Senin, 16 Juni 2014

Ketika Aku Harus Bawa Bekal

Kususuri jalan panjang yang mengikuti arus sungai kota
Bersama beberapa teman, aku mengendarai kuda besi bermesin
Aku mengejar yang di depan, juga teman di belakangku
Lalu aku tiba pada sebuah tempat

Kata orang-orang, ini tempat berkumpulnya ‘anak muda’
Aku yang juga merasa bagian dari mereka pun masuk
Asing bagiku, baru pertama aku datang
Aku tiba-tiba meragu untuk melangkah lebih jauh

Bukan perihal salah tempat, namun tampak penuh tempat
Aku dan teman-teman terlalu malu, hingga belum ada yang masuk di menit ke sekian
Sampai datanglah seorang laki-laki menghampiri
Aku yakin, laki-laki ini peka akan kebingunganku

Selayaknya malaikat acara, ia membawakan kursi lebih ke sebuah meja
Selayaknya tamu istimewa, kami disambut dan dipersilakan duduk
Aku memanggil nama seorang perempuan yang tidak sama cantik denganku
Ia dengan rambut sebahu lebih, menaikkan kedua ujung bibirnya
Aku telah dulu mengenalnya

Lagi-lagi, aku dan teman-teman seperti tamu istimewa
Kami duduk di posisi paling depan
Dengan seenaknya duduk padahal terlambat

Inti acara pun dimulai
Manusia-manusia asing satu per satu maju
Ada yang membawa secarik kertas, atau segenggam kertas digital
Aku mendengarkan suara-suara yang mereka suarakan

Tapi pikiranku tidak di tempatnya
Lain dari yang lain, aku tidak fokus pada puisi
Lain dari yang lain, aku lebih ingin memaknai posisi
Seiring waktu berlalu, setiap pasang mata sudah menampilkan diri

Kini giliranku...

Aku tidak fokus, lidahku agak kelu rasanya
Tapi bagaimanapun juga, aku harus tetap bersuara
Maka aku bunyikan pita suaraku, aku bacakan kalimat-kalimat syahdu
Mungkin tidak se-syahdu yang seharusnya, namun aku tetap melanjutkan sampai akhir
Selesai, lega bercampur tidak lega, sudahlah

Setidaknya aku tidak berpuisi sendirian seperti biasanya
Setidaknya aku belajar membuka mulutku saat di depan orang banyak
Setidaknya aku sedang menjajaki jalur menuju citaku
Ya, citaku!

Aku hampir lupa pada waktu
Sudah puluhan menit aku hanya duduk dengan canggung
Kecanggungan berganti kesadaran
Ini tempat makan dan minum berbayar
Dengan perintah kesadaran, aku memesan sesuatu

Angka-angka yang tertera lebih dari empat
Dua atau tiga angka nol berbaris rapi di sebelah kanan titik
Aku agak tertegun, bukan karena apa-apa

Sementara itu...

Kamu menuju suatu tempat yang lain
Aku memang tidak mengikutimu, tapi sedikit bisa membayangkannya
Kamu di antara manusia-manusia asing pula
Mungkin ada yang kamu kenali tapi tidak semua

Kamu punya cita di sana, seperti ceritamu padaku sebelumnya
Kamu berniat untuk  membuat orang lain tertawa
Dengan ‘komedi berdiri’ yang sedang merajai kekreatifan negara
Aku tidak menontonmu tapi sedikit ada gambaran untukku

Pasti banyak orang yang memberi suguhan lucu dan manis
Semanis minuman segar yang disediakan berbayar
Aku tidak tahu jelas berapa banyak angka yang tertera di sana
Entah tertera pada menu di papan tulis hitam
Atau tertera pada buku bergambar makanan dan minuman

Aku mengira bahwa kamu seperti aku, sedang tertegun
Bahkan jika kamu tidak mencicipi sedikit saja
Kamu bisa saja didapati sedang diledeki yang lain
Yang tabah, ya, kamu!

Hal yang tersirat pada benak kita masing-masing
Apakah cita berbanding lurus dengan harga makanan?
Apakah cita bisa dicapai dengan membeli minuman segar?
Apa harus menggembungkan dompet untuk meraih impian?

Lagi-lagi ini hal lain yang mungkin hanya dipikir oleh kita
Bukan berfokus pada puisi
Bukan berfokus pada komedi
Aku dan kamu bergumam, “Apa bulan depan kita bawa bekal saja?”
Bekal yang entah dibawa dari rumah, atau bekal yang yang kita beli di jalan
Apa pun itu, bekal bisa menambah tenaga kita berkarya, kan?

Sepulangnya kita dari tempat cita
Banyak hal yang dipelajari dan menjadi pelajaran
Lalu terbesit satu hal yang kamu juga tahu

Kelak saat kita tampil kembali pada acara yang sama
Saat kita lebih percaya diri dari bulan kemarin
Saat itu juga kita berucap, “Ketika aku harus bawa bekal...”
Bukan hanya bekal makanan dan minuman

Namun juga bekal kemampuan

Minggu, 15 Juni 2014

Surat untuk Ayah

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Teruntuk ayah yang aku panggil dengan sebutan “Papa”.

Selamat malam, Pa! Bagaimana kabar Papa? Pasti baik :)

Selamat Hari Ayah, ya, Pa! Selamat harinya Papa, selamat harinya pria terhebat dalam hidupku. Hal yang ingin aku ucapkan terlebih dahulu: aku rindu Papa, rindu sekali, teramat rindu. Papa sedang apa di sana? Apa Papa juga merindukanku? Kapan kita bisa bertemu, Pa?

Anakmu yang manja ini sedang senang-senangnya menulis. Jadi, anak semata wayangmu ini menulis surat ini untuk Papa. Surat ini aku tulis sambil mendengarkan instrumen lagu kesukaanku, lho. Lagu yang selalu mengingatkan masa kecilku, Pa. Dulu Papa selalu tampil khas dengan perhatian yang tidak terlalu tampak, tapi selalu sukses menyentuh hatiku. Mungkin setiap ayah di dunia begitu. Cuek tapi perhatian, dengan cara mereka sendiri. Juga papa.

Perhatian Papa sungguh sederhana. Mengajariku mengendarai sepeda, mengajariku berenang, mengajariku membaca komik dan menonton kartun, membenarkan aku menghitung matematika, lalu.... Ah, banyak sekali perhatian sederhanamu, Pa. Semua pemberian Papa istimewa sekali bagiku, karena Papa yang pertama menjadi pria teromantis di duniaku.

Pa, sekarang aku sudah akan dewasa. Aku tidak akan sebesar ini jika tanpa bantuan Papa. Aku tidak akan jadi apa-apa seperti sekarang, kalau Papa tidak mengajariku banyak hal. Sekarang, Papa jangan lelah-lelah, ya. Sebab aku akan berusaha, Pa. Berusaha menjadi anak yang Papa banggakan. Aku akan berjuang untuk meraih cita-citaku, Pa.

Pa, Papa sangat beruntung, Papa dicintai oleh malaikat dunia yang juga sangat spesial untukku: Mama. Aku yakin Mama juga sangat merindukan Papa. Sangat, Pa. Tapi Mama jauh lebih tegar dari aku. Mama tidak menunjukkan kesepian dan kesendiriannya. Mama tetap bersemangat untuk membahagiakan aku, seperti Papa membahagiakanku. Aku sangat beruntung memiliki ibu dan ayah seperti Mama dan Papa. Alhamdulillah.

Papa, bagaimana aku mengucapkan terima kasih yang teramat sangat padamu?

Jiwamu masih terasa ada, Pa. Seolah menyemangatiku dan menguatkan Mama. Walau di rumah yang berbeda, kami masih menggantungkan bingkai dengan foto Papa di dinding. Foto hitam putih Papa yang masih terlihat amat sehat. Aku senang melihat senyum Papa di foto itu. Lagi-lagi, Papa pria pertama yang tertampan di duniaku.

Pa, sebenarnya aku tidak kuat mengetik surat ini. Aku benar-benar merindukan Papa. Air mataku tiba-tiba keluar mengalir. Maaf, ya, Pa, aku masih cengeng sampai sekarang.

Aku sangat jarang pergi ke laut, Pa. Maka maafkan aku yang tidak tahu bagaimana cara bertemu Papa. Aku tidak bisa membawakan bunga untuk Papa. Tapi do’aku mudah-mudahan bisa menjadi penawar rindu antara aku dan Papa. Semoga do’aku memberi bahagia dan ketenangan untuk Papa. Semoga Tuhan selalu mendengar setiap do’a untuk Papa.

Aku sangat mencintaimu, Papa. Aku sangat merindukanmu. Papa baik-baik, ya, Pa.

Semoga surat ini sampai ke surga.


Wassalamu'alaikum Wr. Wb.




Salam manis dari anak pertama dan terakhirmu,




Sandra

Kamis, 12 Juni 2014

Cinta

Kelopak mataku terbuka
Tak cepat tetapi juga tak lambat
Aku melihat langit-langit yang putih
Bawahku empuk dan aku berbaring

Aku berusaha menemui pikiranku
Aku bertanya apa yang terjadi
Ia menjawab, "Kamu baru saja bermimpi."
Aku menghela nafas, ternyata aku tidak jadi jatuh

Aku masih menatap langit-langit yang putih
Mengingat ulang mimpi burukku
Tubuhku bangun menuju jendela kamar
Mengintip dan melihat pagi


"Hari masih cerah," ucapku dalam hati
Aku beranjak dan menuju teras rumah
Aku duduk pada sebuah kursi bambu
Menahan badan dengan kedua tangan di dudukan dan menggoyangkan kedua kakiku

Aku sangat suka dengan pagi
Saat yang paling tepat untuk bersemangat
Aku juga masih suka dirimu
Tapi belum pernah ada waktu yang tepat untuk menjelaskannya

Pagi ini aku tidak ingin berteriak seperti biasanya
Aku yakin Tuhan juga mendengar setiap bisikanku
Bisikan  mengenaimu
Bisikan atas cerita seputarmu

Rasa degup jantung kala itu benar-benar menggempa
Untung saja jantung ini diberi lem yang sangat kuat oleh penciptaNya
Kalau tidak, lepaslah jantungku
Itu semua padahal hanya karena akan bertemu denganmu

Kini aku telah mengerti semuanya
Cinta itu memberi, saling memberi
Cinta itu menerima dan saling melengkapi
Bukan sama-sama hebat, bukan sama-sama juara


Jika ada yang enggan memberi, itu bukan cinta
Jika ada yang memberi syarat, itu belum cinta
Pernah tidak dirimu menyukai sesuatu?
Sesuatu yang disuka bukan berarti dimiliki juga, kan?
Menyukai pagi, misalnya

Pagi memang bukan milikku seutuhnya
Pagi adalah milik Yang Maha Besar
Tapi Tuhan menitipkan pagi padaku
Dengan harapan aku tetap bersyukur, berdo'a, dan bersemangat

Dan dirimu serupa pagi
Aku tidak memilikimu tapi aku mensyukurinya
Aku tidak bisa selalu bersamamu tapi masih bisa mengagumimu
Aku tetap bahagia

Lihatlah, bunga masih tersenyum dipayungi awan berjalan
Aku memandang ayunan yang bergoyang sendirian tanpa aku
Aku menitipkan salam pada rumput hijau untuk menyampaikannya pada senja nanti
Aku berusaha masih merasa lapang dan tenang

Ternyata, aku masih terlalu percaya diri
Padahal aku sudah melayang tinggi
Padahal aku hampir benar-benar jatuh
Tapi aku tetap menikmati ini

Walau aku tahu kenyataannya tak seindah angan
Tapi aku tetap mengakhiri puisi cintaku
Teruntuk........
Seseorang yang membawaku dalam gabungan Perasaan-Jatuh-Cinta



Sekian





Sumber gambar:
http://learninghabit.files.wordpress.com/2013/08/cute-love-backgrounds.jpg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjsJMrDkk_J6Boz95bzD-h4WUN1mKiPumYbjZRN_OBh7u29E0GEJ2hLYYn3qB2zem92oOxY4gGC-cNqDKSUqxQ6xkJuEeokZSy0QFXJHzgr4OsLI1o56tt7lGPmuNyrc_-z7TD41AXHA-E/s1600/04-09-13-morning-window.jpg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgsdYmLoOWjxOBS9JzHVi-GXCAIjYEZFQg3LAKvNal00TkniCwYQRBFrgSG14npM5e8xAtlX127HZXwKn7PYZnSPReF_zqqS1vHSPVlJxHPuSVYPg1o1IuydLGzWyCR361AkZzOrfBGZqEN/s400/7-manfaat-kesehatan-dari-jatuh-cinta.jpg

Minggu, 01 Juni 2014

Jatuh


















Pada akhirnya aku benar-benar melayang bebas
Tanpa parasut yang terbawa 
Tanpa apa pun di bawah sana 
Hanya menggandeng udara menuju gravitasi

Aku memejamkan mata
Hanya berdo’a dan yakin Tuhan di dekatku
Tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini
Aku hanya tetap memejamkan mata


Mataku terlalu lemah untuk terbuka
Hati memerintah mataku untuk terus diam
Menanti hingga aku tiba di bawah sana
Dengan atau tanpa pertolonganmu

Aku memejamkan mata sedari tadi
Tapi aku tidak tahu apa yang ada di balik mataku
Gelap dalam mataku perlahan berubah
Kesuraman yang memenuhi ruang penglihatanku menghilang entah ke mana
Ruang penglihatanku menjadi putih
Hidungku masih bisa memasukkan dan mengeluarkan udara
Aku bingung, aku masih hidup atau sudah di surga?

Samar-samar otakku melukiskan sesuatu
Segala tentangmu terbayang satu per satu
Senyummu, tawamu, candaanmu
Sifat dan karaktermu yang begitu khas kukenal
Semua aktivitasmu yang aku tahu
Beragam gerakmu yang aku teliti
Verbal dan non verbal-mu yang begitu menarik
Membuatku mempelajari setiap artinya

Aku tidak paham itu ilusi atau logikaku saja?
Tapi, mengapa, ya, aku jadi pandai berilusi bagaikan sang pengarang?
Tapi mengapa aku bisa memaknai segala sesuatu yang terjadi
Lalu selalu mengaitkannya padamu? Mengapa?

Maaf kalau perasaanku masih ada
Maaf aku masih mengingatmu
Mengingatmu berkata, “Hai” dan aku pun tersenyum
Mengingat perasaan yang lapang dan tenang
Maaf aku telah menganggapmu sebagai anugerah

Aku masih terlalu percaya diri
Padahal setelah ini aku benar-benar tidak tahu
Adakah dirimu sedang di bawah sana?
Adakah dirimu sedang bersiap menangkapku?
Adakah kebetulan-kebetulan lain yang akan terjadi?

Tuhan, tolonglah aku!
Aku akan terjatuh sebentar lagi
Terkapar tak berdaya sama sekali
Aku hanya ingin bertanya
Apa setelah ini hari masih cerah?
Apa setelah bunga masih mau tersenyum?
Apa kemarau akan berganti jadi musim hujan bersalju berkepanjangan?
Dingin, beku, tak bebas bergerak

Entahlah aku tidak atau belum tahu
Lalu siapa yang akan mengutarakan perasaaan ini padamu?
Jika aku memang benar-benar akan terjatuh

Apa pun yang terjadi setelah ini 
Aku tetap bahagia telah mengenalmu 
Aku tetap menghargai radarku yang telah menemukanmu 
Aku tetap bahagia

Teruntuk..................

Rabu, 28 Mei 2014

My Inspiration

Tahun 2012, saat sedang booming-booming-nya Film Negeri 5 Menara, saya dan teman-teman saya berencana untuk menonton film itu. Salah satu teman saya bernama Ani, menjelaskan saya sekilas trailer film itu. “Yuk, San, kita nonton Negeri 5 Menara, ceritanya bagus, pokoknya di akhirnya mereka bisa berada di dekat menara masing-masing negara impian mereka. Pemainnya ada orang blasteran, namanya Gazza Zubizareta,” kata Ani di bangku sebelahku.

Maka saya, Ani, dan beberapa teman lainnya pun menuju Mall yang paling dekat dengan sekolah. Kami ke sana sepulang sekolah dengan baju seragam putih abu-abu yang masih kami kenakan. Sebenarnya, uang saya sangat pas-pas-an. Saya sampai tidak ikut makan sembari menunggu bioskopnya buka (kami terlalu cepat datang), saya hanya duduk di depan bioskop bersama Ani. Hanya duduk.

Film dimulai. Saya yang saat itu masih sangat jarang nonton bioskop sudah pasti tercengang-cengang karena gambar dan suara yang amat jelas. Bukan hanya karena gambar dan suaranya, tapi ceritanya sungguh menggetarkan hati.

Saat itu kebetulan saya kelas 3 SMK. Saya akan lulus dan sedang menentukan pilihan selanjutnya. Sebagai anak SMK, pilihan hidup setelah sekolah ada 2, kerja atau kuliah (atau menikah? Hehe). Sungguh saya bingung sekali. Saya sebenarnya ingin sekali kuliah, tapi saya sangat mengerti keadaan dan kondisi ekonomi keluarga, maka saya berusaha keras untuk mengurung niat itu. Kata Ibu, saya harus bekerja, harus.

Setelah menonton film Negeri 5 Menara, saya memikirkan sesuatu. Saya teringat akan mantra “Man Jadda wajada”: siapa yang bersungguh-sungguh, ia pasti akan berhasil. Bukan siapa yang paling tajam, tapi siapa yang paling bersungguh-sungguh. Saya juga ingat dengan adegan Alif yang pantang menyerah, walaupun masuk Pondok Madani bukanlah keinginannya, ia tetap menjalani kehidupannya di sana. Hal yang membuat saya kagum adalah saat Alif menetapkan untuk masuk ekstrakulikuler Majalah Syams. Entah kenapa saya merasa ada yang menggetarkan hati saya saat melihat kegigihan Alif menjalankan tugasnya di ekstrakulikuler itu. Dari ketidaknyamanannya di Pondok Madani, Alif masih bisa berpikir untuk mengikuti ektrakulikuler yang ia sukai. Bahkan di akhir film, ia dan teman-temannya benar-benar bisa berada di negara impian mereka. Saya berpikir begini: tidak apa jika kita mendapat sesuatu yang tidak sesuai dengan mau kita, karena sebenarnya kita masih punya celah dan kesempatan untuk menikmati sesuatu yang kita inginkan. Dan semua yang kita terima, akan bermanfaat kemudian, sepahit apa pun itu.

Lalu jika dikaitkan dengan kehidupan saya? Saya tidak bisa berkuliah tahun itu. Berkali-kali saya jelaskan tentang mimpi-mimpi saya pada Ibu, tetap saja tidak bisa. Saya juga sadar, seharusnya saya mencari uang saja, karena sampai SMK saya sudah dibiayai sekolah oleh Ibu saya yang berjuang mencari nafkah sendirian (tanpa suami). Akhirnya saya memutuskan untuk bekerja. Saya melamar dan ikut tes sana-sini. Kemudian bulan Mei 2012, saya diterima bekerja di perusahaan swasta kecil menengah di kota Bekasi.

Pengumuman SNMPTN tiba, dan saya benar-benar gagal kuliah. Saya memilih Universitas Indonesia dan Universitas Negeri Jakarta, dan tidak lolos di kedua tempat itu. Saya benar-benar gagal saat itu.

Saya menjalani kerja dengan setengah hati. Sungguh tidak mengasyikkan. Tiap pagi bangun, siap-siap, berangkat, kerja sampai sore, lalu pulang. Begitu terus dari hari Senin sampai Jum’at. Hari Sabtu dan Minggu adalah waktu saya mengurung diri di rumah, saya tidak punya teman selain teman-teman di sekolah. Susah jika ingin bertemu dan bermain dengan mereka, mereka sudah sibuk dengan kehidupan mereka masing-masing. Dan tentu saja di antara mereka ada yang sudah jadi anak kuliah, membuat saya iri tak karuan. Tidak boleh, tidak boleh, batin saya.

Beruntungnya, saya punya handphone dan notebook yang spesifikasi untuk internetnya cukup baik. Jadi saya selalu mencari tahu tentang SBMPTN. Sebenarnya saya belum benar-benar merelakan Universitas Negeri. Saya masih ingin mengikuti SBMPTN. Tapi sampai pada hari SBMPTN tiba pun saya tetap tidak ikut. Saya masih bimbang dengan keadaan yang tidak memungkinkan. Kemudian saya berniat untuk mengikuti SNMPTN atau SBMPTN tahun depan, tahun 2013.

Saya mengikuti TO yang diselenggarakan UI dan bertempat di salah satu SMA Negeri Bekasi. Jujur, sebenarnya saya linglung. Saya ikut TO hanya bersama satu teman saya yang sebaya. Selebihnya adalah anak-anak yang masih SMA/SMK. Nekat betul saya!

Saya sering sekali menghabiskan waktu untuk mencari informasi seputar SBMPTN, atau tentang “anak kuliah”. Saya penasaran: Apa, sih, yang anak kuliah lakukan? Tujuan jadi anak kuliah itu apa?

Kemudian saya menemukan novel “Ranah 3 Warna”. Novel itu saya temukan di toko buku. Novel itu bukan pertama kalinya saya lihat. Tapi dulu –saat masih sekolah, saya belum bisa membeli novel itu dengan uang saya sendiri. Maka saya baru bisa membelinya saat sudah bekerja.

Saya bawa pulang novel itu, dan sungguh mengejutkan! Novel kelanjutan dari cerita film Negeri 5 Menara yang pernah saya tonton ini sesuai dengan keadaan saya. Saya membaca novel itu setiap pulang kerja. Saya jadi lebih semangat bekerja, hmmm, semangat untuk cepat-cepat pulang dan bisa membaca novel itu sampai habis. Dan, sungguh menakjubkan!

Saya masih bersemangat ikut SBMPTN. Saya masih mencari tahu tentang anak kuliah. Saya masih searching universitas dan jurusan yang sesuai. Saya masih mendalami novel Ranah 3 Warna.

Kemudian...

Otak saya berpikir keras. Kalau masuk Universitas Negeri, kerjanya ditinggalin, dong? Kalau kuliah doang, nanti biayanya dari Ibu semua? Nggak kasihan? Kalau kuliah jauh-jauh, ninggalin Ibu sendirian, dong? Kalau jadi anak kos memangnya bisa?

Ya Allah..............

“Man Shabara Zhafira”: siapa yang bersabar, ia pasti akan beruntung. Kalimat di novel Ranah 3 Warna memang membuat saya serasa jleb. Saya harus sabar. Saya tidak boleh egois. Saya tidak boleh mengeluh terus: ‘saya mau kuliah, saya mau kuliah’.

Kisah Alif di novel Ranah 3 Warna lebih menegangkan dari film Negeri 5 Menara. Cobaannya makin banyak. Rintangan silih berganti. Hal yang membuat saya kagum dari kisah itu adalah saat Alif berusaha mengirimkan tulisannya ke media cetak koran dan dibimbing oleh seniornya. Lagi-lagi, entah kenapa saya merasa hati saya bergetar. Apalagi saat Alif bisa ke Kanada, sungguh keren! Dan cerita tentang ayahnya, membuat saya merindukan ayah saya yang juga sudah pergi jauh. Lengkap sekali.

Dari cerita-cerita itu membuat saya merasa saya harus lebih kuat. Saya pasti bisa mendapatkan sesuatu yang saya inginkan bila saya berusaha sungguh-sungguh dan juga bersabar. Kisah Ranah 3 Warna sukses menyemangati dan memotivasi.

Lalu di saat menjelang bulan SBMPTN, saya membeli novel pelengkap Trilogi Negeri 5 Menara: “Rantau 1 Muara”.

Spesial dan istimewa sekali untuk saya. Setelah kisah perjuangan Alif jadi sarjana, novel Rantau 1 Muara menceritakan kisah Alif yang sudah bekerja, dan pekerjaan Alif sangat menggiurkan. Lagi-lagi, entah kenapa saya merasa hati saya bergetar. Alif bekerja sebagai jurnalis. Alif juga mendapat beasiswa dan bekerja di Washington DC. Alif mendapatkan pasangan hidupnya dan kisah Alif-Dinara terasa so sweet!

Sementara itu, setelah beberapa lama saya mencari, menimbang, dan menelaah lebih dalam, saya membuat suatu keputusan. Saya akan tetap bekerja, tapi saya juga akan tetap kuliah. Impian saya, menjadi seorang mahasiswi, harus tetap tercapai. Akhirnya setelah browsing dan bertanya-tanya seputar universitas dan jurusannya, saya membuat suatu keputusan.

Saya tidak jadi mengikuti SBMPTN 2013. Saya akan bekerja sambil kuliah di  Universitas Swasta di Bekasi, mengambil jurusan Ilmu Komunikasi, kelak akan mengambil konsentrasi Jurnalistik. Saya ingin jadi jurnalis, seperti Alif.

***

Ya, itulah yang saya alami selama memahami isi Trilogi Negeri 5 Menara (walaupun novel Negeri 5 Menara tidak saya baca, hanya menonton filmnya). Pada akhirnya, saya mengetahui “Man Saara Ala Darbi Washala”: siapa yang berjalan di jalannya akan sampai di tujuan.

Saya mengerti mengapa hati saya selalu bergetar menonton dan membaca cerita Alif saat berusaha menulis. Ternyata menulis adalah keinginan saya, impian saya. Saya sekarang sudah menjadi mahasiswi jurusan Ilmu Komunikasi. Alhamdulillah, cita-cita saya menjadi mahasiswi sudah tercapai. Dan saya memiliki cita-cita selanjutnya. Saya ingin menjadi jurnalis dan juga, hmmm, penulis! Ingin seperti author of Trilogi Negeri 5 Menara, A. Fuadi. Bismillaahirrahmaanirrahim!

Semoga saya bisa terus berusaha dan gigih mencapai cita-cita saya selanjutnya, semoga cita-cita saya menjadi nyata, juga cinta saya, Aamiin. Allahu Akbar!
Man Jadda wajada!
Man Shabara Zhafira!


Man Saara Ala Darbi Washala!

Minggu, 11 Mei 2014

Aku Penasaran dengan Waktu

Aku penasaran dengan waktu. Waktu itu hidup atau hanya benda mati? Tuhan menciptakan waktu dengan begitu menakjubkan. Aku curiga, aku berpendapat bahwa waktu itu sebenarnya hidup. Bukankah ia selalu berdetak? Bahkan ia bisa membaca berapa detak jantung dalam satuan detik, menit, bahkan jam. Mengapa ia menjadi lebih dulu daripada detak jantung itu sendiri?

Aku penasaran dengan waktu. Kala waktu yang menjadi sahabatku sejak lahir, memberikan identitas kepadaku kapan aku lahir, menjadi sebuah ingatan Ibu Bapakku, sehingga aku terasa seperti baru lahir di setiap harinya. Aku jadi bertanya kapan waktu itu sendiri lahir pertama kalinya? Kapan waktu memulai detik pertamanya? Kapan waktu benar-benar belum tercipta? Apa pernah waktu mengalami suatu hal bernama 0 detik?

Aku penasaran dengan waktu. Waktu mengiringiku menjelajahi dunia. Aku menghabiskan waktu dengan belajar dan belajar. Waktu pasti tahu itu. Mengenakan seragam warna merah-biru-abu sampai kini aku bisa mengenakan baju bebas –begitulah orang menyebutnya. Waktu sampai-sampai tidak terasa hingga aku sudah sembilan belas tahun berada di dunia ini. Tapi aku tidak tahu sampai kapan waktu ini ada, terutama waktu hidupku sendiri. Tuhan Yang Maha Mengetahui-lah yang tahu. Hanya Tuhan yang bisa menegur waktu.

Aku penasaran dengan waktu. Kata teman kerjaku,  ada penelitian di negara maju yang jauh dari sini, bahwa waktu itu bisa dikendalikan. Bahkan di sana, para pemikir jenius sedang berusaha menciptakan mesin waktu. Ya, mesin waktu. Aku takjub sambil tak percaya. Memangnya bisa? Bukankah itu hanya ada dalam kartun atau film-film? Katanya, kita sebagai molekul-molekul padat bisa berubah menjadi molekul-molekul yang tak beraturan, seperti molekul pada udara. Lalu dari perenggangan molekul itu, kita bisa saja menjadi udara. Jika begitu, kita bisa memasuki alam atau mesin atau alat yang aku pun tak bisa membayangkannya di kehidupan nyata. Maka kita bisa kembali ke masa lalu, dengan wujud kita yang sekarang atau kita yang lalu. Entah. Maaf kalau aku ngaco. Hahaha.

Aku penasaran dengan waktu. Mengapa waktu menjadikan 3 masa? Masa lalu, masa kini, dan masa depan. Bagiku, hal yang paling menyeruak dalam pikiran sebenarnya bukan masa lalu, meskipun mungkin banyak puing-puing kenangan yang masih lekat dan lekap dalam jiwa. Bukan pula masa depan yang masih dalam bayangan, yang kita harap-harap akan jauh lebih indah dari reruntuhan bangunan kenangan yang sudah jadi puing tadi, yang kita imajinasikan akan seindah cerita dari novel happy ending karya penulis terkemuka. Nyatanya, aku lebih mendalami masa kini. Aku siapa. Aku sedang apa. Aku sedang mencari apa. Aku sedang mencintai siapa. Aku sedang membahagiakan siapa. Bukankah yang sedang dilakukan sekarang adalah akibat dari masa lalu dan pijakan kecil menuju masa depan?

Terakhir, aku masih sangat penasaran dengan waktu. Detik adalah waktu yang tidak bisa kembali, dan tidak bisa dijemput. Izinkan aku untuk mengungkapkan sedikit rahasiaku. Ada suatu masa, dimana jika aku tidak berada di sana pada detik itu, mungkin aku tidak akan jatuh cinta. Jika pada detik itu aku tidak bercakap dengannya, mungkin aku tidak akan merasa jatuh cinta sampai saat ini. Pada setiap detik yang selalu kebetulan, ada keajaiban yang aku sendiri tidak tahu darimana asalnya. Detik yang selalu membuat aku jatuh cinta. Detik saat aku menemukan cinta. Jika pada detik itu aku terlambat, mungkin aku tidak dapat menangkap senyuman indah itu. Jika pada detik itu aku beranjak, mungkin aku tidak akan ditegurnya. Haha. Jika pada detik itu aku tidak tahu namanya, mungkin aku tidak akan senyum-senyum sendiri sekarang. Jika pada detik itu aku tidak penasaran dengannya, mungkin aku tidak akan penasaran dengan waktu dan tidak akan menulis ini.

Aku berterima kasih kepada Tuhan yang telah menciptakan waktu.

Terima kasih, waktu.


Rabu, 23 April 2014

Bianglala Raksasa


Kenangan. Hal itu datang tanpa undangan. Otakku menjelajahi putaran waktu masa lalu dan mengingat. Seolah mengembalikan apa yang sudah terjadi di sini. Namun kenyataannya aku hanya duduk di sebuah kursi dan memandang samar ombak kecil berlari. Malam ini, aku memandang sebuah bianglala raksasa yang berjarak beberapa meter dari posisiku. Bianglala dengan lampu bagai bintang yang menyertainya. Berputar, sama seperti mengingat masa lalu.
***
5 tahun yang lalu…
Aku, Bela, Egi, dan Rama mengunjungi tempat wisata bernama “Ocarina” untuk mengisi waktu pasca kelulusan kuliah.
“Kira! Yang terakhir dari wisata kita hari ini, kita harus naik Giant Wheel. Ayo!” kata Rama yang mengajakku berlari kecil menuju ke depan sebuah bianglala raksasa. Aku menengadahkan kepalaku. Bianglala itu besar dan tinggi. Aku mencoba menghitung banyaknya gondola, “…..empat belas, lima belas, enam belas. Ada enam belas,” ucapku sangat pelan. Bianglala itu berputar  dan seolah memanggilku untuk naik dan ikut merasakan putarannya.
“Egi, Bela, cepat ke sini!” teriak Rama sambil mengayunkan tangan pada dua orang teman kami yang masih berjalan. Kami berempat pun menaiki salah satu gondola dan menunggu bianglala berputar-putar. Lalu, gondola yang kami naiki bergerak ke atas perlahan-lahan. Aku menunggu sampai berada di titik puncak. “Wow!” seruku yang terpesona melihat pemandangan separuh kota Batam. Alunan musik menambah kenikmatanku. Bianglala berputar kembali ke puncak selama beberapa kali. Bela, Egi, dan Rama ikut mengamati pemandangan dari balik jendela kaca. Kami berempat tidak berhenti tersenyum dan tertawa. Wisata yang sungguh menyenangkan. Bukan hanya karena tempatnya, namun canda tawa dan senyum bahagia dari mereka, terutama Rama.
***
Beberapa minggu kemudian, aku, Bela, dan Egi mengantarkan Rama menuju bandara. Rama akan merantau ke Jakarta untuk bekerja di salah satu perusahaan media massa cetak.
“Hati-hati, Ram! Semoga sukses!” kata Egi sebagai sahabat laki-laki terdekat Rama.
Rama menganggukkan kepalanya tanpa bicara apapun. Rama membalikkan badannya dan mulai melangkah.
“Ram!” teriakku di tengah keramaian bandara.
“Ya, Ra?” sahut Rama yang membalikkan badannya dan menghadapku.
“Selamat tinggal, Rama! Hati-hati, ya! Jangan putus komunikasi. Sempetin sms, dan……..” ucapku yang belum selesai. Aku memberikan secarik kertas pada Rama.
“Ini alamat e-mail-ku.  Kalau mau cerita banyak, kirim e-mail, ya!” lanjutku.
Rama mengambil kertas yang kupegang.
“Iya, Ra, makasih. Oh, ya, kalau kangen, coba keluar rumah, tengok ke atas, dan lihat bulan. Kita melihat bulan yang sama. Itu artinya kita masih dekat,” kata Rama sambil tertawa kecil.
Aku hanya tersenyum. Rasanya bercampur, antara senang, sedih, dan haru. Setidaknya perpisahan yang membahagiakan adalah saat bisa mengucapkan “selamat tinggal”, lalu terus memandang, walau perlahan menjauh dan kemudian hilang.
***
Aku telah berpisah jarak dengan Rama. Aku sempatkan diri untuk menyapanya walau hanya lewat sms. Rama juga sering mengirimkan e-mail dan bercerita seputar kehidupannya di Jakarta. Anehnya, aku tidak pernah menelpon Rama, begitupun Rama. Bagiku, bercerita dengan kata-kata lebih menyenangkan dan membantu untuk membayangkan cerita. Namun aku tidak bisa memungkiri saat aku merasa rindu.
Aku, Bela, dan Egi pun berpisah kota untuk bekerja. Hanya aku yang masih tetap di kota Batam. Ingin rasanya berkumpul lagi seperti dulu. Maka sampai pada saat hari ulang tahunku tiba, aku berniat mengundang Bela, Egi, dan Rama untuk makan pancake di sebuah restoran di Batam. Untungnya, kami sedang liburan akhir tahun. Keinginanku pun dapat terwujud.
***
Aku menaikkan kacamataku yang merosot di hidung. Memandang jam tangan yang tidak henti berdetak. Menunggu itu memang mengelisahkan. Tapi kesabaran mengokohkanku. Bukankah siapa yang bersabar akan beruntung?
Bela pun datang. Aku menyambutnya dengan gembira. Aku memeluk Bela yang penampilannya sudah agak berubah, lebih dewasa. Aku menarik kursi sebelahku untuk Bela duduk. Kemudian, Egi dan Rama pun datang. Mereka tidak berubah dari sebelum kami berpisah.  Egi duduk menghadap Bela, lalu tentu saja, Rama duduk menghadapku. Kami memecahkan suasana dengan saling bercerita.
“Hm… Sebenernya setelah ini aku akan kerja berpindah tempat, dari satu kota ke kota lain, dari satu pulau ke pulau lain. Jadi…..” ucap Rama yang berhenti memegang sendok.
“Jadi untuk sms bakal jarang, apalagi e-mail,” lanjut Rama dengan serius.
“Tapi kalau ada acara kayak begini, bisa dateng, kan?” tanyaku dengan suara yang lemah.
“Diusahakan, Ra. Kalau aku lagi nggak di tempat yang jauh, misalnya Papua.”
Aku berhenti makan pancake  coklat kesukaanku. Aku merasa rasa coklatnya menjadi hambar. Aku hanya menunduk tanpa mengeluarkan keluhan apapun.
“Jangan kangen, ya, Ra!” ledek Rama yang tidak lucu bagiku. Namun Bela dan Egi tertawa. Orang lain memang tidak bisa membaca pikiran, seandainya saja bisa…
Seusai makan dan melangkah menuju pintu keluar, Rama memanggilku dengan bisikan. “Ra, sebentar!”
Sementara, Bela dan Egi sudah keluar lebih dulu.
Rama berkata, “Ingat bulan yang kita lihat di langit yang sama, Ra! Nanti kita ketemu lagi di suatu titik dari luasnya dunia. Aku kejar cita-citaku dulu. Do’akan, ya!”
***
Kembali pada masaku saat ini…
Itulah kenanganku. Aku masih memandang bianglala raksasa dan mencoba mencari bulan di langit. Kepalaku menengadah lebih tinggi, lalu mataku melirik kiri kanan.
“Kira, kenapa masih cari bulan? Kita kan sudah berada di bawah langit yang sama?” ucap seorang laki-laki yang menghampiriku dan membawakan pancake coklat kesukaanku.
Aku hanya menaikkan kedua ujung bibirku dan mengambil piring dari tangan Rama.
“Makasih, ya, pancake-nya,” ucapku.
“Besok aku masuk kerja pagi, jangan lupa buatin aku sarapan, loh!” kata Rama yang kemudian duduk di kursi sebelahku.
Aku menganggukkan kepalaku dengan tegas. Aku tidak menyangka, aku dipertemukan dengan  Rama kembali dan ia menjadi pendamping hidupku.
Aku kembali memandang bianglala raksasa.
Bianglala. Berputar, menuju titik puncak untuk melihat keindahan. Lalu bergerak ke bawah lagi, hingga kita kehilangan pemandangan indah yang sebelumnya terlihat. Jika masih ada waktu dan diizinkan, maka bianglala akan kembali menuju pada titik yang sama. Waktu pun berputar menyertai, mengukir sebuah kenangan yang masih tersangkut dalam ingatan, menyisakan bayangan tentang betapa indahnya berada di titik puncak. Semua menyatu padu seolah menjelaskanku tentang satu kata bernama: CINTA.


Minggu, 20 April 2014

Emansipasi Cinta

Pertama-tama, gue ucapkan selamat datang untuk para cewek yang sedang memendam perasaan. Cieh. Tapi, kalau yang baca postingan gue ini cowok, gue ucapkan selamat membaca (hati cewek)!


Gambar di atas itu sepotong cuplikan dari film “5 cm” yang ceritanya diambil dari novel karya Donny Dhirgantoro.


Kalian tahu maksudnya? Izinkan gue untuk tertawa sedikit. Hahaha.

Jadi, tokoh cewek itu namanya Riani, dia lagi cerita ke temennya kalau dia sedang suka dengan seorang cowok yang selama ini adalah sahabatnya sendiri. Lalu, dia pun menyatakan, “Gak enak yah jadi cewek, kalau cewek suka sama orang, gak bisa bilang, bisanya cuma nunggu doang.” Dan izinkan gue untuk menangis sebentar. *kelilipan*

Dari pernyataan itu, gue yakin ada banyak kepala cewek yang mengangguk setuju. Begitulah cewek. Itulah kami. Jangankan buat ngomong suka, buat ngucapin “selamat pagi” duluan ke gebetan aja nggak berani. Sebagai cewek, gue juga nggak tahu dasar apa yang membuat cewek seperti itu. Yang gue tahu, cewek itu merasa nggak enakan kalau harus menyatakan duluan, ada yang janggal.

Tapi gue rasa kami cuma takut, apa-apa yang udah ada itu bakalan hilang atau menjauh, apa-apa yang kami lakuin itu salah, apa-apa yang kami lakuin itu berujung sakit hati. Misalnya dari hal simpel aja, cewek ngucapin “selamat pagi” duluan ke gebetannya dengan perasaan manis, semanis teh di pagi hari. Eh pesannya ga dibales, atau pesannya malah dibales bercandaan. Kan nyebelin. Haha. Tapi se-nyebelin apa pun, pasti bahagia udah dibales. Haha.

Makanya, kenapa cewek lebih milih diam. Lebih milih mengagumi dari jauh. Sebenernya hal yang kayak gitu malah membuat cewek merasa bahagia, soalnya dia akan mencari tahu banyak hal tentang gebetannya diam-diam, mengenal gebetannya dengan cara mereka sendiri. Walau sebenernya ada rasa nyesek juga, sih. Tapi gue juga bingung kenapa cewek suka jadi detektif cinta kayak gitu.

Sebenernya cewek juga berusaha, lho. Tapi, dari segala hal yang cewek perjuangkan, pada akhirnya cewek harus menunggu. Berimpian supaya gebetannya peka dan balik peduli. Berharap-harap “tembakan” dari cowok yang disukanya segera datang. Walaupun bisa jadi penantian itu sampai ribuan hari lamanya.

Tapi mungkin, cewek harusnya nggak seperti itu. Kenapa? Karena ini zaman emansipasi.


Emansipasi adalah persamaan hak di berbagai aspek kehidupan masyarakat (seperti persamaan hak kaum wanita dengan kaum pria)

Zaman sekarang, kaum cewek haknya sudah disamakan dengan kaum cowok. Cewek sekarang boleh sekolah, boleh kerja, boleh kuliah, dll, setara/sepadan dengan hak cowok. Mungkin, sama juga seperti cinta.

Cewek sebenernya punya hak yang sama kayak cowok. Cewek sebenernya boleh kasih kejutan duluan. Cewek sebenernya boleh ungkapin isi hatinya duluan.

Ungkapin perasaan sebenernya bukan berarti nembak, lho. Sebagai cewek, pasti ada rasa capek buat memendam perasaan. Apalagi kalau sering ketemu, ampun banget rasanya hati.

Kalau berani buat ungkapin, setidaknya perasaan yang mendobrak mau keluar itu bisa tersampaikan pada siapa yang seharusnya menerima. Gue yakin, walaupun tanpa jawaban apa pun dari orang yang disuka, pasti udah merasa lega-selega-leganya kalau udah kasih tahu. Karena sebenernya cewek juga nggak sanggup denger jawabannya, kan?


Oh, ya, untuk cerita “5 cm” yang tadi, akhirnya Riani bisa bersama cowok yang disukainya, Zafran. Dan itu karena Riani sendiri yang nyatain perasaannya, lho. Kenapa bisa gitu? Menurut gue, kadang cowok itu suka nggak sadar ada yang begitu mencintainya. Tapi saat dia sadar, dia akan merasa sangat beruntung ada bidadari cantik yang sebenarnya tercipta buat dia. *colekRiani*

Aku mau kayak Riani :’) *lho!

Well, itu pilihan. Mau ungkapin atau nggak, cuma diri sendiri yang bisa nentuin. Apa pun pilihannya, menyatakan atau nggak, nggak ada yang salah, kok. Karena cinta bukan pilihan ganda di soal UN. Cinta bukan soal menentukan mana yang paling benar. Cinta itu soal menerima dan menolak, soal mau terus berjuang atau berhenti.

Memilih tetap jadi pemendam rasa atau jadi pengungkap rasa?

Apa pun yang dipilih, selamat datang di kehidupan cinta yang kamu pilih sendiri :)

Jangan lupa berdo’a pada Yang Maha Pemberi Cinta, semoga semua berjalan baik, Aamiin.

Semangat, ya, wanita yang masih memendam rasa! ;)


Sumber gambar: http://data3.whicdn.com/images/91267872/large.jpg

Sabtu, 19 April 2014

Percakapan dengan Bulan


Seorang anak perempuan berumur 9 tahun berdiri di tepi balkon lantai 2 rumahnya. Anak itu bernama Alya. Anak itu menengadahkan kepalanya, matanya melirik ke kiri dan ke kanan, seolah sedang mencari sesuatu. Lalu tiba-tiba terdengar suara tak dikenal dan tidak diketahui dari mana asalnya. 


“Kamu sedang apa? Mengapa belum tidur?” 
“Hah? Kamu bisa bicara, Bulan?” 
“Sssttt. Ini rahasia kita, ya. Aku memang bisa bicara. Hm, aku perhatikan kamu sejak tadi seperti mencari sesuatu. Kamu mencari apa?” 
“Aku mencari kamu, Bulan.” 
“Wah, ada apa kamu mencariku? Aku sejak tadi di sini, kok.” 
“Hehe. Aku senang kamu ada dan tidak terhalang awan malam ini. Aku hampir setiap hari berdiri di sini setiap malam untuk memandangmu.” 
“Benarkah?” 
“Ya, aku sangat kagum padamu. Aku memiliki impian untuk bisa seperti dirimu, Bulan. Aku ingin sekali menjadi sang terang benderang di tengah kegelapan.” 
“Bukankah aku tidak selalu terang?” 
“Tentu. Itulah keindahan. Terkadang ada, tapi terkadang menghilang. Tapi aku senang karena indahnya kamu adalah kejutan buatku.” 
“Aku juga tidak selalu bertubuh utuh. Apa kamu tetap mendapatkan keindahan?” 
“Ya, tetap. Aku senang dengan sabitmu, seperti senyuman manis. Juga dengan setengahmu, membuatku penasaran untuk mengintip dirimu yang setengahnya lagi. Begitu pun dengan penuhmu, purnama. Purnamamu sangat cantik. Kamu cantik, Bulan.” 

Bulan tertawa kecil. Kemudian suasana hening sejenak. 

“Tapi jika kamu mendekatiku, kamu akan melihat aku dengan sangat jelas. Maaf, aku tidak sesempurna itu. Jika kamu menghampiriku, kamu akan melihat lubang-lubang atau kawah yang ada pada diriku. Jika sudah begitu, apa kau masih mau berdiri di sana setiap malam?” ucap Bulan dengan nada yang semakin lama semakin melemah. 
“Bulan, aku bukan hanya mengagumimu, tapi aku benar-benar menyukaimu, jadi aku akan menerima kekuranganmu. Setiap hal punya kekurangan. Manusia juga begitu, Bulan. Aku cerita sedikit, ya. Manusia itu bisa merasakan suka, cinta dan dapat saling menyayangi. Aku ingat ayah dan ibuku. Mereka bisa saling menyayangi karena mereka menerima kekurangan satu sama lain, bukan hanya karena melihat kelebihannya saja.” 
“Wah, indah sekali.” 
“Seindah sinarmu, Bulan.” 

Kepala Alya yang masih menengadah, digerakkan ke kiri dan ke kanan. Ia pun bertanya, “Di mana Bintang-Bintang?” 

“Ada, tapi tak nampak.” 
“Mengapa begitu?” 
“Kamu berada di perkotaan yang banyak menghidupkan lampu-lampu, jadi Bintang-Bintang sulit terlihat karena adanya polusi cahaya.” 
“Huft. Padahal kamu terlihat tambah sempurna bila bersama Bintang. Oh, ya, kalau boleh tahu, bagaimana perasaanmu setiap bersama Bintang? Aku penasaran.” 
“Perasaanku bahagia. Aku tidak hanya sendiri di langit ini. Aku punya sahabat yang menemaniku dan menjadikan langit lebih indah lagi.” 
“Bintang itu kan banyak. Apakah kamu memiliki sahabat Bintang paling akrab?” 
“Hmmm. Aku memang bersama banyak bintang, tapi sebenarnya, ada 1 bintang yang paling istimewa bagiku.” 
“Bintang apa itu?” 
“Hehehe. Maaf, itu rahasiaku.” 
“Ternyata Bulan juga punya rahasia, ya?” 
“Bukankah yang namanya misteri itu ada? Aku pun punya misteri.” 
“Benar. Oh, ya, terima kasih, Bulan, sudah mau berbicara padaku malam ini.” 
“Ingat, ya, percakapan kita malam ini adalah rahasia. Jangan ceritakan pada siapapun.” 

Tiba-tiba Ibu Alya datang, berdiri di belakang Alya. 

“Kamu belum tidur?” 

Entah Ibu Alya mendengar percakapan Alya dengan Bulan atau tidak, namun kemudian Ibu Alya ikut menengadah. 

“Bulannya indah, ya, cerah sekali. Kamu juga harus bisa seperti Bulan, Alya, dapat menenangkan hati semua orang yang melihatnya.” 

Alya tersenyum tanpa berkata apapun, sudut matanya melancip. 

“Aku pasti bisa jadi bulan,” batin Alya.

Rabu, 09 April 2014

Bahagia (Semu)

*Deg* Perasaan itu lagi. Jantung serasa mau copot. Gue melihat dia lagi setelah gue dan dia udah pisah cukup lama. Gue rasa cukup. Gue nggak mau lagi ngerasain ketakutan. Gue nggak mau lagi merasa nggak tenang. Cukup.
Dia melihat ke arah gue. Tapi cuma sekadar melihat. Nggak menyapa, nggak menegur, atau mungkin nggak kenal. Tubuh gue lemas seketika. Gue merasa otot-otot kaki gue copot. Gue susah berdiri setegak-tegaknya. Gue bingung apa yang harus gue lakuin. Gue malah ambil handphone dan berusaha nelpon temen gue. Ceroboh! Ini tempat parkir di mall, mana ada sinyal! Argh! Gue mau teriak, tapi nggak mungkin. Waktu terus berjalan sampai akhirnya dia lewat. Dia mengendarai motor dan mengizinkan seorang cewek duduk di belakangnya. Itu pacar-nya.
Beberapa tahun yang lalu...
Gue dan dia duduk di pinggir danau yang airnya tenang. Gue memandangi air tanpa bicara. Gue nggak menghitung berapa lama gue nggak bicara sedari tadi. Gue canggung, atau mungkin lebih tepatnya gue ketakutan. Gue menolak untuk makan dan minum, nafsu makan gue hilang. Pertanyaan menyeruak di otak gue: Kenapa gue ada di sini? Nggak takut pacar dia marah?
Dia pernah menelpon malam-malam hanya untuk sekadar mengobrol. Apa saja dibicarakan. Random. Gue sebenernya nggak mau angkat telponnya, tapi dia selalu punya cara supaya gue mau angkat telpon. Dia pun berhasil, dan cerita dia cukup menarik untuk diikuti. Ceritanya atau suaranya yang menarik?
Bunga mawar kertas. Dia suka menggambar bunga mawar. Gue sampai mengoleksi kertas-kertas itu. Nggak banyak, sih, tapi cukup untuk mengenal apa itu bunga mawar. Bukankah bunga mawar itu diberikan untuk orang yang disayangi?
Di sekolah, gue nggak ngerti siapa yang buat jadwal moving class?! Kelas gue dan dia sering berdekatan, membuat gue pun sering bertemu dia. Senyum-senyuman, sapa-sapaan, atau pura-pura melengos nggak tahu. Anehnya gue selalu aja deg-deg-an. Gue selalu gemeteran. Gue senyum-senyum sendiri. Kalau nggak ada, nyariin. Kalau ada, berusaha kabur. Dia juga kadang duduk di depan ruangan di lantai 2 cuma buat perhatiin gue olahraga di lapangan. Seandainya dia tahu kalau gue salting...
Dia yang bantuin gue waktu gue melakukan hal yang salah atau lebih tepat disebut teledor. Gue mematahkan kunci ruang sekretariat salah satu organisasi. Dia yang betulin sampai ngeganti kuncinya. Dia pahlawan atau hanya sekadar kawan?
Dia selalu perhatian dengan caranya. Punya kejutan-kejutan yang gue kira cuma ada di novel-novel fiksi. Boneka kura-kura, bunga mawar, langit malam, basket, petikan gitar, senyum dari bulan, kue ulang tahun, lilin-lilin...................
Gue bahagia.
Tapi kebahagiaan gue cuma kebahagiaan yang semu. Kebahagiaan yang nggak tersentuh. Kebahagiaan yang cuma gue rasain (sendirian). Gue nggak bisa bahagia seutuhnya. Kebahagiaan tanpa ketenangan. Apa itu bisa disebut bahagia?
Dia sudah bersama yang lain. Apa arti dari ‘perhatian’ jika tidak ada ‘hati’ di dalamnya? Hanya jadi ‘peran’?
Berbahagialah, walau bukan gue yang jadi alasan lo bahagia.