Minggu, 23 Maret 2014

Kepada Kau, Seseorang

Kepada kau, seseorang yang mengagumi dirimu sendiri
Tanpa menyadari bahwa kau kukagumi
Kau tidak perlu lelah memuji diri
Sebab aku sudah memujimu tanpa kau sadari

Kepada kau, seseorang yang tidak bisa membaca hati
Tak mengenalku sebab jarak yang tak bertepi
Menepis anganku untuk menggali hati
Membungkam perasaan dengan amat rapi

Kepada kau, seseorang yang sedang menegakkan kepala
Mencoba tegar menghadapi bahaya
Berusaha selamat dari cambukan wanita
Aku tahu kau lebih kuat dari yang kau kira

Kepada kau, seseorang yang mencari tahu siapa dirimu
Bertanya dan mencoba menatap langit biru
Duduk di bawah rindangnya pohon dan menunggu
Merenung, tanda kau berdo’a dan bertumpu

Kepada kau, seseorang yang menjadi inspirasiku
Kau belum paham bahwa kau memukau
Kau masih terlalu takut pada cahaya baru
Seandainya kita bisa diberikan lebih banyak waktu

Kepada kau, seseorang yang sering membuatku haru
Aku selalu suka mendengar namamu
Maaf terlalu lancang mengagumimu
Maaf sudah mengganggumu

Kepada kau, seseorang yang diam-diam kukagumi…




Minggu, 16 Maret 2014

Seseorang yang Bercita-cita Menjadi Mahasiswa


Tak semegah gedung yang  kukunjungi kemarin
Tak seluas tanah yang kupijaki kemarin
Tak sama mengagumkan yang kuamati kemarin
Tak sama dengan hati yang kurasakan kemarin

Lupakan saja tempat yang kemarin
Aku tahu diri, aku siapa
Kini pada tempat yang tidak sama
Aku tetap menjadi aku, bercita-cita menjadi mahasiswa

Berpijak pada aspal, menantang jeruji besi hitam tinggi tepat di hadapan
Di balik punggung, terdengar alunan bising kekotaan
Aku menggenggam hati dan menjabatnya penuh mantap
Kakiku terdorong, menang melawan gerbang

Tempat asing yang tak sepi
Langkah menapaki tangga satu persatu
Hingga tiba pada ruang besar berisi seragam putih dan hitam
Aku duduk, mengulurkan tangan dan menarikan jemari

Kertas putih persegi panjang terpampang pada setengah kotak kayu
Namaku tertulis di sana
Aku ucapkan selamat pada aku
Kemudian bergegas pulang untuk memberitahu Ibu

Persis seperti khayalanku, aku bertemu banyak sosok baru
Pria-pria tegap paruh baya yang masih berjiwa muda
Mengobarkan semangat, bercerita tentang cita
Aku pikir, semua mahasiswa harus mendengarkannya

Aku ingat saat 300 hari lebih yang lalu
Ketika aku mulai mengerti diriku sendiri
Seolah mewawancarai pikiran serta hati
Aku ingin dan akan jadi siapa?

Setelah berlelah-lelah, akhirnya aku berada di sini
Bukan lagi pelajar, tapi seorang pemikir baru
Salah satu generasi muda bangsa Negri ini
Yang belum lupa pancasila dan artinya

Aku memang bukanlah mahasiswa beralmamater kuning cerah
Namun dengan almamater kuning redup kebanggaanku, aku yakin aku mampu
Keiirianku pada gedung megah, tanah luas, isi yang layak dikagumi, serta hati yang selalu terpukau pada Universitas di kota besar sana
Menepis kegalauanku, menciptakan cita-cita, dan malah membuatku lebih kuat di sini

Dosenku selalu mengulang pada satu pertanyaan
“Apa tujuan kalian berkuliah?”
Aku selalu menjawabnya, dengan mantap dan tegas
Namun hanya meneriakkannya dalam hati, aku takut pada tatap mahasiswa lain yang berada di sekitarku



Inilah sebenarnya mimpiku
Datang dan duduk manis menanti kedatangan ilmu
Bagiku kedatangannya begitu menarik hati
Aku seolah sedang menjelajahi dunia di tempat, tanpa berpindah

Aku senang mengetahui rasanya begadang dengan tugas yang selalu menegurku
Aku takjub dengan hari libur yang berganti dengan hari pengerjaan tugas
Bukankah nanti juga akan ada saatnya libur panjang?
Aku tertarik menikmati waktuku dengan cara ini

Ada yang duduk tenang di kantin saat kegiatan belajar tiba
Ada yang menghindari kelas seolah menjauhi suara radio yang tak seindah lagu
Ada yang diam di rumah karena jenuh memulai hari dengan ramainya kendaraan jalan
Bukankah itu hanya keluhan yang didramatisasi?

Aku tertawa kecil dalam hati
Terkadang semua hal yang menggerakkan itu datangnya dari hati
Lalu siapa yang memiliki hati?
Jika diri sendiri pun tidak dihargai

Apakah dapat dibilang menghargai diri sendiri, apabila aku bermalas-malasan saat aku sudah bisa menjadi mahasiswa?
Apakah dapat dikatakan menghargai teman, apabila aku hanya menyalin pekerjaan temanku yang sudah ia buat susah payah?
Apakah dapat dijuluki menghargai dosen, jika aku tega mengantuk saat dosen menerangkan, saat beliau meninggalkan keluarganya demi mengajar?
Apakah dapat disebut menghargai orang tua, jika sudah mengabaikan izin restu dan do’a mereka, serta melupakan harapan mereka tentang aku?

Aku tidak mau menjadi satu, aku ingin menjadi banyak
Aku sayang pada waktu, ia ciptaan Tuhan yang berharga
Maka aku kombinasikan keduanya, keyakinan dan waktu
Semoga kelak aku bisa seperti mereka yang dijuluki dengan kata depan ‘seorang’

Aku pernah mengamati cerita tentang mahasiswa
Mereka berani, tegas, dan tidak lelah berpikir
Sekali lagi aku iri pada mereka
Mereka bukan manusia yang menelan semua kepahitan tanpa kesembuhan

Kini aku baru mulai penasaran
Mengenai peran mahasiswa di mata Negara
Ternyata aku bagian dari tokoh-tokoh bangsa
Penyampai aspirasi dan pengusul perubahan

Semua manusia punya pilihan
Ingin terus berjalan lurus, berbelok kiri, atau beralih ke kanan
Apalagi mahasiswa
Di tempat ini lah mahasiswa seharusnya menentukan prinsip hidup mereka

Aku hanya ingin setiap mahasiswa lulus dengan karya
Mengembangkan senyum di wajah kedua orang tua penuh bangga
Memakai toga dan tersenyum lebar menikmati keberhasilan
Melanjutkan cita-cita yang siap untuk dipanen

Sulit? Iya, memang.
Tapi akan lebih sulit jika semua berhenti
Akan lebih naas jika hanya berdiam
Lelah akan terbayar kemudian, percayalah

Selasa, 04 Maret 2014

Perasaan

Aku menemukanmu tanpa sengaja, tanpa mencari, tanpa menanti
Sebuah radar dalam aku menunjukkanku padamu
Kadang, aku tak habis pikir
Bagaimana Tuhan menciptakan sebuah kebetulan?
Bagaikan musim hujan yang berganti kemarau
Sebelumnya, bumi ini hujan
Air yang sering jatuh tanpa arah
Kebimbangan hati menunggu redanya hujan
Mengintip ke jendela dan bertanya, "Kapan pulang?"

Kini semua telah berganti
Mentari sudah tidak takut menampakkan diri
Bunga pun tersenyum, seolah mengerti aku
Aku menatap awan berjalan dan berucap, "Hari ini cerah, ya?"

Aku merasa senang saat kau menyapa
"Hai!" katamu
Satu kata yang mengembangkan rasa
Menarik kedua ujung bibirku tanpa perintah
Ya, aku tersenyum, hanya tersenyum

Apa bisa aku katakan?
Apa yang ada dalam hati
Apa yang selalu bergejolak dalam diriku
Tentang dirimu
Tentang kamu
Rasa ini mungkin rasa yang tak bisa terkata
Rasa yang menunggu saat yang tak tahu sampai kapan akan menunggu
Rasa apa ini?
Rasa yang membuat hatiku terasa lapang dan tenang
Bagaikan sedang memandang senja di tengah hamparan rumput hijau
Bagaikan sedang menikmati pagi yang berembun di teras rumah
Bagaikan sedang bernyanyi di ayunan, dan berayun tinggi-tinggi

"Tuhan, terima kasih," teriakku
Ah, aku harap aku tidak terlalu percaya diri
Aku tahu, jatuh setelah melayang tinggi memang sakit
Tapi aku ingin menikmati ini
Aku ingin melayang bebas, tanpa parasut, tanpa pelindung di bawah sana
Karena aku yakin kamu yang akan menangkapku
Menjemputku menggunakan balon udara
Hehe. Ternyata aku masih terlalu percaya diri
Biarlah, nikmati saja

Tapi nyata yang aneh adalah aku selalu takut menatapmu
Matamu terlalu indah
Ah, masa iya?
Entahlah

Walau aku tidak tahu apa perasaanmu
Tapi aku bahagia
Teruntuk.....................

Mengapa Mantan Begitu Istimewa?

Mantan.
Siapa manusia yang belum kenal dengan nama itu?
Semua orang pasti tau arti dari mantan.
Mantan bisa digunakan untuk beberapa julukan. Julukan yang paling sering dipakai sama anak-anak muda zaman sekarang adalah: Mantan Pacar, (atau bisa juga) Mantan Gebetan.

FYI aja, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Online (http://kamusbahasaindonesia.org), mantan itu:


Ya, kalau didefinisiin pakai hatinya anak-anak muda, jadi mantan itu:
Orang yang (pernah) menjabat di hati, entah berapa lama, singkat atau sudah ribuan hari.
Orang yang (pernah) duduk manis dan mengisi hati yang kosong.
Orang yang (pernah) aktif berperan dalam hidup, seolah kalau tanpanya, menjadi kurang 'bergerak'.
Orang yang (pernah) punya tujuan yang sejalan, searah, seperti satu organisasi (persatuan hati).

Tapi semuanya cuma pernah.
Tapi orang itu cuma pernah.

Hai, para Pejuang Move-On! Gue tau mantan itu begitu istimewa, begitu indah, begitu berarti. Gue tau.
Mantan yang pernah ngebahagiain dengan caranya sendiri. Mantan yang pernah nabur bibit-bibit kembang yang mekar merekah di hati. Mantan yang pernah jadi sosok pertama yang ngucapin kita 'selamat ulang tahun' atau 'selamat pagi'. Mantan yang pernah kasih surprise di hari ulang tahun, kasih kue ke rumah tepat pukul 00.00, misalnya. Mantan yang pernah bikin senyum-senyum sendiri gara-gara kelakuannya yang so sweet atau lucu. Mantan yang pernah cerita tentang kehidupannya, yang bisa menjadi sumber inspirasi. Mantan yang pernah ngajakin ke tempat yang indah dan tak terlupa. Oh, Mantan!


Now Listening: Yovie and Nuno - Sempat Memiliki
Bintang di langit nan indah
Kemanakah cinta yang dulu?
Masihkah aku di sana?
Di relung hati dan mimpimu?
Andaikan engkau di sini
Andaikan tetap denganku

Aku hancur, ku terluka
Namun engkaulah nafasku
Kau cintaku, meski aku bukan di benakmu lagi
Dan ku beruntung, sempat memilikimu

Mantan adalah makhluk yang pernah termiliki, tapi bukan dimiliki (lagi). Mantan itu sosok manusia yang memberikan sebuah pelajaran, tentang arti cinta, menghargai, menerima, dan kehilangan. Mantan ialah pengantar hikmah dari segala kenangan.
Selain itu, mantan adalah alasan mengapa gue menulis ini.

Dari segala yang pernah terjadi, coba renungilah, pasti banyak hikmah yang bisa didapatkan.
Sebagai contoh, mungkin ada yang pernah sesekali merasa jenuh dengan kebersamaan yang teramat sering, ngerasa bosan, pengen sesuatu yang lain, yang (dikira) lebih baik. Kejenuhan itu membuat semua hal yang dikasih mantan jadi biasa aja, jadi ga terlalu 'wow', jadi datar. Bahkan kejenuhan yang benar-benar serius, pada akhirnya memungkinkan untuk bilang 'gue merasa gak ada rasa sama lo lagi'.
Hm. Setelah putus, tiba-tiba malah:
ngerasa kangen
ngerasa sedih
ngerasa hampa
ngerasa hambar
ngerasa sepi
ngerasa nyesek
ngerasa nyesel

So? Pelajaran yang bisa diambil: cobalah untuk menghargai dan menerima dia. Semua manusia nggak ada yang sempurna, termasuk lo! Hargai apa yang sudah dia berikan, terimalah dia apa adanya, kalau ada yang salah atau kurang, cobalah untuk memperbaiki dan melengkapi.

Sekarang..............
Maafkanlah diri sendiri, sebab berdamai yang sulit adalah kepada diri sendiri, tapi diri sendiri lah yang mampu memaafkan :)

Coba tanya lagi pada diri sendiri, apa masih menyayangi 'orang' itu, atau hanya menyayangi 'kenangan' bersama dia?
Hehe. Gue rasa cuma sama kenangannya aja. Gue pikir, kangen sama hal-hal indah yang pernah ada aja.

Sudahilah penyesakan itu.
Sebenarnya semua bisa berganti dengan harapan,
asal membuka mata bahwa dunia masih hidup, bumi masih berputar.
Berdo'alah pada Tuhan Yang Maha Besar supaya diberi kekuatan untuk keluar dari rasa bersalah atau benci. Karena hati terlalu sayang untuk merasa menyesal, atau bahkan membenci.
Bukankah lebih baik bersyukur? Bersyukur karena sempat memiliki dan mendapatkan begitu banyak pelajaran.

Katakanlah, "Sandiwara ini sudah berakhir. Drama ini telah tamat."

Perlahan hati tidak akan sesak lagi. *sambil menarik nafas panjang dan menghembuskan sekuat-kuatnya*

Setelahnya, akan lebih mudah jalani hidup.
Di depan sana ada kenyataan yang menunggu untuk benar-benar jadi kenyataan.
Tuhan sedang menyiapkan seseorang untuk merawat cahaya hati(yang pernah redup).
Percayalah, Tuhan Maha Mengetahui :)
Seindah-indahnya mantan, dia cuma ada di spion. -@maafbercanda

Sabtu, 08 Februari 2014

Putri Penguin dan Pangeran Berang-Berang





Suatu hari di negeri antah berantah, hiduplah seorang putri yang cantik jelita. Setiap sore sang putri selalu ke taman istana untuk memetik bunga Asoka dan menjadikannya bahan untuk bermain masak-masakan. Di sisi lain, ada seorang pangeran dari kota sebelah yang hobi menunggangi kuda supaya baik jalannya untuk berkeliling-keliling kota hendak melihat-lihat keramaian yang ada. Suatu hari sang pangeran mengunjungi sebuah istana dan melihat sang putri yang sedang asyik bermain sendirian. Sang pangeran merasa senang melihat sang putri. Sang pangeran akhirnya mengunjungi istana sang putri setiap hari dan memandangi sang putri dari jarak jauh.
Suatu ketika sang pangeran tidak melihat keberadaan sang putri di taman istana. “Mungkin dia sedang bosan bermain masak-masakan,” ujar sang pangeran sambil berbalik pulang. Keesokan harinya, sang pangeran kembali ke istana sang putri, namun sang putri pun tak kunjung ada. Berhari-hari sang pangeran tetap mengunjungi taman istana sang putri, namun ia tidak menemukan sang putri. Sang pangeran yang penasaran pun akhirnya memberanikan diri untuk masuk ke dalam istana dan bertemu dengan sang raja.
“Wahai Baginda Raja, saya pangeran dari kota sebelah. Saya perhatikan, putri istana tidak kunjung bermain di taman seperti biasanya. Ada apa gerangan, Baginda?” tanya sang pangeran dengan posisi badan yang agak membungkuk.
“Anakku sedang sakit. Ia tidak sadarkan diri beberapa hari setelah memakan semangka merah yang diberikan oleh seorang nenek. Sepertinya nenek itu adalah seorang penyihir yang ingin melukai anakku.”
“Bagaimana bisa sebuah semangka membuat sang putri tidak sadarkan diri, Baginda?”
“Sepertinya anakku tersedak biji semangka. Saat itu ia memakan 1 buah semangka lahap demi lahap. Setelah itu anakku tidak sadarkan diri.”
“Apakah ada ramuan atau obat yang bisa menyembuhkan sang putri, Baginda?”
“Ada. Tabib yang pernah datang memeriksa anakku menyebutkan nama bunga yang dapat dijadikan sebagai obat. Nama bunga itu adalah Dandelion. Tapi belum ada yang berani mengambil bunga tersebut karena bunga tersebut hanya ada di hutan Suramadu, yang menghubungkan Surabaya dan Madura planet ini dengan planet Mars. Apakah kau bersedia jika aku memintamu untuk mengambilkan bunga itu?”
“Aku bersedia, Baginda Raja. Aku akan kembali dan membawakan bunga Dandelion untuk sang putri,” kata sang pangeran dengan tegas.
Lalu pangeran pun langsung menuju hutan Suramadu dengan menunggangi kuda kesayangannya. Ia membawa bekal setoples coklat ChaCha seperti di film Sherina. Setelah sampai di depan hutan, sang pangeran turun dari kuda dan mengeluarkan smarphone Android-nya. Ia membuka aplikasi Google Maps agar tidak tersesat.
Sang pangeran yang melihat keadaan hutan yang sangat gelap pun diam sejenak dan berpikir. Di dekatnya ada sebuah batang korek api, lilin, dan obor. Pangeran berpikir mana yang akan pertama kali ia pilih. Kemudian pangeran pun memilih batang korek api, karena jika tidak, ia tidak dapat menyalakan lilin ataupun obor. Namun ia baru saja ingat, smartphone-nya dapat digunakan menjadi senter apabila flash-nya dinyalakan. Akhirnya pangeran tidak jadi mengambil batang korek api, lilin, maupun obor. Ia berjalan masuk ke hutan dengan mengenggam smartphone di tangannya.
Di tengah perjalanan, ternyata smartphone sang pangeran mati karena baterainya habis. Sang pangeran pun lupa membawa power bank. Pangeran yang panik mulai takut melangkah lagi. Tiba-tiba terdengar suara alien.
Bebeb Bip bip bip bip. Sedang apa kamu di sini? Bip bip. Siapa kamu? Bip.”
“Eh, itu, perkenalkan saya pangeran dari suatu kota di negeri ini. Saya ingin mengambil setangkai bunga Dandelion untuk menyadarkan sang putri,” jawab sang pangeran polos.
“Bip bip. Kamu tidak boleh mengambilnya. Bip bip bip. Bunga itu milik saya dan saya juga akan menguasai seluruh isi planet ini,” kata alien sambil tertawa ala Plankton yang ingin menguasai resep rahasia Krabby Patty.
“Hm… Sebelumnya saya ingin bertanya, kenapa kamu ada di planet ini? Mengapa kamu tidak kembali ke rumahmu? Apakah kamu tidak kangen sama rumah dan mamamu?”
Lalu sang pangeran pun bernyanyi dengan merdu dan easy listening.
Mother, how are you today?
Here is a note from your daughter.
With me everything is ok.
Mother, how are you today?

Mother, don't worry, I'm fine.
Promise to see you this summer.
This time there will be no delay.
Mother, how are you today?

Alien yang mendengar suara sang pangeran meneteskan air mata dan memanggil UFO-nya. Alien itu menaiki UFO dan pergi meninggalkan hutan. Sang pangeran merasa sangat lega dan lanjut berjalan menuju tempat ditanamnya bunga Dandelion. Sang pangeran pun akhirnya memetik bunga Dandelion dan membawanya ke istana sang putri.
Di istana, sang pangeran menemui sang putri yang terkujur lemas. Sang pangeran meniupkan bunga Dandelion ke arah hidung sang putri. Sang putri merasakan ada sesuatu yang melewati hidungnya. Lama-kelamaan hidung sang putri terasa gatal dan bersin dengan sangat keras. Akhirnya sang putri mengeluarkan biji semangka yang tersangkut di tenggorokannya. Sang putri pun sadar dan berterima kasih kepada sang pangeran. Tiba-tiba penyihir yang pernah memberikan semangka kepada sang putri datang menaiki sapu lidi dan membawa tongkat sihir. Penyihir itu tetap mengayunkan tongkatnya dan mengucapkan, “Bimsalabim jadi apa prok prok prok!”
Namun sang pangeran langsung menghadang dan merentangkan tangannya untuk melindungi sang putri. Akhirnya sang pangeran yang terkena sihir berubah menjadi seekor berang-berang.
Penyihir yang belum puas, mengayunkan tongkatnya lagi dan mengucapkan, “Vera Verto!”
Sang putri pun berubah menjadi seekor penguin. Setelah itu penyihir tertawa terbahak-bahak lalu pergi.
Sang raja sangat terkejut dengan kejadian itu. Sang putri yang merasa kegerahan dibawa dan dipindahkan oleh sang raja ke sebuah kutub. Sang pangeran yang sudah menjadi seekor berang-berang juga ikut mengantarkan sang putri.
Sesampainya di kutub, berang-berang menggigil dan merasa sangat kedinginan. Akhirnya berang-berang tidak dapat menemani penguin. Penguin dan berang-berang pun berpisah tidak untuk selama-lamanya. TAMAT.


Cerita fantasi ini terinspirasi dari cerita kak @si_wel -> http://si-wel.blogspot.com/2013/12/putri-gula-gula-dan-pangeran-uget-uget.html
 
Thanks for reading!


Sandra :)


Sheila - Part III (Terinspirasi dari lagu-lagu Sheila On 7)



Sebenarnya "Sheila - Part III" ini sudah ada di tahun 2013, tapi baru diposting di blog tahun 2014 ini. Hehehe.
Jadi, inilah ENDING-nya:



Sejenak melepas lelah
Kau tinggalkan diriku
Waktu hujan turun…..
Di sudut gelap mataku, begitu derasnya
Kan kucoba bertahan

Satu tahun kemudian…
Aku melihat titik-titik air menempel pada luar kaca jendela kamarku. Aku masih bingung dengan keadaanku sekarang. Sepi. Sunyi. “Huuuh,” tarik panjang nafasku.
“Sheilaaa!”
“Iya, Ma. Ada apa?” sahutku mendengar ibu memanggil.
“Ikut mama, yuk! Ke TK-nya adikmu!” ajak ibuku yang berjalan menghampiriku.
“Memang mau ngapain, Ma?”
“Mau rapat acara perpisahan TK sama guru-guru dan orang tua murid.”
“Oh… Ayo, Ma!”
***
Ibuku masih berada di dalam ruangan bernama Dandelion. Aku duduk di sebuah ayunan sambil menikmati es krim coklat yang aku beli di tukang es krim keliling. Ibuku yang sudah selesai, keluar ruangan.
“Gimana, Ma, rapatnya? Jadinya perpisahan ke mana?”
“Perpisahannya ke Bogor.”
“Waaah, bisa ketemu sama Rena, dong, Ma, hehehe.”
“Tapi yang boleh ikut perpisahan cuma anak murid dan salah satu orang tua aja, La.”
“Yaaah…”
“Memangnya kamu udah nggak hubungin Rena lagi?”
“Bukannya udah enggak hubungin, Ma. Tapi aku juga suka nggak sempet. Aku sekarang kan udah kuliah, lebih tepatnya kerja sambil kuliah. Kalau ada waktu senggang, aku manfaatin buat ngerjain tugas kuliah atau kerja yang belum selesai. Aku egois, ya, Ma?”
“Kamu bukan egois, La. Itu semua kan memang kewajiban kamu. Rena juga bisa paham keadaan kamu, kok. Memangnya Rena sendiri nggak hubungin kamu?”
“Nggak, Ma, dia sibuk kuliah. Dia ikut organisasi di kampusnya, jadi mungkin dia juga nggak sempet, Ma.”
“Kalau Anggara gimana?”
“Sama kayak Rena, Ma.”
“Nah, kalian semua punya tugas masing-masing. Setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Perpisahan bukan berarti sebuah akhir. Perpisahan itu saat kita akan memulai hal baru. Kamu juga, perpisahan kamu sama Rena dan Anggara bukan akhir, tapi awal kalian nemuin hal baru. Nemuin cara baru bagaimana persahabatan kalian tetap berjalan baik.”
Aku tersenyum dan berkata, “Iya, Ma. Makasih, ya, Ma…”

Mencoba dewasa
Mencoba berubah
Mohon dampingilah
Jangan tinggalkan
Tak terbayangkan jika kau pergi
Kau alasanku untuk dewasa

***
Kuawali hariku dengan mendo’akanmu agar kau slalu sehat dan bahagia di sana.
Sebelum kau melupakanku lebih jauh, sebelum kau meninggalkanku lebih jauh.
Ku tak pernah berharap kau kan merindukan keberadaanku yang menyedihkan ini.
Ku hanya ingin bilang kau melihatku kapanpun dimanapun hatimu kan berkata seperti ini…..
….pria wanita inilah yang jatuh hati padamu...

Matahari sudah tenggelam. Aku bergegas ke arah tempat parkir. Sebelum menemukan sepeda motorku, handphone-ku bergetar. SMS masuk sepertinya. Aku menghentikan langkahku dan sejenak membaca SMS yang masuk.
Anggara.
Nama itu yang menjadi pengirim SMS ini. Aku langsung berbalik dan keluar tempat parkir, mencari tempat duduk yang biasanya ada di luar gerbang tempat parkir, tempat duduk dekat Pos Satpam. Aku duduk dan membaca SMS dari Anggara dengan pipi yang melebar sedikit, aku tersenyum.
“Assalamu’alaikum, La. Apa kabar? Maaf baru bisa SMS sekarang. Gimana kerjaan lo di sana? Lo udah kuliah kan? Kabar ibu lo gimana? Sehat? Sorry, ya, nanyanya banyak, hehe.”
Aku langsung membalas SMS.
“Wa’alaikumsalam, Ra. Alhamdulillah baik. Gue masih kerja di tempat yang lama. Sekarang gue udah pindah ke bagian Accounting, hehehe. Gue udah kuliah, kok. Mama Alhamdulillah sehat. Hehe, woles aja, Ra!”
Setelah mengetik SMS, aku masuk lagi ke dalam tempat parkir, menaiki motorku dan mengendarainya dengan wajah yang lebih berseri. Aku pun menunggu balasan SMS dari Anggara…..

Seberapa pantaskah kau untukku tunggu?
Cukup indahkah dirimu ‘tuk slalu kunantikan?

***
“Oke. Berarti besok kita ketemu di restoran pancake, ya! See you, Sheila, Rena!”
Aku tersenyum sendirian. “Akhirnya bisa ketemuan sama mereka lagi,” gumamku dalam hati.

Datanglah, sayang…
Dan buat aku tersenyum!

***
“Pesan pancake coklatnya tiga, ya, Mbak!” ucap Anggara pada pelayan.
“Lo pesennya langsung tiga, Ra? Rena kan belum dateng…”
“Nggak apa-apa. Kalau Rena maih lama, lo aja yang makan, La. Hahaha.”
“Hahaha. Tahu aja gue memang suka yang berbau coklat.”
Tiba-tiba ada balita perempuan yang menghampiri kami. Balita ini imut sekali.
“Dek, sini! Jangan ganggu kakak-kakaknya!” ucap bapak dari anak ini.
Aku dan Anggara hanya tertawa kecil.
“Ayo, Dek, ke sini. Pancake-nya udah dateng, nih! Enak, loh!” bujuk ibu dari balita imut ini.
Anak ini langsung ke meja bapak dan ibunya dan menunjuk-nunjuk Pancake yang ada di atas meja. Ibunya menggendong dan meletakkan anaknya itu di pangkuannya, lalu menyuapinya pancake dengan lembut.
“Lucu, ya!” kata Anggara padaku.
“Iya, ya. Enak, ya, kalau udah punya suami,” kataku tanpa sadar. Kata-kata itu terlontar begitu saja.
“Enaknya apa, La?”
“Nggak kesepian, ada yang nemenin, punya keluarga baru, bisa cerita-cerita, bisa makan bareng, banyak deh! Hahaha.”
“Punya istri  juga enak. Dimasakin, ditungguin pulang kerja, diceritain banyak hal, bisa diajak ke tempat makan favorit, dan berada satu shaf di belakang gue.”
Pelayan datang dan membawa tiga piring pancake. Aku memotong pancake dan menikmatinya beserta saus coklat yang manis. Anggara belum memakan pancake­-nya, bahkan ia belum memegang sendok. Entah apa yang sedang Anggara pikirkan.
“La….” panggil Anggara.
“Yaa?”
“Lo mau nggak jadi pendamping gue?”
“Pendamping, Ra? Maksudnya?”
“Iya. Pendamping wisuda gue, La.”
“……….”
Tiba-tiba Rena datang dan duduk di sampingku.

Now listening in Pancake Restaurant - Lihat, Dengar, Rasakan, SO7

***
Beberapa tahun kemudian…
Aku memandangi selembar foto yang terbingkai dan terpajang di meja. “Ini kan Rena yang ambil gambar,” kataku sangat pelan. Di foto itu ada seorang perempuan yang menutupi mukanya dengan boneka beruang bertoga, serta di sampingnya seorang laki-laki yang juga bertoga dengan senyum yang sangat bahagia. Perempuan itu aku. Laki-laki itu………. Anggara.
“Sheilaaa, udah belum beresin kamarnya? Kalau udah, tolong bantuin aku beresin ruang tamu, ya!” teriak seorang laki-laki dari luar kamar.
“Iya, Ra… Tunggu, sedikit lagi selesai,” kataku sambil meletakkan foto yang ku pegang kembali ke tempatnya.
Saat ini aku sedang berbenah di rumah baruku, bersama Anggara, imamku kini.

Berlayarlah denganku
Bertumpulah di pundakku
Bersamaku engkau tak perlu ragu
Semuanya kan baik saja


Saat aku lanjut usia
Saat ragaku terasa tua
Tetaplah kau slalu di sini
Menemani aku bernyanyi
Saat rambutku mulai rontok
Yakinlah ku tetap setia
Memijit pundakmu hingga kau tertidur pulas…..