Jumat, 02 Januari 2015

Persiapan Menuju Bosscha #1Day1Dream

Hari kedua #1Day1Dream. Di saat semuanya punya waktu mereka sendiri, ada yang lagi liburan, ada yang lagi kerja, gue malah di kamar dan ngetik impian yang mau gue wujudkan. Haha. Kali ini gue mau ceritain tempat impian kecil gue:

Bosscha
 4747_selaksa_cahaya_mengepung_bosscha
Pertama kali tahu tempat ini dari film Petualangan Sherina. Tempatnya Sherina dan Sadam
dicium keningnya….hmmm….sembunyi dari penculik. Nah, di postingan Kembang Api #1Day1Dream, kan, gue udah cerita kalau gue suka ngeliat bulan dan bintang, jadi tentu aja gue mau ke Bosscha, karena di sanalah tempat yang bisa memberikan gue banyak ilmu tentang bintang. Selain itu, gue juga bisa ngeliat cara kerja teleskop besar yang bernama Zeiss.

Tempat impian kecil gue ini ingin sekali gue kunjungi saat gue sedang libur kuliah semester 3, sekitar bulan ini sampai Februari 2015, atau libur semester 4 bulan September 2015. Sejujurnya, gue belum tahu transportasi apa yang bakal gue naiki untuk bisa pergi ke sana. Makanya tulisan ini gue beri judul “Persiapan Menuju Bosscha”, karena persiapannya lah yang mau gue wujudkan. Setelah UAS tanggal 10 dan 11 Januari 2015, gue akan melakukan persiapan itu. Apa aja yang bakal gue lakuin?
  1. Kepo ke website-nya Bosscha
Kalau nulis keyword: Bosscha, website yang muncul paling atas adalah http://bosscha.itb.ac.id. Yaks, karena Observatorium Bosscha itu fasilitas penelitian astronomi milik ITB, jadi website-nya di bawah naungan ITB. Di website ini ada sejumlah informasi tentang Bosscha yang mendukung terwujudnya impian kecil gue:
  • “Tentang Bosscha” yang menjelaskan apa itu Bosscha, penjelasan akses ke sana (alternatif transportasi), peta, dan kontaknya.
  • “Kunjungan” yang menjelaskan Program Kunjungan Siang, Kunjungan Malam, cara pendaftaran dan pembayaran, jadwal tutup kunjungan, aturan kunjungan, dan kontak bagian pendaftaran.
  • “FAQ” daftar pertanyaan beserta jawabannya yang berguna buat mengetahui seputar Bosscha.
Pengkepoan ini akan dimulai tanggal 12 Januari 2015.
  1. Dari pengkepoan mulai tanggal 12 Januari tersebut, sudah pasti gue harus melakukan action nyata. Pertama, gue akan mendaftar dengan menghubungi bagian pendaftaran yang nomor teleponnya tertera di website. Kenapa gue langsung daftar? Karena gue harus bertanya kapan Program Kunjungan yang pendaftar kunjungannya masih kosong atau sedikit, dan supaya nggak keduluan pendaftar lain. Gue, sih, bakal mengajukan tanggal yang hari Sabtu, dan kalau bisa dapatnya Program Kunjungan Malam. Semoga aja di tanggal-tanggal libur kuliah semester gue, Aamiin. Huhu.
  2. Kedua, gue akan memilih akses perjalanan yang paling terjangkau, dengan cara menganalisa transportasi apa yang bisa gue naiki dari rumah gue yang di Bekasi menuju Lembang, gue coba lihat Google Map, gue mau tanya-tanya sama temen, atau menawarkan ke Mama untuk sewa mobil. Menghitung-hitung biaya transportasinya juga.
  3. Ngajak temen
Sebenernya, sih, nggak apa-apa juga kalau gue pergi ke sana sendirian, tapi kalau bisa bareng temen, kan, lebih seru, dong! :D Tapi sebelumnya gue mesti jelasin tujuan ke Bosscha, karena itu Observatorium yang sering digunakan untuk penelitian, maka niatnya bukan mau foto-foto, atau makan-makan di sana, tapi mau belajar. Jadi mungkin gue akan ngajak temen yang satu tujuan sama gue. Hahaha.
  1. Nabung
Pokoknya nabung dari sekarang. Minimal harus bisa nabung untuk biaya transportasi pulang-pergi, masuk Bosscha, dan konsumsi. Kalau bisa nabung lebih, ya, semoga aja bisa beli oleh-oleh juga di sekitar sana. Karena tempatnya di Lembang, udara sejuk dan pemandangan yang ciamik udah merupakan bonus buat gue, nggak bayar, kan?! Hahaha.
Yap, begitulah impian kecil kedua gue: “Persiapan”. Aneh, ya, impian, kok, “Persiapan”?! Iya lah.
Soalnya:
quote-Abraham-Lincoln-i-will-prepare-and-some-day-my-40909



Sumber gambar:
http://intisari-online.com//media/images/4747_selaksa_cahaya_mengepung_bosscha.jpg
http://quotes.lifehack.org/media/quotes/quote-Abraham-Lincoln-i-will-prepare-and-some-day-my-40909.png

Kamis, 01 Januari 2015

Kembang Api #1Day1Dream

Bismillahirrahmaanirrahim!
Hallo, guys! Kali ini gue bakal jadi blogger sesungguhnya. Kenapa? Gue sudah memilih siapa yang memang gue sayangi selama ini #ehsalahfokus. Haha. Gue sudah memilih gue akan jadi siapa dan mencari nafkah di mana, guys! :D

Sebagai project awal sebagai “blogger beneran”, gue bakal ikut project dari Komunitas Blogger Kancut Keblenger. Project ini namanya “#1Day1Dream”, jadi gue Insya Allah bakal ngeposting 1 bulan penuh tentang impian-impian gue, 1 hari gue posting 1 impian.

Untuk postingan #1Day1Dream hari pertama ini, gue mau cerita tentang impian kecil gue. Siap-siaaaaap!
Duar! Duaaaar! Duaaaaar!
kembangapi1
Yaks, melihat kembang api di langit yang luas pada suatu malam adalah impian gue. Whahaha.
Gue pengen banget ke tempat yang langitnya keliatan luas, misalnya laut, atau taman, atau arena bermain (example: Dufan), atau jalan tol sepi (ini ngasal), buat ngeliat kembang api menari-nari di langit malam.
Itu menurut gue keren aja. Ya gitu aja, sih. Haha.

Nggak deng… Jadi gini…
Pada suatu hari, gue tiba-tiba mengagumi benda langit yang bersinar di gelapnya malam. Nama benda langit itu Bulan dan Bintang. Semenjak itu, mata gue selalu berbinar setiap saat melihat benda yang bersinar atau berkelip di angkasa malam. Kalau Bulan dan Bintang itu, kan, benda angkasa yang nggak bisa manusia atur, nah, bagi gue kembang api adalah “benda langit” yang bisa diatur dan dirancang kemunculannya sama manusia. Makanya gue eksaitid banget ngeliat kembang api. Biasa aja, sih, sebenernya, tapi gue ngeliat kembang api, tuh nggak cuma pake mata, tapi pake hati, duh elah!

Kembang Api Tahun Baru 2015
Gue main handphone, di Path, Instagram, BBM, banyak yang posting kembang api yang gue banggakan itu. Tapi sesungguhnya gue sama sekali nggak ngeliat kembang api secara live…….semalam! Haha.
Why? Soalnya gue nggak mau kayak tahun-tahun kemaren, ah, mainstream banget! Gue berdiri deket pager rumah gue, ngeliatin kembang api bertebaran (gue nggak tahu juga siapa yang pasang), sendirian, senyum-senyum sendiri, menadahkan tangan di atas pager dan menopang dagu, hahaha, oke  ini keliatan jonesnya banget -_- skip aja lah~

Gue semalem nggak keluar rumah sama sekali, malah nyelesein rekaman sebagai bayaran utang akhir tahun (yang nggak ngerti, anggap aja satu kalimat sebelum ini nggak ada)

Oh, ya, sebenernya, gue udah diajak sama temen-temen gue ke acara tahun baru yang sangat memungkinkan untuk gue bisa ngeliat kembang api:
Temen SMP alias temen pramuka Naga Sakura, ngajak bakar-bakar di Depok, tempatnya Diah Retno Yuniarni bernaung (anak UI, tjuy!)
Anesya Erin Pradani, sahabat kerja gue yang ngajak ke Harapan Indah 2, biar nggak keliatan jomblo, katanya
Kak Metta, teman kerja yang bikin sosis bakar dan makanan lain yang super duper banyak banget (dikirimin foto lewat grup WA)
Dessy Indah Kurniawati, sahabat kuliah gue yang ngajak liputan (kerja tetep), bayangan gue, sih, ke Summarecon Mal Bekasi

Tapi…………..
Entah, gue…… cuma mau merenung dan berdo’a aja di rumah. Anti mainstream, kan, gue?! Whahaha :DDD

Wait, gue baru nyebutin unsur What, When, Why, dan Where (unsur menulis tetep).
Jeng jeng! Gue bakal sebutin unsur berikutnya!

How
Gue mau pake gaun cantik, terus duduk di bangku taman, depan tamannya itu danau yang menenangkan gitu, tapi di seberang danaunya ada gedung pencakar langit yang berderet kayak light stick, daaaan kembang api mengisi langit dengan percikan cahaya yang warna-warni, nah, itu gambaran latar tempat yang gue impikan buat liat kembang api. Hahahahaha.
Kayak gini:
kembangapi3
kembangapi2
Who
Harus ada unsur Who, apa? Hahaha. Oke, oke. Gue mau liat kembang api bareng Herjunot Ali, atau Fedi Nuril, atau seenggaknya….. kamu, deh ><. Wkwk.
Sama siapa aja, gue udah bahagia banget, Sob! Sama Mama, atau sama sahabat gue 5 serangkai (Tata, Nisa, Dinda, Ani), atau sama temen SD, SMP, SMK, kuliah, atau sama keluarga gue yang jauh di sana, gue udah bersyukur banget, beneran, yang penting lihat kembang apiiiiii \o/.
By the way, tengah malam pergantian tahun ini udah lewat, sih. Enggak, gue bukannya telat nulis ini, bukan. Emang sengaja aja gue nulisnya baru sekarang, supaya yang baca impian kecil gue ini bisa lebih kreatif ngasih kejutan buat gue, hahaha #guepedebanget.
Oke, ini baru 1 impian kecil gue. Selanjutnya gue akan posting impian-impian kecil gue yang lain.
Oh, ya, kenapa tulisan gue mengusung tema “impian kecil”? Kenapa nggak sekalian aja impian besar?
 
“Karena impian kecil serupa dengan cinta yang tidak berlebihan, sederhana.”

Tiga Bulan dan Tiga Hari

Kepada perempuan yang tak pernah marah
Bagaimana awal mulanya kita bertegur sapa?
Aku lupa, atau bahkan tidak peka
Tapi, kita saling mengenal

Kepada perempuan yang jago berakting
Bagaimana bisa kita menjadi akrab?
Lewat sepatah dua patah kata yang ambigu
Lalu kita tertawa dari hati ke hati

Aneh, lucu, gembira bercampur jadi satu
Belum juga aku bicara, kamu sudah tertawa
Belum juga kamu menyebutkan kata, aku meringis
Seolah kita saling bisa membaca hati

Yang aku syukuri, kamu begitu mengenalku
Padahal kita hanya bertemu 3 bulan
Padahal waktu kita hanya tinggal 3 hari
Kamu lah yang tahu kapan air mataku akan jatuh

Terkadang kita punya pertanyaan yang sama
Apa kabar seseorang di masa lalu kita?
Bagaimana cara menyampaikan rindu pada seorang laki-laki yang pernah menitipkan haru?
Apakah masih bisa berjalan bersamanya?

Adik, itu hanya sebutan atas umur kita
Di sisi lain aku menyebutmu: sahabat
Terima kasih atas 3 bulan kita, dan 3 hari nanti
Aku akan merindukanmu

Maaf aku harus pergi
Aku yakin kamu akan baik-baik saja
Beraktinglah bahwa semuanya itu mudah
Kamu pasti bisa, kamu lebih kuat dari aku

Sabtu, 20 Desember 2014

Menurut Kalian?

Suara langkah kaki di malam hari
Berlarian kecil memecah hening
Membelalakkan mataku namun bergeming
Meninggalkan kotak tepung berlilin
Menurut kalian, biasa saja

Giliranku yang berlarian
Menemuinya tanpa teman
Dibalik buku merah ada yang mengintip
Ternyata titik-titik cahaya yang menggelitik
Menurut kalian, biasa saja


Ah, tak perlu itu, sederhana saja
Pesan-pesannya yang sering
Cokelat payung dan koin dalam plastik bening
Bahkan air mata yang mengering
Menurut kalian, masih biasa saja


Aku juga ingin seperti kalian, biasa saja
Tapi coba dengar suara kakiku yang berjalan semalam
Menyusuri ruang berlampu terang dengan lagu-lagu kebetahan
Sendirian, menggapai kosong
Sesak, menyelipkan kuat
Terdengar suara riuh dari balik tumpukan kemasan
Aku ingin ikut ke dalamnya, marah-marah
Namun hatiku sudah berbunyi lebih awal
Urung dan pulang
Aku pulang yang salah
Aku mengingatnya, lagi
Menurut kalian, aku sungguh berlebihan


Nanar pada deretan pesannya, aku lengah
Hanya bisa memandang kamar yang buyar
Melihat lipatan bungkusan cokelat muda
Sampai ada suara yang menyelinap entah darimana
Bohong, itu suara via telepon beberapa minggu lalu
Kami tertawa tanpa bersalah dan menyakiti
Menurut kalian, aku bodoh


Huh, memang begini nasib manusia kesepian
Senang pulang pada yang bukan sepi
Senang pergi untuk lupa pada sepi
Menurut kalian, bagaimana jadi aku?
Dan menurutku, coba kalian jadi aku!

Aku Tidak Punya Hati

Aku jahat padamu
Menenggelamkanmu di lautan hati
Hati yang sangat rapuh, keropos
Airnya yang patah setiap hari
Dan telingaku jenuh mendengar bunyinya


Aku tidak punya hati
Menyeretmu dalam gua yang gelap ini
Memintamu mengikutiku yang suram ini
Padahal aku tahu, kamu milik putri cantik nan jelita
Aku malah memaksamu bersamaku
Aku tidak punya hati, kan?


Aku sangat egois
Menginginkanmu menjadi milikku
Menulis namamu dalam pengharapanku
Padahal aku tahu itu tidak mungkin
Itu hanya dunia paralel kita
Ah, bukan kita, tapi duniaku sendiri


Seperti judul lagu, “Andai Aku Bisa”
Maka berjayalah andai dalam langkahku
Maka kuselipkan kata “Tidak” sebelum “Bisa”
Aku….tidak bisa
Aku tidak akan pernah bisa


Kamu tahu?
Aku ini manusia sibuk
Sibuk menjadi apa dan siapa saja
Sibuk menjadi seorang pelupa, pelupa sakit hati
Ya, aku ingin lupa pada luka yang menganga
Lagi-lagi airnya patah berulang-ulang
Dan aku jatuh lagi berkali-kali
Ya, jatuh cinta
Padamu yang sangat tahu aku
Tanpa aku ceritakan bagaimana aku
Padamu yang mengenalku
Tanpa aku berikan riwayat hidupku


Maaf, ini puisi mati
Rasa ini pun harus mati
Akan kubunuh perasaan ini dengan pedang yang kauberi padaku
Atau dengan waktu yang kita gelangkan bersama


Tolong jangan bahagiakan aku lagi
Sebab setelah ini aku akan jatuh lagi
Tak apa, aku yakin aku jatuh
Jatuh cinta
Entah pada siapa
Mungkin padamu lagi?
image

Minggu, 16 November 2014

Dua Puluh

Hai, Guys!


Kali ini gue bukan mau nulis puisi, atau nulis cerpen, atau nulis artikel dengan ke-sok-tahu-an-nya gue. Hahaha.


Hmmm, gue cuma mau cerita sedikit tentang sesuatu yang gue alami.
Sebenernya , sih, gue mau nulis cerita ini dari bulan September, tapi berhubung gue baru sempet karena kesibukan (jiah) gue yang terus-menerus melanda, akhirnya baru bisa gue rampungin hari ini.
Ini cuma seputar kisah mengenai ulang tahun gue yang keduapuluh, yang kata orang, umur ini udah menjadi dasar seseorang untuk dibilang dewasa, bukan ABG lagi.
Oke, langsung saja!


11 September 2014
Eh, salah deng!
10 September 2014
Handphone  gue berdering. Nomor yang tertera tanpa nama. 0852-….-…. (nggak hafal).
Ah, dia. Gue tahu siapa yang menelpon gue walaupun gue nggak simpan nomornya.
Gue angkat.
“Halo!”
“Halo! Belom tidur?”
“Belom.”
“Jangan tidur dulu, ya!”
“Kenapa?”
“Hmmm, pokoknya jangan tidur dulu, oke!”
“Hmmm, iya.”
Tut… tut… tut!
Dia lagi, apa lagi? Dia mau ngelakuin hal “gila” apa lagi? Setelah dia pernah datang ke depan rumah jam 00.00 di tanggal 11 September tahun 2010? Setelah dia pernah “nyelipin” boneka kura-kura di buku pajak gue dan ketemuan di deket tangga masjid, waktu gue naik umur jadi 17 tahun?
Arrrrggggh!


Pukul 00.00
Gue was-was. Gue mempertajam pendengaran gue. Bukan, bukan buat dengerin suara di telepon, tapi buat mastiin di luar rumah nggak ada “suara-suara aneh” seperti 4 tahun yang lalu.
Tapi, pendengaran gue nggak bisa menyangkal. Gue denger suara-suara gitu di luar rumah, tapi gue nggak ngintip dari jendela kamar, gue takut gue cuma berilusi doang, atau malah de ja vu. Gue masih di kamar belakang (bukan kamar tidur), tapi nggak ngapa-ngapain. Diem. Atau lebih tepat disebut mikir, tapi nggak tahu apa yang dipikir, melayang. Sampai di menit ke 42, handphone gue berdering lagi. Nggak usah mikir siapa yang memanggil, gue udah sangka siapa. Siapa lagi kalau bukan orang yang tadi habis nelpon gue, sebut saja RYF.


Gue mendengar lagi suaranya, suara khas dia yang biasanya terdengar memilukan, tapi kali ini, suaranya berbeda, ini suara yang ceria.


Diawali salam dan sedikit kata-kata pembuka ala dia, lalu tiba-tiba ada suara lain di luar suara dia. Suara wanita. Ups, tenang! Bukan suara pacarnya, tapi suara sahabat SMK gue yang kami panggil Tata.


Tata, wanita periang dengan suara yang cukup menggelegar. Nggak peduli ngomong sama siapa dan di mana, ia selalu terdengar (dan terlihat) ceria, nggak seperti gue yang hobinya cemberut dan melontarkan suara memiris, hahaha.


Selanjutnya, ada suara lain lagi, suara laki-laki yang berat dan kadang bernada datar, Yudi namanya. Teman SMK kami, eh, selain itu juga sahabatnya RYF. Dia pernah satu kantor sama gue, tapi nggak lama. Gue bingung, mereka ada dalam satu tempat apa gimana, sih?! Eh, ternyata ini namanya Conference Call. Hahaha. Maklum, gue, kan, hampir nggak pernah teleponan jadi baru tahu.


Suara di luar rumah makin kedengeran. Gue tambah gusar, gue pindah ke kamar depan (kamar tidur). Walaupun ada nyokap gue, gue tetep milih teleponan di kamar, biasanya, sih, gue nggak mau, gue tahu nyokap itu orangnya suka ngedelek, ntar gue diledekin gini lagi: “Teleponan sama siapa? Udah jam berapa ini? Tidur!” Eh, itu mah bukan ngeledek, yak, tapi marah! Hahaha!


Gue tadinya mau ngintip ke jendela, tapi gue dikagetkan dengan suara lain yang sejujurnya asing banget di telinga gue.


“Halo.”
“Halo. Siapa, ya?”
*RYF,Tata,Yudipadaketawa*
“Halo.”
“Siapa, sih?”
*ketawanyatambah-tambah*
“Beneran nggak tahu. Siapa, sih?” Kalau ada cermin di depan muka gue, sudah dipastikan muka gue cengo’ banget!!!
“Ini beneran nggak tahu?” tanya RYF masih cekikikan.
“Siapa?” Gue melas.
“Ini Ijul,” ucap laki-laki yang sedari tadi gue nggak kenal suaranya itu.
“Oh, Ijul!!!”
“Kok, nggak tahu, sih?” tanya RYF yang sudah pasti heran.
“Iya, kan, nggak pernah denger suaranya lewat telepon,” kata gue polos.
Selama “bareng” sama Ijul, gue nggak pernah, tuh, teleponan sama dia, kecuali, kalau darurat banget. Contohnya, kalau gue lagi di tempat fotocopy, trus….. “Jul, fotocopy-nya berapa? Tadi si Gessy juga mau fotocopy materinya, boleh?” *ROTFL*
Gue memang bukan manusia yang suka teleponan. Aneh, kan?
Kemudian semuanya meledek gue. Suara Ijul terdengar sepatah-dua-patah kata.
Dan….. serius, suaranya Ijul merdu banget! Padahal bukan lagi nyanyi (secara, dia vokalis), dia cuma ngomong aja indah banget suaranya, whahaha!


Setelah tertawa karena meledek dan lain sebagainya, sampailah pada inti pembicaraan (gue lebih memperhatikan bagian ini, hahaha), yang maksudnya adalah ucapan ulang tahun buat gue.
Yang jadi moderator dalam pembicaraan ini, ya, RYF. Gue rasa, sih, ini udah diskenarioin, tapi whatever, lah. Gue jarang-jarang mendapati hal kayak gini :).


Dimulai dari Yudi, setelah ngucapin selamat ulang tahun, dia ngutarain permintaan yang ditujukan ke gue: Do’ain Yudi supaya mendapatkan gebetannya, dan semoga gue menggunakan sisa waktu dengan sebaik-baiknya.


Kedua Tata, ngucapin juga, kemudian minta gue untuk: jangan jauh-jauh, berkomunikasi dengan hati (hahaha, I know what you mean, Ta!), jangan berubah dan tetep jadi Sandra yang dia kenal.


Ketiga Ijul, setelah ngucapin, dia minta: jaga diri baik-baik, do’ain Ijul yang sebentar lagi mau TA (gue udah bayangin dia wisuda aja, hahahahahaha).


Lalu, keempat, RYF, sang moderator. Eh, tapi…………. pembicaraan jadi agak ngelantur, entah ini bagian dari skenario atau bukan. Sampai pada akhirnya RYF nggak ngasih tahu apa permintaannya.


Setelah permintaan dari mereka, gue lah yang gantian mengutarakan permintaan.
Selalu, kalau soal “mengutarakan-mengutarakan” gue awkward banget! Sampai akhirnya si Tata yang baik hati bilang: Sandra pengen dinyanyiin Ijul.
Si Ijul nanya nyanyi lagu apa? Tik tok tik tok. Gue bingung, hahahahahaha.
Untungnya Allah selalu memampirkan ide sekelibat.
“Nyanyi lagunya Project Pop, yang ‘kamu sangat berarti, istimewa di hati’.”
“Ingatlah hari ini!” tanggap RYF.
“Ayo, bareng-bareng!” ajak Ijul.
*nyanyibarengdengansuaradominanIjuldanRYF*
*guesenyum*


Lalu nggak lupa mengenai traktiran. Rencana traktiran dibicarakan dan diputuskan bersama. Kami akan bertemu tanggal 14 September di pecel lele depan kampus gue.
Sampai akhirnya pembicaraan kami berlima selesai karena ada sofa dan kulkas yang berantem (bagian ini disensor, ya! :p).


Tut… tut… tut! Teleponan berakhir di 00.55.


Oh, ya, di tengah teleponan berlima, nyokap gue ikut denger suara-suara aneh di luar rumah, dan bilang, “Di luar ada orang, tuh!” Sampai nyokap gue keluar kamar dan buka pintu rumah, pas balik nemuin gue, beliau bilang, “Ada kucing!” Woelaaaaaah! Hufttttt!


Pukul 01.05
Gue mengangkat handphone.
Suara dia lagi. Dengan kalimat pembuka, lalu inti pembicaraan.
“Tadi aku, kan, belum sebutin permintaan aku.”
“Emang apa?”
“Beneran mau denger?”
“He’eh”
“Permintaanku cuma dua kata.”
“Apa?”
*hening*
***


“Nungguin, ya?!”
“Iiiiiiih!”
*suaraketawadaribaliktelepon*
“Apaan?” ucap gue kepo.
“Jangan pergi!”
Jadi ini lah, hal “gila” yang daritadi gue tunggu-tunggu.
“Iya.”


11 September 2014
Malam hari, di Universitas Bhayangkara Jakarta Raya, kampus II – Bekasi
“Hai!” ucap gue menyapa Adit, Saqoh, Engkong, Dyah, Alex.
Dessy yang berjalan bareng gue, ikut duduk mendekati mereka.
“Saqoh, pizza-nya mana? Udah diambil di Bude?”
Pizza apaan, sih, San?” tanya Adit pakai nada sewot nggak jelas.
“Ih, lah, kita ngapain di sini?”
“Lah, kan, kata lo kita ngumpul di sini? Lo lupa?” tanya Dyah yang nggak biasanya ngomong kayak begitu.
Astagfirullah. Kalau ada cermin di depan muka gue (lagi), muka gue pasti kelihatan kebingungan.


Beberapa jam yang lalu…
Gue sampai di kampus bareng Dessy, dan bawa sekotak Pizza buat makan-makan bareng sahabat-sahabat kampus dalam rangka hari ultah gue. Gue minta tolong Saqoh buat bawain Pizza karena gue bingung bagaimana cara bawanya di tengah kerumunan anak kampus yang banyak (atau lebih dibilang malu atau nggak pede). Akhirnya Saqoh yang baik hati dan penolong bersedia bawain sekotak Pizza itu dan dibawanya ke kantin Bude, dititipin di situ.
Dan…. sebelumnya gue kirim pesan via multichat BBM supaya kami semua ngumpul pulang kuliah, supaya bisa makan Pizza bareng.
Balik lagi di tempat semula, lobi kampus.
“Lho, gimana, sih?” tanya gue, bingung.
“Apaan, sih, San?!” kata Adit yang bikin gue tambah nggak ngerti.


Tiba-tiba, dari belakang muncul sekotak kue bulat dengan lilin 2 dan 0 di atasnya. Lilinnya menyala dan dibawa oleh laki-laki berjulukan Beler. Kue dengan tulisan di atasnya: Lo jangan geer, San!
*nyanyilaguulangtahun*
*makeawish* *tiuplilin*
“Ini rencana Adit!” Entah siapa yang bilang.
“Enggak, ini dari kita semua,” kata Adit dengan nadanya yang amat gue kenal.
*speechless*
Mereka pada ngomong apa gitu, tapi gue nggak fokus.
“Ini kue Blueberry, kue kesukaan gue, jadi nanti bisa buat gue! Hahaha,” ledek Adit (kalau nggak salah, gue lupa! :p)
*potongkue*
Serius, kuenya lembut banget! Gue motongnya nggak pake usah pakai tenaga, udah kepotong kuenya #apasih.


Yap, potongan kue yang pertama.
“Potongan kue pertama buat siapa?”
“Dessy!”
“Nggak boleh cewek. Juga nggak boleh gue, Saqoh, atau Engkong!” ucap Alex.
“Ih!”
*padaketawa*
*handphonedengansettingvideodiaktifkan*
“Buat siapa, Sandra?” tanya Engkong sambil megang handphone gue, merekam.
“Adit.”
“Ciyeeeee!”
Ah, udah, ah, jangan diceritain. Hahahahahaha.
Nggak, nggak…
“Dengan cara begini, udah sebagai kado terindah, buat Sandra,” ceplos Alex, ngasal.
*guediem*
Dan…. akhirnya gue nyuapin Adit kue potongan pertama.
Kedua: Dessy. Ketiga: Dyah. Keempat: Alex. Kelima: Saqoh. Keenam: Engkong.
Alhamdulillah! That’s a specially moment for me!!!!!! :’)
*makanPizza*
*rapiinkueyangmasihada*
“Buat nyokap lo, San! Bilang, dari Adit!”


Setelah makan-makan, kami semua pun menuju motor masing-masing buat pulang.
Dyah gue tarik buat nemenin gue ambil motor di samping kampus, jauh -_-
“Ngapain Dyah ikut lo? Dyah jangan bareng lo, kejauhan!”
“Enggak. Dyah nemenin gue ambil motor!”
“Nggak usah. Dit, temenin Sandra, tuh!”
“Ayo, San!”
Gue menduduki jok belakang motor Adit. Berhenti di deket motor gue. Gue cantolin kue yang buat nyokap di motor, pake helm, hidupin mesin motor, dan mengendarai motor gue menuju gerbang bareng Adit. Yap, no voice selama cuma berdua sama Adit :p
Gue pulang.
Membawa kue Blueberry. Mengendarai motor menuju rumah.
Tidak merasakan apa-apa.
Hambar.
What’s happen with me?
Hahaha. Seperti yang Tata katakan, berkomunikasi dengan hati.
Gue….. belum bisa.
Permintaan yang gue pikir itu nggak mudah. Buktinya, gue nggak tahu, gue senang, sedih, terharu, atau apa?! Hambar. Apa gue mati rasa? Atau gue ini Aleksitimia (suatu kondisi ketidakmampuan individu untuk menghayati suasana perasaannya)? Hahahaha. Gue mulai ngawur.
Memang, semua spesial banget buat gue, tapi tanpa seseorang yang spesial, rasanya ada yang aneh.
Egois memang. Tapi hati gue yang merasakan.


Sampai tanggal 14 September tiba……………
Gue sakit tenggorokan. Kebanyakan pulang malem pas menjelang ospek, badan gue mulai lemah.
Tapi gue tetep berusaha ketemu sama RYF, Ijul, Tata, Nisa, Yudi.
Makan bareng mereka, bercanda bareng mereka, karaokean bareng mereka sampai pukul 23.00-an.
Pulangnya, gue dianter sama RYF dan Yudi sampai rumah. FYI, gue nggak pakai jaket.
Besoknya, gue beneran sakit, demam. Gue nggak masuk kerja di hari Senin.
Besoknya lagi gue masuk kerja, dengan badan yang masih kurang bersahabat.
Besoknya lagi gue nggak masuk kerja lagi.
Besoknya lagi gue nggak masuk kerja lagi.
Hari Kamis baru masuk kerja.
Gue kenapa?
Baru kali ini gue nggak masuk kerja 3 hari karena sakit dalam waktu yang hampir berurutan.
Sepertinya gue…………….. kecapek’an. Hehehe.


Cukup sekian cerita gue. Haha. Kalau ada kesalahan dalam penulisan dan dialog, gue minta maaf yang sebesar-besarnya, karena gue nggak bisa ingat persis perkataan tiap-tiap orangnya, mohon maklum :).
Thanks, Guys, udah sempetin baca! Kalau kalian mau kenal sama tokoh-tokoh yang ada di cerita gue, silakan tanya gue ke @sandrasasi. Whahaha. Macem selebtweet aja gue :p
Semoga ada pesan tersirat yang bisa menjadi pelajaran atau pesan buat kalian yang membacanya.
Setelah gue merasakan semua hal di atas, gue mengerti sesuatu.

Setiap orang punya tempatnya masing-masing. Ada yang ditempatkan sebagai sahabat, bahkan seolah seperti keluarga baru. Mereka semua spesial, kita berhak bahagia atas itu. Tidak usah dipikirkan harus merasa apa, berbahagialah. Hingga pada saatnya kita tahu: siapa yang paling istimewa, dan siapa yang hanya membawa pelajaran. Semua adalah yang terbaik yang Allah beri. Allah Maha Mengetahui, kan? :)
Sekali lagi, makasih :)!

Minggu, 02 November 2014

Menunggu

“Lo masih nungguin dia?” tanya laki-laki yang duduk berhadapan dengan kemudi, sesekali menatap perempuan di sebelah kirinya.
“Hah?” ucap Nia tersentak, seolah tidak mendengar.
Laki-laki itu mengulang pertanyaan walaupun ia tahu sebenarnya Nia sudah mendengar.

“Iya, lo masih nungguin Sigit?”
Perempuan itu menyelipkan helaian rambutnya di belakang telinga sambil mendesah kecil.
“Sampai kapan lo memendam perasaan, Nia? Lo nggak usah mikirin gue,” tutur laki-laki pengemudi itu lalu tertawa kecil.
“Lo kenapa nanya-nanya, sih? Udah nyetir aja!”
“Lho, memangnya kenapa kalau menyetir sambil ngobrol?”
“Nanti lo nggak fokus nyetir! Lo, kan, juga lagi bawa satu nyawa, kalau kenapa-kenapa gimana?”
“Heh, kita itu dikasih otak yang super hebat tahu! Mestinya otak bisa dipakai buat mengerjakan beberapa pekerjaan sekaligus, sayang kalau dipakai beberapa persen doang!”
“Wira, please, deh!” kata Nia sebal. Laki-laki di sebelah kanannya itu memang lebih cerdas darinya, Wira selalu punya pernyataan yang sulit disangkal.
“Nia, kita harus kayak Albert Einstein, Thomas Alfa Edison, atau penemu-penemu lainnya, memaksimalkan kinerja otak. Nah, jadi gue ngelakuin ini supaya…….”
“Setop! Iya, iya! Tapi sebenernya kita ini mau ke mana, sih? Gue, kan, lo culik tadi, tapi lo nggak bilang kita mau ke mana, gue telepon polisi, nih!”
“Polisi, kan, nggak kenal gue, buat apa lo telepon dia. Mending lo jawab pertanyaan gu e yang tadi, deh. Lo masih nungguin Sigit?”
“Menurut lo?”
“Masih lah! Terakhir gue denger cerita lo, lo seneng banget bisa ketemu dia di Rabu malam. Lo bilang dia matanya berbinar banget, dan lo selalu teduh melihatnya. Dari situ gue tahu kalau lo masih nunggu dia, nunggu dia peka sama lo. Nunggu dia nggak cuma nganggep lo temen. Ya, kan?”
“Ah, lo sok tahu.”

Wira tertawa lagi. Ia mengemudikan mobilnya melintasi jalan satu arah yang sepi. Sementara Nia memilih mengalihkan pandangannya ke jendela, memandang hamparan rumput dan tanah kosong yang ia dan Wira lalui. Nia berharap pertanyaan Wira tidak perlu dijawab.
Mobil melaju cukup kencang, lalu berbelok ke kanan dan melewati jalan yang lebih sempit. Wira menginjak pedal rem, mobil pun berhenti.

“Kita sudah sampai,” kata Wira dengan nada suara yang hampir tidak terdengar oleh Nia.
“Kita ini di depan rumah siapa?”
“Coba tebak!”
“Gue kenal?”
“Kenal banget lah! Dia juga kenal lo! Keluar saja, temui orang di dalam rumahnya!”
Nia bingung. Tapi ia tetap membuka pintu mobil, melangkah keluar, dan berjalan dua langkah. Ia memandangi teras rumah itu. Terdapat satu buah meja dan dua buah kursi yang terbuat dari kayu. Tiba-tiba Nia melihat seseorang duduk di salah satu bangku itu.

Sigit.
Nia melihat sosok Sigit tersenyum menghadapnya. Jantung Nia terasa berdegup lebih cepat. Nia melambaikan tangannya namun tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Baru saja Nia ingin mendekat, namun dalam hitungan lima detik, Nia malah mengucek kedua matanya.
“Hah?” teriak Nia sendirian.

Nia langsung terburu-buru ke arah mobil, membuka pintu, langsung duduk, dan menutup pintu dengan tenaga yang cukup kencang.
“Lo kenapa?” tanya Wira panik. Sejauh ia melihat Nia lewat kaca di hadapannya, nampaknya Nia tidak melakukan apa-apa selain melambaikan tangan.
Nia diam, namun dengan muka yang amat tegang dan serius.
“Lo tadi melambaikan tangan sama siapa?”
“Gue mau pulang, Ra. Gue takut.”
“Takut apa, Nia? Lo jangan horor, dong!”
“Gue kayaknya udah terlalu menyimpan perasaan, sampai-sampai gue….. punya ilusi hati yang bener-bener berlebihan, Ra. Gue takut.”

Wira mengambilkan sekaleng minuman bersoda pada Nia.
“Gue cuma punya ini di mobil, nggak ada air putih. Sekarang lo minum dulu, biar tenang!”
Nia mengikuti perintah Wira. Wajahnya berubah, tidak setegang tadi.
“Gue tadi melihat Sigit di teras rumah itu. Tapi ternyata gue cuma berilusi, Ra. Sebenernya Sigit nggak ada di situ. Lagipula itu rumah siapa saja gue nggak tahu. Tadi gue kira itu rumah Sigit. Wira, kita pulang saja, ya!”
“Nia,  sebenernya itu rumah Sigit. Gue memang bawa lo ke rumah dia. Sudah sampai sini, kok, malah minta pulang?!”
“Enggak, tetep saja gue nggak mau, Ra. Kita pulang saja! Percuma, gue cuma berilusi doang, nggak mungkin dia mau menyapa gue seperti yang tadi gue bayangin sendiri. Dia nggak seramah itu sama gue. Gue nggak mau termakan ilusi hati kayak gini, Ra. Gue tersiksa!”
“Yakin mau pulang?”
“Iya.”
“Lo nggak nungguin dia keluar dari rumahnya?”
“Nggak.”
“Bentar lagi dia keluar kali, tungguin saja!”
“Nggak mau.”
“Sudah sejauh ini, lho!”
“Nggak bisa, Ra. Dia bukan buat gue.”
“Lo nggak usah mikirin gue, gue nggak apa-apa. Walaupun memang gue sayang banget sama lo, tapi gue tahu lo menunggu siapa. Gue mau bantuin lo untuk melakukan hal lain selain menunggu, gue mau lo menemuinya. Makanya gue ajak…..”
“Ra! Ayo pulang!”
“Tapi……”
“Ra, gue mau pulang sama lo. Gue sadar, kok, sama semua yang lo lakuin ke gue. Gue tahu lo begitu pedulinya sama gue, sampai-sampai lo malah nganterin gue ke rumah Sigit. Tapi sekarang gue sadar, Ra. Sigit bukan buat gue, dia nggak ada buat gue. Yang sekarang gue mau adalah pulang sama lo!” ucap Nia dengan nada yang makin lama makin meninggi, lalu bulir air dari matanya jatuh. Nia berusaha mengatur napas, namun gagal karena menangis.
“Orang yang gue tunggu belum tentu juga menunggu gue, Ra. Gue nyerah.”
Sebenarnya Wira ingin sekali memeluk Nia, namun ia menahan niatnya itu. Wira tidak mau Nia malah menjadi marah. Wira hanya menatap nanar Nia yang sedang menjadi lemah.
“Maafin gue, Ra. Ayo kita pulang!” ucap Nia sambil….. memeluk Wira.


Note:
Sebenarnya Wira bohong. Ia tidak membawa Nia ke rumah Sigit. Bahkan Wira sendiri tidak tahu itu rumah siapa. Yang benar: Wira sangat menyayangi Nia.

Apalah Arti Menunggu?

Ini bukan soal judul lagunya Raisa, soalnya sekarang yang lagi booming judulnya LDR (apa, sih!).
Ini soal arti dari kata “menunggu”, tapi nggak pakai KBBI.
Jadi, gini…
Kata orang, pekerjaan yang paling membosankan adalah menunggu.

Life-is-to-short-2014-quote
Kata gambar di atas, “Life is too short to wait” yang punya makna kalau hidup itu terlalu singkat, jadi sangat sayang kalau digunain buat menunggu.

Wait, wait!
Coba, deh, dipikir dan ditelaah lagi! Kenapa? Mungkin ada yang nggak sesuai sama teori-teori yang gue sebutkan di atas.

Sebelumnya, coba inget-inget dulu apa saja, sih, yang masuk kategori “menunggu”?
Menunggu mie instan matang dan siap buat disantap
Menunggu cairan tipe-x mengering di kertas
Menunggu kereta atau bus dateng untuk mengantar kita ke tempat tujuan
Menunggu seseorang di sebuah cafe atas janji yang sudah disepakati sebelumnya
Menunggu film favorit (yang masih “coming soon”) tayang di bioskop
Menunggu mantan mau maafin kesalahan dan balikan *eh
Menunggu gebetan putus dari pacarnya *eh
Oke, segitu saja.

Dari contoh-contoh itu, ada yang sadar nggak, kalau menunggu adalah suatu tindakan/action?
Yap, menunggu itu bukan cuma berdiam diri. Menunggu adalah sebuah tindakan nyata yang kita sadari. Menunggu itu bukan membuang waktu, menunggu itu bagian dari proses atau usaha mencapai sesuatu.

Waktu kita mau makan mie instan, kita meracik mie tersebut sesuai petunjuk, lalu kita masih harus nungguin mie itu matang. Walaupun lamanya nggak lama-lama-banget, tapi tetep saja menunggu itu adalah proses supaya mie itu benar-benar matang dan bisa dimakan.

Waktu kita pakai tipe-x buat menghapus tinta pulpen di kertas, jelas harus menunggu cairannya mengering , kan? Supaya setelah itu bisa menimpanya dengan tulisan (tinta pulpen) yang baru. Kalau kita nggak nunggu? Ya, siap-siap saja pulpennya bakal nggak nyata karena terkena cairan tipe-x yang belum kering, atau cairan tipe-x yang nggak rata keringnya di kertas, membuat nggak rapi untuk ditimpa tulisan baru.

Waktu nunggu kereta atau bus, seseorang, film “coming soon”, juga merupakan usaha atau proses yang nggak bisa dipungkiri. Soalnya, kalau kita nggak merelakan diri untuk menunggu, kita malah nggak dapat apa-apa, kan?
;)
Jadi, tenang, Guys, kalau kalian harus banget melakukan suatu tindakan bernama “menunggu”. Karena setelah gue telaah, menunggu bukan sesuatu yang sia-sia, itu bagian dari proses. Cuma sayangnya, nggak sedikit orang yang nggak sabaran, banyak orang yang maunya apa-apa cepet. Sebenarnya ada cara yang lebih tepat supaya “menunggu” itu jadi nggak terasa.

Misalnya, pas lagi nunggu kereta atau bus, bisa dimanfaatin buat mainan games di handphone, atau baca novel, atau teleponan sama pacar, haha. Pas lagi masak mie instan, nonton tv dulu sebentar, tapi jangan kelamaan, bisa-bisa mie-nya bonyok, haha. Pas lagi…..ah, kalian sendiri juga tahu lah!

Tapi, ada catatan, nih! Menunggu itu juga harus rasional dan realistis. Kalau menunggu mie instan matang, ya, jelas, mie-nya memang sedang dimasak di panci yang berisi air dan dipanaskan di atas kompor. Kalian menunggu sesuatu yang nggak sia-sia.

Kalau menunggu mantan balik lagi ke kita? Hmmm. Coba pikir lagi, deh! Kita lagi nunggu seseorang yang juga nunggu kita nggak? :p Kalau dianya udah nggak mikirin kita, udah nggak peduli sama kita, apalagi dia udah punya pacar baru, lebih baik menunggunya disudahi saja, supaya tidak ada yang sia-sia.

Tapi kalau memang masih mau balikan, usaha yang bisa dilakukan bukan menunggu, tapi bertindak lain. Bertindak apa? Ya, itu, sih, kalian yang tahu, karena kalian yang ngejalanin, yang tahu titik masalahnya, yang tahu apa yang harus diperbaiki. Jadi, bertindaklah dengan cara lain, karena menunggu bukan cara yang tepat.
Ya, sekali lagi, menunggu itu bagian dari proses, jadi harus ditempatkan di tempat yang tepat. Ada yang harus ada menunggu-nya, yang juga yang enggak. Karena menunggu itu sebenarnya menyempurnakan pencapaian. Sebab kalau kita sering gegabah dan terlalu terburu-buru mengambil keputusan, bisa jadi kita salah pencapaian.

Menunggulah jika itu cara terbaik mencapai yang terbaik.
Bahkan, “Hidup terlalu singkat untuk menunggu” itu kurang tepat. Kenapa? Pertama, hidup di dunia itu memang benar-benar singkat. Kedua, kita semua memang sedang menunggu, menunggu giliran meninggalkan kehidupan dunia yang singkat ini.
Sekian.

Saya menunggu komentar kalian! :p

Minggu, 12 Oktober 2014

Rendang Keras dan Lalat di Piring

Aku mulai muak dengan ini. Berlama-lama di depan layar komputer yang menampilkan angka-angka berderet. Kumpulan angka yang berbaris dengan titik-titik yang memisahkan antara bilangan yang satu dengan bilangan yang lain. Angka yang menunjukkan nominal uang. Kasihannya, aku hanya melihat nominalnya saja, bukan melihat bahkan menyentuh uangnya. Uangnya tidak ada di sini.

Beginilah seorang akuntan, bekerja menghitung uang, tanpa melihat wujud uangnya. Sebenarnya menjadi akuntan bukanlah keinginanku, ini terpaksa karena keinginan Ayah. Aku seorang sarjana akuntansi yang tidak suka pekerjaan monoton, aku lebih suka berkreasi dan menghasilkan suatu karya yang bisa dinikmati orang lain.

“Jangan melamun! Cepat selesaikan laporan keuanganmu sebelum Pak Bos memintanya. Aku sudah memberitahumu, ya! Jangan sampai kamu dimarahi lagi seperti waktu itu. Aku sudah cukup bosan mendengar ocehan marah-marah di kantor ini,” ucap Manager Keuanganku dengan muka yang selalu kusut, melebihi kusutnya baju yang belum disetrika.

Aku memonyongkan bibirku, manyun. Aku pikir, bisa-bisanya dia berkata seperti itu, sedangkan aku juga sama bosannya jika mendengar berisiknya marah-marah Pak Bos, bahkan sama muaknya seperti saat mengamati deretan angka-angka di hadapanku ini. Tapi bisa apa aku, siapa aku?

Jam dinding yang berdetak sendirian menunjukkan waktu pukul 11.30. Istirahat makan siang. Aku bergegas mematikan monitor, tanpa menutup satu pun aplikasi yang terbuka. Masa bodoh lah. Sayang, kan, kalau waktu istirahatku habis beberapa menit hanya karena menutup aplikasi di komputer?

Aku bergegas keluar kantor untuk makan. Tempat makan di perusahaan ini berada di lantai tiga.

Aku bertemu beberapa teman kantor dari departemen lain di tempat makan. Mereka kusapa, basa-basi saja, biar tidak terkesan sombong. Padahal sebenarnya aku agak malas menyapa mereka, apalagi harus duduk dan makan bersama mereka. Terkadang mereka masih membicarakan pekerjaan. Sebenarnya mereka itu tahu waktu tidak, sih? Waktu istirahat, kok, membicarakan pekerjaan? Bukan hanya karena aku tidak mengerti pekerjaan—departemen mereka, tapi kepalaku langsung pening jika mendengar pembicaraan yang berbau pekerjaan. Tolonglah hargai waktu istirahat yang telah diciptakan ini.

Aku memilih makan di meja lain, sendirian. Kulahap menu makanku yang isinya nasi berkuah dengan rendang yang banyak bumbunya, serta beberapa helai daun singkong.

Uh. Daging rendangnya keras sekali. Aku tidak sanggup memotong daging ini dengan sendok makan. Gigiku lebih kuat untuk memotongnya. Tapi masa iya, aku harus memasukkan daging ke dalam mulut dan aku potong-potong dulu menggunakan gigiku? Baiklah, ini agak menjijikkan. Seharusnya koki masakan Padang itu mengerti cara masak daging rendang yang benar. Aku jadi merasa yakin kalau bisa memasak daging rendang lebih baik dari ini. Maklum, Ibuku pintar memasak, dan aku sangat suka ikut kegiatan memasak dengan Ibu. Bahkan sekarang aku memanfaatkan waktu libur –Sabtu Minggu untuk memasak makanan pesanan orang.

Nasiku hampir habis. Aku malah memperhatikan piringku yang hampir kosong. Apa ini?

Aku terkejut melihat sesuatu yang aku kira menemplok di piring. Seekor lalat hitam kecil di pinggir piringku, membuat aku berpikir bahwa sepertinya makanan di piring ini menjadi kurang sehat.

Mataku melotot, memperhatikan baik-baik seekor lalat yang membuatku memiliki praduga negatif. Aku saksikan dengan detail lalat itu. Semakin aku memandanginya, lalat ini tidak kunjung pergi. Heran, maka aku sentuh saja lalat itu. Dan....... Sial, lalatnya bukan lalat sungguhan. Ini hanya gambar. Kalau dikira lalat sungguhan bagaimana? Seharusnya bukan piring model seperti ini yang dipakai. Mengundang konsumen yang bisa jadi salah perkiraan.

Tiba-tiba ada yang berbunyi dari dalam kantong celana bahanku. Ada yang menelpon.

“Halo, dengan Bu Mus?” tanya seorang wanita di balik telepon.
“Ya, benar.”
“Saya Ranti, yang kemarin memesan makanan untuk acara ulang tahun anak saya. Masih ingat?”
“Tentu saja, Bu Ranti yang memesan sepaket nasi tumpeng, kan? Ada apa, Bu?”
“Iya, masakanmu dan Ibumu enak, lho! Teman-teman anak saya juga bilang begitu. Nah begini, dua minggu ke depan kantor saya akan mengadakan kegiatan Family Gathering, saya berencana untuk memesan konsumsi padamu. Apa bisa?”
“Wah, sangat bisa, Bu. Kirimkan saja menu apa yang diinginkan, nanti saya beritahu Ibu saya.”
“Terima kasih. Nanti saya hubungi lagi.”

Aku tersenyum semringah. Bangganya jika dipuji masakan aku dan Ibuku enak. Aku merasa sudah melakukan sesuatu yang bernilai untuk orang lain. Apakah ini berlebihan? Aku tidak peduli.

Pokoknya aku merasa berhasil, tidak seperti pekerjaanku sebagai akuntan yang mengundang Pak Bos marah-marah dengan bisingnya. Entah karena aku salah input lah, tidak balance lah, tidak tepat waktu lah.

Ah, ya, omong-omong, sudah waktunya masuk kantor dan bekerja lagi. Sudah 1 jam aku berada di sini.

Aku melangkahkan kakiku dengan gontai, memegang kepalaku yang bersiap-siap akan pening lagi.

Hai, tunggu dulu, bukankah tadi aku merasakan kepuasan? Mengapa tiba-tiba aku tidak bersemangat lagi?

Aku menghentikan langkahku. Menatap beberapa koki yang berlalu lalang.

Salah satu koki itu memasang wajah kusam, ia berbicara dengan suara yang meninggi, “Padahal orang kantoran mah enak cuma tinggal duduk dan menikmati makanan, tapi masih ada saja yang nggak menghabiskan makanannya. Nggak tahu apa, membuatnya, kan, capek? Kalau saya sarjana, sudah dari dulu jadi orang kantoran saja.”

Aku berpikir sejenak, tidak peduli waktu masuk kantor sudah berlalu berapa menit.

Hm, kasihan sekali orang itu, dia malah lebih ingin menjadi orang kantoran. Aku malah ingin seperti dia. Bukankah aku lebih cocok menjadi seorang koki atau pengusaha restoran?! Aku lebih merasa berharga di posisi itu. Mengapa setiap manusia tidak ditempatkan pada pekerjaan yang sesuai keinginannya, sih?

Ragusa yang Pulang

Ia menatapku begitu dalam, tentu saja membuat aku canggung. Aku mengangkat sesendok es krim coklat dari mangkuk putih lonjong di depanku, lalu melahapnya, berharap kecanggunganku tertutupi dengan melakukan ini.

Aku memang sedang di dalam ruangan dengan banyak pengunjung di dalamnya, namun pikiranku melayang entah ke mana. Aku merasa pikiranku sedang berkelana, ke tempat yang pernah kusinggahi, tapi aku tidak akan pernah bisa kembali ke tempat itu. Tempat yang terbayang jelas sosok seseorang yang sekarang sedang mengintaiku: masa lalu.

“Put, kita mulai cerita baru. Mau, kan?” ucapnya sangat hati-hati padaku.

Deg. Aku yang duduk di hadapannya terpaku. Aku bergeming. Tidak sedang menunggu apa-apa, tapi berharap ia tidak menungguku bicara.

Tanpa perintah, penglihatanku samar. Ada yang menghalangi kedua bola mata. Aku berkedip pelan satu kali, ada yang jatuh dari mata sebelah kanan, kemudian disusul dari mata sebelah kiri. Perlahan bulir air menghujani pipiku tanpa suara. Aku merasa berhenti bernafas sesekali. Kemudian selembar tisu melayang di depan wajahku, dibawa oleh lima jari yang pemiliknya aku kenal. Telingaku mendengar kalimat dari seseorang yang sedari tadi masih setia di hadapanku.

“Kok nangis? Malu, ah. Pakai tisu, nih!”

Aku memang menangis, tapi aku mengembangkan senyum. Aneh. Aku sendiri tidak ingat kapan aku pernah melakukan ini sebelumnya. Menangis dan tersenyum di waktu yang bersamaan.

“Nggak apa-apa,” kataku seraya mengambil tisu dan mengelap air yang telah membuat wajahku basah.

Sekarang giliran ia yang tersenyum. Sepertinya ia memang menungguku menjawab pertanyaannya.

“Apa kamu yakin? Tapi aku, kan, pernah salah?” tanyaku, kini tidak disertai senyuman, perasaanku lah penyebabnya. Perasaan takut menyerangku tiba-tiba.

“Setiap manusia pernah salah, kok.”
“Maksudku, aku pernah salah sama kamu. Waktu itu, aku meninggalkanmu hanya karena lebih memilih orang lain. Aku ini jah..........”
“Sssttt. Jangan menengok ke belakang, Putri! Kita belajar dari masa lalu, perbaiki kesalahan lalu, kita masih punya masa yang masih suci,” tuturnya dengan tatapan mata yang  selalu aku hapal, teduh.
“Aku tidak yakin bisa membahagiakanmu setelah menyakitimu,” ucapku tanpa menatap matanya. Aku tidak kuat.

Ia menghela nafas. Seolah melepaskan beberapa beban yang ia tahan sejak awal berjumpa denganku. Dan aku tahu persis beban itu.

“Memang sakit sekali, sih. Tapi entah kenapa rasa sayangku masih terlalu besar dari rasa benciku. Aku pikir, aku juga yang salah, aku kurang membahagiakanmu. Tidak seperti, hmmm laki-laki yang kamu pilih saat itu. Maka aku pikir, membahagiakanmu adalah penundaan. Dan inilah waktu yang tepat membahagiakanmu, setelah kamu bukan milik siapa-siapa.”
“Aku tetap jahat, Arya!” kataku dengan nada yang mulai meninggi.

Arya menghela nafas untuk kedua kalinya. Sendok di tangannya tidak mengayun selama berbicara padaku. Es krim di meja kami sama-sama mencair perlahan, mungkin terkena panas dari energi yang aku dan Arya keluarkan. Baru kali ini aku tidak menikmati makan es krim. Padahal dulu saat masih “bersama” Arya, tempat dengan papan nama “Ragusa” di depannya ini adalah tempat makan favoritku. Walau jauh dari rumah kami masing-masing, kami tetap pergi ke sini. Dan sekarang kami di sini dengan suasana dan kondisi yang jauh berbeda.

“Apakah sebaiknya kita berjalan sendiri-sendiri saja sekarang? Aku tidak ingin menyakitimu lagi. Sungguh,” ucapku memohon, tapi tidak sepenuh hati, sebab masih ada sepotong hatiku yang tertinggal padanya.

“Sebentar, aku ingin bertanya dulu.”
“Apa?”
“Anggap saja aku adalah rumah lamamu. Apakah kamu meninggalkanku karena aku tidak cukup baik untuk melindungimu? Sampai kamu mencari rumah baru? Aku tahu, Putri, rumah itu tidak salah. Jika sudah merasa tidak cocok dengan rumah, penghuninya berhak pindah. Tapi apakah kamu lupa, bukankah rumah itu bisa direnovasi?”
“Hmmm. Iya, benar, aku lupa.”
“Selain manusia pernah salah, setiap manusia juga pernah lupa.”
“Tapi aku lupa dengan sangat bodoh. Aku tidak yakin pulang ke rumah itu lagi, aku terlalu bersalah.”
“Jangan membohongi diri, Putri. Air matamu saja menjelaskannya padaku. Air matamu jatuh pertama dari mata sebelah kanan. Itu berarti kamu menangis karena bahagia. Lain halnya jika air matamu jatuh pertama dari mata sebelah kiri, itu baru kesedihan. Ya, kan?”

Aku menelan ludah. Aku tidak mengerti mengapa Arya selalu bisa menebak dengan tepat. Percuma saja aku mengelak. Sia-sia aku mengutuk diriku ini yang sudah terlanjur amat bodoh. Walaupun kisah masa lalu terus berputar di kepalaku, aku ternyata sangat bahagia saat Arya masih mau menerimaku, sekarang. Buktinya, air mata saja mengungkapkannya.

Arya tahu aku tidak mau mengutarakan perasaan bahagiaku. Dengan tenang, Arya memperjelas maksudnya.

“Jika kamu mau memperbaikinya, tetaplah di sini, nikmatilah es krimmu. Jika kamu masih enggan, maka kamu bisa meninggalkanku di sini, biarlah kita berjalan sendiri-sendiri seperti katamu. Aku akan berusaha melepaskanmu untuk kedua kalinya, setidaknya aku sudah agak terlatih untuk itu. Bahkan mungkin, kelak bisa jadi profesional. Hehe.”

Aku masih diam.

“Put? Bagaimana?”

Aku belum menjawab.

“Put? Put? Putri? Bangun!”


Aku membuka kedua mataku. Samar-samar, kulihat bagian belakang jok mobil, diduduki oleh seorang wanita yang memanggilku.

"Bangun, Putri! Kita sudah sampai di rumah baru."

Sial. Ternyata yang tadi itu hanya mimpi.

"Apa, Bu? Kita pindah rumah?" tanyaku yang baru menyadari ada sebuah kardus di pangkuanku. 

Ibuku malah tertawa kecil.

"Nyawamu belum kumpul, ya? Kita, kan, hari ini pindah rumah."

"Kenapa kita pindah?" tanyaku bingung, nyawaku benar-benar belum terkumpul.

"Rumah kita yang lama, kan, sudah nggak cocok untuk kita. Anggota keluarga kita sudah bertambah banyak, sedangkan rumah kita terlalu sempit. Sudah, sekarang kamu bawa barang-barang kamu, kita berbenah!"

Aku memilih terpaku sebentar, memandangi kardus coklat yang tidak terlalu berat di pangkuanku. Isi kardus coklat ini hanya barang-barang sederhana pemberian laki-laki bernama Arya, mantan kekasih yang masih mengikuti pikiranku. Terbesit satu kalimat di kepala: Apa benar cinta bisa kembali pulang?