya dan kisah Alif-Dinara terasa so sweet!

Sementara itu, setelah beberapa lama saya mencari, menimbang, dan menelaah lebih dalam, saya membuat suatu keputusan. Saya akan tetap bekerja, tapi saya juga akan tetap kuliah. Impian saya, menjadi seorang mahasiswi, harus tetap tercapai. Akhirnya setelah browsing dan bertanya-tanya seputar universitas dan jurusannya, saya membuat suatu keputusan.

Saya tidak jadi mengikuti SBMPTN 2013. Saya akan bekerja sambil kuliah di  Universitas Swasta di Bekasi, mengambil jurusan Ilmu Komunikasi, kelak akan mengambil konsentrasi Jurnalistik. Saya ingin jadi jurnalis, seperti Alif.

***

Ya, itulah yang saya alami selama memahami isi Trilogi Negeri 5 Menara (walaupun novel Negeri 5 Menara tidak saya baca, hanya menonton filmnya). Pada akhirnya, saya mengetahui “Man Saara Ala Darbi Washala”: siapa yang berjalan di jalannya akan sampai di tujuan.

Saya mengerti mengapa hati saya selalu bergetar menonton dan membaca cerita Alif saat berusaha menulis. Ternyata menulis adalah keinginan saya, impian saya. Saya sekarang sudah menjadi mahasiswi jurusan Ilmu Komunikasi. Alhamdulillah, cita-cita saya menjadi mahasiswi sudah tercapai. Dan saya memiliki cita-cita selanjutnya. Saya ingin menjadi jurnalis dan juga, hmmm, penulis! Ingin seperti author of Trilogi Negeri 5 Menara, A. Fuadi. Bismillaahirrahmaanirrahim!

Semoga saya bisa terus berusaha dan gigih mencapai cita-cita saya selanjutnya, semoga cita-cita saya menjadi nyata, juga cinta saya, Aamiin. Allahu Akbar!
Man Jadda wajada!
Man Shabara Zhafira!


Man Saara Ala Darbi Washala!

Minggu, 11 Mei 2014

Aku Penasaran dengan Waktu

Aku penasaran dengan waktu. Waktu itu hidup atau hanya benda mati? Tuhan menciptakan waktu dengan begitu menakjubkan. Aku curiga, aku berpendapat bahwa waktu itu sebenarnya hidup. Bukankah ia selalu berdetak? Bahkan ia bisa membaca berapa detak jantung dalam satuan detik, menit, bahkan jam. Mengapa ia menjadi lebih dulu daripada detak jantung itu sendiri?

Aku penasaran dengan waktu. Kala waktu yang menjadi sahabatku sejak lahir, memberikan identitas kepadaku kapan aku lahir, menjadi sebuah ingatan Ibu Bapakku, sehingga aku terasa seperti baru lahir di setiap harinya. Aku jadi bertanya kapan waktu itu sendiri lahir pertama kalinya? Kapan waktu memulai detik pertamanya? Kapan waktu benar-benar belum tercipta? Apa pernah waktu mengalami suatu hal bernama 0 detik?

Aku penasaran dengan waktu. Waktu mengiringiku menjelajahi dunia. Aku menghabiskan waktu dengan belajar dan belajar. Waktu pasti tahu itu. Mengenakan seragam warna merah-biru-abu sampai kini aku bisa mengenakan baju bebas –begitulah orang menyebutnya. Waktu sampai-sampai tidak terasa hingga aku sudah sembilan belas tahun berada di dunia ini. Tapi aku tidak tahu sampai kapan waktu ini ada, terutama waktu hidupku sendiri. Tuhan Yang Maha Mengetahui-lah yang tahu. Hanya Tuhan yang bisa menegur waktu.

Aku penasaran dengan waktu. Kata teman kerjaku,  ada penelitian di negara maju yang jauh dari sini, bahwa waktu itu bisa dikendalikan. Bahkan di sana, para pemikir jenius sedang berusaha menciptakan mesin waktu. Ya, mesin waktu. Aku takjub sambil tak percaya. Memangnya bisa? Bukankah itu hanya ada dalam kartun atau film-film? Katanya, kita sebagai molekul-molekul padat bisa berubah menjadi molekul-molekul yang tak beraturan, seperti molekul pada udara. Lalu dari perenggangan molekul itu, kita bisa saja menjadi udara. Jika begitu, kita bisa memasuki alam atau mesin atau alat yang aku pun tak bisa membayangkannya di kehidupan nyata. Maka kita bisa kembali ke masa lalu, dengan wujud kita yang sekarang atau kita yang lalu. Entah. Maaf kalau aku ngaco. Hahaha.

Aku penasaran dengan waktu. Mengapa waktu menjadikan 3 masa? Masa lalu, masa kini, dan masa depan. Bagiku, hal yang paling menyeruak dalam pikiran sebenarnya bukan masa lalu, meskipun mungkin banyak puing-puing kenangan yang masih lekat dan lekap dalam jiwa. Bukan pula masa depan yang masih dalam bayangan, yang kita harap-harap akan jauh lebih indah dari reruntuhan bangunan kenangan yang sudah jadi puing tadi, yang kita imajinasikan akan seindah cerita dari novel happy ending karya penulis terkemuka. Nyatanya, aku lebih mendalami masa kini. Aku siapa. Aku sedang apa. Aku sedang mencari apa. Aku sedang mencintai siapa. Aku sedang membahagiakan siapa. Bukankah yang sedang dilakukan sekarang adalah akibat dari masa lalu dan pijakan kecil menuju masa depan?

Terakhir, aku masih sangat penasaran dengan waktu. Detik adalah waktu yang tidak bisa kembali, dan tidak bisa dijemput. Izinkan aku untuk mengungkapkan sedikit rahasiaku. Ada suatu masa, dimana jika aku tidak berada di sana pada detik itu, mungkin aku tidak akan jatuh cinta. Jika pada detik itu aku tidak bercakap dengannya, mungkin aku tidak akan merasa jatuh cinta sampai saat ini. Pada setiap detik yang selalu kebetulan, ada keajaiban yang aku sendiri tidak tahu darimana asalnya. Detik yang selalu membuat aku jatuh cinta. Detik saat aku menemukan cinta. Jika pada detik itu aku terlambat, mungkin aku tidak dapat menangkap senyuman indah itu. Jika pada detik itu aku beranjak, mungkin aku tidak akan ditegurnya. Haha. Jika pada detik itu aku tidak tahu namanya, mungkin aku tidak akan senyum-senyum sendiri sekarang. Jika pada detik itu aku tidak penasaran dengannya, mungkin aku tidak akan penasaran dengan waktu dan tidak akan menulis ini.

Aku berterima kasih kepada Tuhan yang telah menciptakan waktu.

Terima kasih, waktu.