Selasa, 26 April 2016

Lagu dan Kegelisahan

Setelah mendengar lagu indah berjudul “Ku Ingin Kau Tahu”-nya Overtunes, agak timpang sih kalau sekarang gue malah dengerin lagu “Mungkin”-nya Overtunes juga. FYI, lagu-lagu itu dipakai untuk soundtrack film Ngenest yang belum kesampean gue tonton. Nonton bareng, yuk! *lah *kode

Gue……….. seneng banget denger lagu “Ku Ingin Kau Tahu”. Serasa dinyanyiin. Serasa disirami bibit-bibit untuk tumbuh. Serasa sembuh. Serasa punya harapan lagi. Duh, gue pengen nangis ngetiknya. Hahaha :’D

LEBAY GUE!!! *netes

Bagian lirik yang paling gue suka:
Oh, senyummu seperti pelangi yang indahkan hari
Dan hatiku menginginkanmu lebih dari yang kau tahu
Ku ingin kau…. Ku ingin kau tahu.

Gue kayak anak alay, ya, nulis kayak begini?
Liriknya juga biasa aja kan, ya? Udah biasa ada di lirik-lirik lagu pada umumnya. Mainstream.
Tapi rasa yang gue tanggung saat ini…….. nggak biasa.
Biasanya, gue lebih suka menulis kata-kata konotasi untuk menggambarkan ini. Tapi, sungguh kali ini gue nggak bisa menulis itu.

Kemudian, beberapa saat lalu gue membaca suatu pernyataan. Gue tau itu pernyataan yang menyakitkan, tapi gue udah janji nggak boleh sakit (sama diri gue sendiri). Tapi, ternyata gue nggak bisa bohong (sama diri gue sendiri), dan selalu begitu.

Gue nggak akan sebutin pernyataan apa, yang pasti bukan buat gue, haha.

Maka, gue langsung mendengar lagu “Mungkinkah”.

Ya, pas banget.

Apalagi pas di sini:
kita sempurna, mungkin sebaliknya
mungkin kita takkan pernah menyesal
kita bisa sedih, mungkin bahagia
mungkin kita satu selama-lamanya
but maybe we should try

Ya Allah :’)


Ya, yang bisa gue lakukan sekarang hanyalah: MENCOBA.

Kamis, 07 April 2016

Baru

Telat banget kalau gue baru bilang "Selamat Tahun Baru!"
Haha. Nggak, nggak, gue nggak mau bilang ucapan itu kok. Gue cuma mau bilang, "Hai, selamat bertemu lagi!" *nyanyi*

Nggak terasa, ini udah tahun 2016. Ternyata tulisan di blog ini, tahun 2014 lebih banyak daripada 2015. Haha. Mungkin di tahun 2015 hati gue lagi remuk-remuknya sampai nggak kuat ngetik. Haha lebay~

Gue mau cerita dikit, nih! Serius, dikit aja.
Gue masih suka menulis. Dengan menulis, gue bisa mengungkapkan apa aja yang gue pikir atau rasa. Tapi, seiring berjalannya waktu, gue menyadari bahwa ada hal yang perlu ditulis, tapi ada juga yang sebaiknya tidak perlu ditulis. Gue sepertinya mulai lebih dewasa. Eh, nggak juga sih, gue masih suka nonton kartun sama main DDR. Hahahaha.

Dulu, iya, dulu banget, gue pernah jatuh cinta cuma gara-gara tulisan berjudul "Untaian Kata yang Gak Bagus". Serius, itu gue bacanya nggak satu kali. Berulang-ulang, hingga akhirnya gue bisa jatuh cinta sama penulisnya.
Makanya, itulah salah satu alasan gue suka menulis dan mencurahkan rasa jatuh cinta dan sakit hati gue melalui tulisan. Dan nyatanya, ternyata nggak ada yang jatuh cinta sama.......... tulisan gue. *pukpukindirisendiri*

Tapi yaudah lah, gue bersyukur, Alhamdulillah karena blog ini, gue jadi bisa masuk divisi sastra di LPM kampus gue, tanpa seleksi cuy! Terus bisa kerja sama buat buku antologi cerpen puisi bareng sahabat-sahabat kampus. Bahkan bisa baper semaunya, berkedok "gue kan anak sastra, jadi apa-apa pakai perasaan" (haha bercanda).
Bisa apa lagi, ya? Banyak.
Bisa soundcloud-an pake puisi sendiri
Bisa baca puisi di depan orang banyak
Bisa ngungkapin perasaan secara tersurat karena nggak berani diucapkan langsung di depan orang yang dituju *eh
Banyak, deh, pokoknya. Tapi, nggak gue sebutin semua, soalnya di awal, kan, gue udah bilang bakal cerita dikit. Sedikit.

Nah, kenapa juga gue buat tulisan ini? Bisa jadi nggak perlu, kan? Haha.

Soalnya, gue cuma nggak mau ada yang kaget. Gue akan memposting tulisan ber-genre lain setelah ini, salah satunya non fiksi. Jadi, mungkin kalian yang baca akan ganti mode dulu jadi anak serius, bukan anak baper. Hahaha.

Terima kasih, ya, teman-teman yang senantiasa berbaik hati mau membaca tulisan-tulisan di blog ini. Maafin Sandra kalau buat kalian baper, nangis, terharu, senyum-senyum, sepakat, bahkan hingga...... kasihan sama gue. Hahaha.
Semoga bermanfaat, entah bagaimana caranya.

Next art is coming soon, guys!


-Sandra (yang baru)

Selasa, 10 November 2015

Hujan Bulan November

Entah kenapa
Hujan kali ini berbeda
Hujan kali ini seolah menuturkan cerita
Pun membuang nasihat-nasihat kepadaku

Hujan mengingatkanku tentang keredaan
Segala yang gersang dapat tumbuh kembali
Segala yang meresahkan akan reda
Segala kesabaran akan menang
Hujan mengguyur gelisahku

Tahukah kau?
Sabar lebih sulit daripada sungguh-sungguh
Bak matahari yang menggebu-gebu naik
Butuh hujan untuk mendinginkan
Seberapa besar kekuatan matahari dan apinya, ia butuh air
Begitu pun aku, kau, dan mereka
Kita butuh sabar seberapa keras kita mendobrak
Hujan kali ini menceritakan padaku
Hujan bulan November ini berbeda
Entah kenapa

Rabu, 28 Oktober 2015

Everything Has Changed

Tulisan ini ditulis tanggal 14 Oktober 2015...
...
...


Pagi yang cerah di tanggal merah. Alhamdulillah kita memasuki Tahun Baru Islam 1437 Hijriah.
Namanya tahun baru, akan menyenangkan kalau ada yang baru ><. Nah, ini postingan terbaru dari gue. Haha.
Sebelum baca ini, bisa didengerin dulu, nih, nyanyian absurd gue dan Adit.



Lagu ini berjudul: “Everything Has Changed”. Apa yang muncul di benak saat baca atau denger judulnya? Kalau gue, sih, sedih. Haha.
Gue seperti masuk ke lingkaran di mana ‘semua udah berubah, semua udah nggak sama lagi, dan gue nggak bisa ngapa-ngapain buat mengembalikannya’.
Wait.

Padahal sebenernya arti lagunya membahagiakan :’)

Karena yang kutahu hanyalah kita saling sapa
Dan matamu tampak seperti pulang
Yang kutahu hanyalah sebuah nama sederhana
Segalanya telah berubah
Yang kutahu hanya kau memegang pintu
Kau kan jadi milikku dan aku kan jadi milikmu
Yang kutahu sejak kemarin
Segalanya telah berubah

Dan semua dindingku
Berdiri tegak bercat biru
Dan akan aku runtuhkan
Membuka pintu untukmu

Dan yang kurasa di perutku hanyalah kupu-kupu
Kupu-kupu yang indah
Mengganti waktu yang hilang
Membawa terbang membuatku merasa seperti...

Aku hanya ingin lebih mengenalmu......

Jadi, maksud lagu ini tuh, ada orang baru yang hadir dan segalanya berubah. Berubah menjadi indah tentunya :’) iya, kelak, San, Aamiin. *lho?
Lagu ini aslinya dibawakan sama penyanyi Taylor Swift dan Ed Sheeran. Kata Dessy Indah K., Taylor Swift itu penyanyi country, tapi sekarang genre-nya berubah menjadi pop. Dia menulis lagu kebanyakan dari pengalaman pribadinya. Penampilan Taylor Swift bergaya vintage, identik dengan lipstick merah (red). Matanya kayak kucing alias cat eyes.
Gue yang secupu ini sekarang malah suka dengerin lagu-lagu Taylor Swift. Dulu mah, ya, boro-boro. Haha. Ya, gue berubah. Haha.

Terus?
Kenapa gue nulis tulisan absurd kayak gini? -_-
Gue cuma mau bilang gini:
Seiring berjalannya waktu segala hal bisa berubah, baik yang direncanain atau tidak. Dari hal kecil sampai hal besar. Dari hal sepele sampai yang rumit. Semuanya berubah, mulai dari usia sampai pemikiran (mindset).
Kalau ada yang sayang banget ‘waktu itu’, belom tentu sekarang.
Kalau ada yang menyenangkan banget ‘waktu itu’, belom tentu sekarang.
Kalau ada yang dibanggain banget ‘waktu itu’, belom tentu sekarang.
Kalau ada yang mengecewakan banget ‘waktu itu’, belom tentu sekarang.
Kalau ada yang menghancurkan ‘waktu itu’, belom tentu sekarang.
Kalau ada yang ngebetein ‘waktu itu’, belom tentu sekarang.

Hal ini nggak berlaku untuk cinta-cintaan aja, kok! Dalam segala aspek kehidupan juga berlaku. Jangan sampai kaget sama perubahan-perubahan yang ada, ini wajar. Semua perubahan itu bagian dari perjalanan dan proses hidup.
Lalu, apa yang perlu dilakukan?
Menikmatinya.
Sebab suatu saat nanti......... everything has changed!
Ya, segalanya akan berubah lagi. So simple!

Oh, ya, berhubung ini tahun yang baru, yuk, berubah menjadi pribadi yang lebih baik! Bismillah! :D


Sumber:
http://www.terjemah-lirik-lagu-barat.blogspot.com


Sabtu, 11 Juli 2015

Buku yang Tidak Disengaja

Sebetulnya ini ketidaksengajaan. Begini ceritanya:


Aku berusaha mencari tahu sesuatu, pergi ke beberapa tempat yang di dalamnya terpasang lampu-lampu silau. Tepatnya lagi di tempat itu, berjejer aneka benda berbentuk kotak dengan ukuran yang kecil hingga besar. Baiklah, akan kusebut nama benda-benda itu: handphone dan televisi.


Ya, aku mencari sesuatu di antara benda-benda itu. Aku mencari handphone. Tidak, bukan hanya mencarinya, aku juga (sangat) berniat memilikinya. Jum’at lalu (bukan kemarin) aku membeli koran –entah kenapa aku suka membeli koran, walaupun tidak akan sempat membaca seluruh tulisannya, aku merasa ingin ikut merasakan jerih payah para penulis atau jurnalis yang menyumbangkan karyanya di sana. Koran itu menampilkan iklan dari hampir semua pasar swalayan besar –koran butuh iklan agar tetap hidup. Tentu saja, aku melihat iklan handphone yang aku mau (dan harganya terjangkau) yang ternyata bisa diangsur selama 12x. Hahaha, kebetulan sekali, aku benar-benar mengincar handphone atau lebih tepatnya smartphone, ya, untuk menemaniku, setidaknya. Tapi karena aku tahu kondisi ekonomiku yang sedang tidak menakjubkan, aku mengurung niat membelinya dengan alasan: “Nggak punya smartphone nggak bikin mati, kok.” Dan saat itu pula aku merasa ‘mati’.


Bayangkan.


Aku masih berusaha beradaptasi dengan lingkungan kerja baruku (Alhamdulillah aku sudah mendapatkan pekerjaan baru). Setiap istirahat, sejujurnya saja, aku bingung akan ke mana. Saat di bulan yang bukan Ramadhan, aku memutuskan untuk membeli makan di tempat makan yang tidak jauh dari kantor, lalu memakannya di meja kantorku sendiri. Sungguh, ini bukan tanpa alasan. Aku memilih tempat makan itu karena aku menilainya merupakan tempat makan paling murah yang pernah aku dapati selama aku bekerja. Cukup Rp 8.000,- aku bisa makan peyek udang –yang benar-benar ada udangnya, lumayan besar, dan bukan kebanyakan tepung saja; dan ditambah 2 lauk lain beserta nasi yang sangat cukup membuatku kenyang. Lalu aku memakannya di mejaku saja, tidak beranjak ke tampat lain dan tidak bersama yang lain, karena…… aku hanya tidak ingin mendengar cerita buruk dari siapa pun, hahaha.


Lain halnya Ramadhan, aku tidak makan dan hanya menetap di mejaku. Aku terkadang tidur, atau hanya sekedar mencoret-coret kertas, atau bermain komputer –yang tidak ada internetnya. Aku bosan parah, sebenarnya. Hm mungkin lebih tepatnya: kesepian. Seandainya aku punya smartphone kan bisa aku gunakan untuk melihat kabar teman-teman lewat RU BBM, melihat postingan Path teman-teman yang terlihat bahagia –aku jadi ikut bahagia, melihat Instagram beberapa akun yang aku sukai, mengoceh di Twitter, searching apa pun yang terlintas di pikiran, dan banyaaak lagi. Lagi-lagi, mengapa aku tidak berkumpul dengan yang lain? Kali ini aku bukan tidak ingin mendengar cerita buruk, sebab di bulan Ramadhan cerita buruk biasanya berkurang jumlahnya, hanya saja aku tidak ingin ikut………….berbelanja. Please, somebody help me now!


Maka, aku berpikir bagaimana mempunyai smartphone kembali. Aku ingin mengikuti ‘pesan’ iklan di koran yang aku beli. Aku pergi ke beberapa pasar swalayan yang menawarkan ‘program’ angsuran itu. Tapi, nihil. Sebab syaratnya: berusia di atas 21 tahun. Mati sudah. Aku tidak jadi memiliki smartphone untuk saat ini.
Aku yang kesal, malah membeli sesuatu yang lain (tidak kuceritakan, ya!).


Di pasar swalayan terakhir aku mampir ke deretan buku-buku yang disusun di atas lantai. Obral buku, ternyata. Awalnya aku tidak begitu tertarik. Bukan karena aku tidak suka buku, aku hanya kehilangan nafsu karena kekesalanku gagal mendapatkan smartphone. Aku dengan malas membuka satu per satu buku. Buku terjemahan ternyata, buku fiksi dengan penulis luar negeri. Bahasanya itu, lho! Aku kurang suka, hehe. Soalnya kaku bangeeet. Terkadang malah nggak nyambung -_-


Sampai aku mengambil buku dan membukanya secara acak. Ada beberapa kata yang aku baca sekelibat: Munsyid, Nasyid, Paskibra. Aku jadi penasaran. Aku baca beberapa kalimat. Lalu, aku tersenyum seperti mendapati anak kecil yang sedang menang bermain sesuatu. Aku membaca halaman depannya: Tetralogi. Hah? Ini buku semacam buku Triloginya A. Fuadi ternyata. Kalau Tetra, berarti… ada 4 buku yang ceritanya berkelanjutan dan berkesinambungan. Ini buku ketiga. Aku bongkar sedikit buku-buku di bawahnya, dan aku menemukan buku kedua. Ada buku kedua dan ketiga dari Tetralogi ini. Tapi, sungguh, aku sedang tidak bawa uang banyak, haha.


Aku tidak jadi beli.
Aku mengendarai motor, sebelum keluar, aku bertanya, “Pak, tutupnya jam berapa, ya?”
“Jam 12 (malam).”
“Serius, Pak?”
“Iya, selama menjelang Ramadhan buka sampai jam 12.”
***


Aku buka dompetku. Yah, aku salah perhitungan, ternyata aku tidak punya ‘uang lebih’. Uang yang ada di dompet sudah untuk keperluan lain. Aku bilang Mama.



Aku tetap jadi beli buku. Mama mengantarkanku.
Sudah, ah, ceritanya. Sekarang, aku mau kasih tau sedikit apa, sih, isi bukunya!
Judul: Apologia Latte.
Karya: Irfan L. Sar.
Novel bagian kedua.

Kata
(Dalam sudut pandang orang pertama bernama Gia)

Sepanjang perjalanan menuju sekolah, dalam bus yang melaju cepat dan berkali-kali berguncang hebat, Rafli bercerita kepadaku tentang masa pemusatan latihannya di Bandung. Berkali-kali aku tersenyum dan berusaha menanggapi ceritanya, kendati tahu aku merasa canggung berada di dekatnya. Ini tidak berarti aku tidak mencintainya. Aku hanya merasa gugup karena Rafli selalu membuatku merasa takut. Ada aura tertentu dalam dirinya yang sulit kujelaskan yang membuatku merasa serba salah, dan memaksaku harus selalu mengalah menghadapi egonya.


Namun begitu, aura itu pulalah yang sering membuatku merasa nyaman, merasa terlindungi. Rafli memiliki visi yang jauh ke depan, seorang perfeksionis sekaligus pemurung. Dia akan menjadi romantis tiba-tiba, lalu menghilang dengan kesibukannya di paskibra.


Suatu hari, saat hujan turun dengan lebat, Rafli mengirimiku pesan singkat yang isinya teks lagu Jikustik, “Setia”: Deras hujan yang turun, mengingatkanku pada dirimu, aku masih di sini untuk setia, di saat malam datang menjemput kesendirianku, dan bila pagi datang, kutahu kau tak di sampingku, aku masih di sini untuk setia.


Aku membalasnya dengan teks lagu Jikustik yang lain yang membuat Rafli berpikir aku telah membuat sebuah puisi cinta untuknya. Lagu itu memang tak terlampau terkenal karena tidak dibuatkan video klip. Dan, aku ingin merahasiakan lagu itu, karena khawatir kau akan memberi tahu Rafli bahwa itu hanyalah sebuah lagu.


Sejujurnya, kadang aku merasa rendah diri berada di dekat Rafli, terlebih ketika dia menulis dan mengirimiku lirik lagu, puisi, yang sebagian diciptakannya dan sebagian disadurnya dari orang lain. Rafli orang yang romantis, kau harus tahu itu. Dia orang yang akan rela mengorbankan waktunya untuk memperhatikanmu, kendati misalnya, kau tak sudi membalas perhatiannya. Rafli memiliki hati lemah lembut yang membuatnya menjadi orang yang supersensitif, sering kali murung, dan merasa kesepian.


Sebelum masuk pada hari pertamaku kembali bertemu dengannya setelah dia menjalani masa Pemusatan Latihan Paskibraka di Jawa Barat, ingin kuceritakan kenangan indah saat aku ulang tahun yang ke-15. Saat itu aku kelas 3 SMP.

Oh, lagi-lagi aku lupa bercerita. Kau tentu ingat bagaimana perempuan-perempuan Mesir zaman dulu mengiris tangan mereka sendiri karena mereka dibuat takjub oleh ketampanan Nabi Yusuf. Pun aku begitu. Berkali-kali aku lupa bercerita betapa romantisnya Rafli karena aku terpukau oleh lelaki yang kini duduk di sampingku, bercanda dengan caranya yang kadang –harus kuakui—garing.


Hari itu Selasa, aku ingat betul. Pukul 5 pagi, aku terbangun oleh dering telpon genggamku. Dengan mata masih mengantuk karena semalam mengerjakan tugas sampai larut malam, aku mengangkat telepon itu, dan inilah yang terjadi pagi itu.


Rafli : Hai.
Gia : Hmm. (Masih mengantuk). Hei.
Rafli : Baru bangun, ya?
Gia : Iya. Hehe. Kenapa? Ada apa, Raf?
Rafli : Aku mau kamu keluar sebentar.
Gia : Keluar?


Saat itulah aku sadar ada sesuatu yang Rafli ingin berikan padaku, sebuah kejutan. Mendapat gagasan seperti itu, aku gelagapan, antusias sekaligus waswas. Aku memakai sandal jepit, membuka pintu kamarku, dan berjalan keluar, sambil mendengarkan suara Rafli di ujung telepon. Semilir lembut udara pagi menelusup lewat baju tidurku, dan aku merasa kedinginan.

“Berbelok ke kanan,” ujarnya, aku mengikutinya, “Li—“
Aku tak mendengar apa yang selanjutnya dia ucapkan karena aku tak tahan menahan tangis sewaktu melihat sebuah bungkusan di atas pagar rumah. Aku meraihnya, dengan air mata berjatuhan, memeluknya erat ke dadaku, lalu aku tersadar pada satu pertanyaan yang harusnya kukatakan dari tadi: Rafli, kamu di mana?
Tak ada jawaban.
Hening.
Nyala api di depan pintu gerbang menghangatkanku, dan tanpa sempat berpikir panjang, aku melihat berjajaran Rafli dan semua sahabatnya, berdiri dalam gelap, hanya demi menyanyikan lagu ulang tahun buatku.


Rafli mungkin berpikir aku melupakan apa yang telah dilakukannya itu, karena aku tak pernah bisa membuatnya merasa istimewa. Aku sering lupa tanggal ulang tahunnya, sehingga menjadi orang yang sering kali tidak mengucapkan selamat dan memberinya doa. Saat dia memberikan bindernya padaku untuk kuisi dengan apa pun yang kumau, aku malah mengembalikan binder itu kepadanya tanpa satupun kata yang kutulis. Keesokan harinya dia protes, “ Aku membuka binderku dengan semangat, dengan sumringah, berharap ada satu kata, paling tidak, yang kautulis untukku. Tapi….”


Yang ada hanyalah tulisan dan pesan Yanti, sahabat kami, untuknya. Barangkali karena itulah aku sering merasa canggung, rendah diri, dan takut terhadap Rafli. Dia memperlakukanku seperti dewi –atau Mahadewi, seperti yang diakuinya padaku –sedangkan aku tak bisa memperlakukannya dengan istimewa.


Pada malam-malam acara study tour sekolahku ke Yogyakarta, aku membaca berkali-kali tulisan Rafli di tiga lembar kertas binder yang dilipat memutar, dan terenyuh oleh caranya menggambarkanku sebagai sosok sempurna, sebagai cinta pandangan pertama yang takkan terkubur waktu, takkan tergerus cinta yang baru. Aku terenyuh dan seperti sudah dapat mendengarkan lantunan lagu yang liriknya kubacai berkali-kali itu. Yanti mengusap-usap kepalaku dan bilang bahwa kali ini Rafli akan setia padaku, bahwa apa yang dilakukannya selama ini membuktikan penyesalannya dahulu, dan kini kami berdua sudah beranjak dewasa dan dapat menyikapi hubungan dengan lebih baik.



***


*akusenyumsenyum*

Kamis, 04 Juni 2015

Kamu

Aku nggak apa-apa kok kayak gini. Kamu tenang aja.


Aku malah seneng ketemu kamu, kenal kamu, bersyukur banget sama Allah yang udah nemuin aku sama kamu. Aku nggak boleh marah apalagi benci sama keadaan kita sekarang, aku nggak mau kayak gitu. Walaupun, ya, aku pengen teriak-teriak bilang, “Semua ini nggak adil!”


Aku tadinya mau benci sama kamu, kamu jahat udah buat aku bahagia, tapi nggak ngajarin aku ngelepasin. Mungkin aku yang terlalu egois, atau mungkin aku yang terlalu kekanak-kanakan banget. Aku kadang nganggepnya, sih, ini cuma cinta monyet, tapi kenapa rasa ini adanya bertahun-tahun, sih? Aku suka kangen. Kangen sama nyebelinnya kamu, baiknya kamu, noraknya kamu, nekatnya kamu. Hahaha. Hari ini aku ngerasain lagi makanya aku nulis ini. Aku nggak tau mau cerita sama siapa lagi. Cerita sama mama nggak mungkin, cerita sama temen-temen yang ada aku cuma dicaci. Kalau Allah udah sering banget pasti denger curhatan aku tentang kamu.


Aku emang nggak bisa jadi perempuan baik. Aku terlalu sibuk. Aku nggak pernah punya waktu. Tapi, jujur sebenernya aku juga lagi berusaha punya. Aku tiap hari nanya sama waktu, kapan aku udahan sibuknya, eh, tiap hari nanya malah berasa banget nunggunya, hehe. Sekarang aku bisa pulang kerja lebih cepet, lho! Jam 6an aku udah di rumah. Keren, kan? Tapi pas nyampe rumah, aku tetep ngerasa kosong, terus pengen nangis. Aku masih cengeng, ya, dari dulu, hehe.


Di awal, aku udah bilang kalau aku nggak apa-apa. Tapi boleh nggak aku minta satu permintaan?


Boleh, ya?! *maksa*


Soalnya hidung aku udah meler, nih! Haha. Gara-gara nangis.


Aku minta kamu jujur sama diri kamu sendiri tentang hati kamu.


Udah itu aja kok. Makasih, ya :)
Jagain dianya kamu, ya.


Nia

Senin, 18 Mei 2015

Bukan Surat Cinta

Hai, selamat siang! Bagaimana cuaca di sana? Cerah, kan? Dan, bagaimana kabarmu? Tentu saja baik, tak perlu kamu beritahu sebab sudah terlihat dari beberapa status update-mu.


Saya minta maaf, sangat minta maaf. Sebelum saya disebut ‘perempuan kurang ajar’ untuk kesekian kalinya, lebih baik, saya menarik diri dari kamu. Jangan BBM saya kalau nggak penting, ya! Jangan ajak saya ke tempat favorit saya lagi! Oh, ya, saya bilang begini karena ‘menarik diri’ itu salah satu cara dari manajemen konflik komunikasi antar personal. Saya belajar dari mata kuliah komunikasi antar personal, lho! Saya cuma ngikutin aja, semoga aja berhasil buat kita semua. Iya, buat saya, kamu, dan perempuan kamu. Oh, ya, saya lupa bilang selamat! Selamat, ya, buat tanggal cantik dan perempuan cantiknya! ;)
Makasih.


Best regards,
Cupu.

Kamis, 14 Mei 2015

Berhenti di Persimpangan

Kini aku berada di persimpangan
Aku tidak tahu harus ke mana
Aku tidak bisa berpikir lagi akan ke mana
Aku sudah sampai di persimpangan

Tidak ada yang tahu jalan mana yang benar
Sesekali aku mundur, mengingat jalan yang pernah kulalui
Mengenang langkah mana yang salah
Mengumpulkan petuah yang berserakan di jalan
Memungut teori kebenaran akan perasaan
Pura-pura melupakan kerinduan
Pura-pura meninggalkan bahagia semu

Kini aku berada di persimpangan
Aku memutuskan berhenti di sini
Aku tidak sanggup lagi berjalan
Sungguh aku tidak tahu harus melewati jalan mana
Aku takut…. patah hati (lagi)
Lagi dan terjadi kembali
Berjuang pada satu cinta yang kukira membahagiakan
Namun dibuang bagai daun gugur tak berguna
Diabaikan seolah tidak dikenali

Aku…. minta maaf
Aku akan benar-benar berhenti di persimpangan
Maaf aku sudah sangat lelah dengan semua kisah ini
Aku berhenti saja
Menekuk kedua lutut dan menyerah di tengah persimpangan

Dengan tangan yang dingin dan kening yang panas
Dengan tenggorokan yang kering dan mata yang perih
Dengan tulang belakang yang lemah dan kaki yang lelah menyentuh tanah

Mengapa aku selemah ini?
Aku tidak mau menjadi lemah
Maka tanpa aku minta, memohon, dan mengemis
Apa kamu sudi menghampiri dan membangunkanku?
Dengan kesadaranmu sendiri
Tuhan Yang Maha Melihat, tolong…..

Rabu, 13 Mei 2015

Rencana yang Lebih Hebat

Halo, Guys!
Gue sebenernya ngantuk, tapi lagi kepengen nulis aja.
Gue mau bilang sesuatu yang gue pelajari dari pengalaman gue akhir-akhir ini dan blognya Gitasav:
 
“Rencana Allah itu lebih keren dari rencana gue!”
Jadi gini…
Tanggal 11 Mei kemarin gue udah selesai magang, dan komentar dari para temen-temen yang masih pada muda-muda itu intinya cuma satu: “Wih, bebas, ya!”


Ya, begitu, deh. Kalau dibandingin sama tempat kerja yang lama beda budayanya. Yang ini soalnya pekerjanya usianya masih muda-muda, di bawah 30 tahun. Jadi ‘rasa ingin bebas’-nya masih ada, artinya nggak terlalu suka diatur. Beda sama tempat yang lama yang selalu ‘nrimo’ untuk diatur-atur karena merasa hanya sebagai pekerja, udah pada punya istri dan anak juga, udah nggak mikir macem-macem lah, yang penting bisa kerja aja udah bersyukur. Gitu. Budayanya beda. Gue mempelajarinya beberapa bulan ini, hehe.
Iya, gue bebas. Gue bebas karena gue bisa melanjutkan kewajiban lain yang seharusnya gue lakukan: bekerja FULL TIME.


Awalnya, waktu keputusan magang gue ambil, gue sudah merencakan sesuatu: bayar kuliah dari bulan Maret sampai Mei 2015 dari gaji magang, mau kerja magang aja yang penting di media, nggak mau kerja yang bukan ‘bidangnya’ lagi, supaya gue punya pengalaman kerja di bidang jurnalistik sebelum S1, mengingat saingan pekerja baru yang banyak beberapa tahun ke depan.


Dan rencana gue failed.
Gue bayar kuliah Maret-Mei dengan muter otak gimana caranya pinjem ke temen yang bisa bantu, karna uang yang udah gue rencanain ternyata dipakai buat keperluan keluarga. Gue nggak mungkin cuma MAGANG! Gue harus kerja FULL TIME biar gue bisa tenang kuliah, makan, dan tidur. Gue mana bisa kerja di media kalau gue belom S1?! Gue mana bisa kerja di bidang jurnalistik, kalau gue masih mengejar ‘bayaran kuliah’ dan bayaran-bayaran lain?! Kerja jadi wartawan yang gue tahu nggak langsung bisa dapet gaji gede, pasti kecil. Bahkan dosen gue bilang, “Jangan jadi wartawan kalau mau kaya!” Gue yang lulusannya SMK Akuntansi otomatis akan kemungkinan kerja di bidang admin atau keuangan lagi, atau malah planner karna pernah jadi PPIC. Dengan yang sesuai sama lulusan SMK dan pengalaman kerja itu, baru bisa dapet gaji UMR. Terus kalau gue udah berkecimpung di bidang jurnalistik, gue akan banyak menguras tenaga, waktu, pikiran, sedangkan buat ngerjain tugas kuliah aja udah susahnya minta ampun, belom lagi ngerjain tugas organisasi. Gue nggak bisa fokus. Kayak mau mati rasanya.
Gue nggak mau sok-sokan bisa padahal nggak bisa. Gue inget Ibu gue. Gue nggak mau ngecewain beliau cuma karna idealisme gue dan keegoisan gue. Gue tahu gue bukan anak orang kaya yang cuma tinggal ‘ngembangin diri’ kayak anak-anak yang lain yang dibayarin kuliahnya.


Rencana gue nggak sekeren yang gue pikir, kan?!
Dari semua yang terjadi, gue sadar nggak semua hal yang udah kita rencanakan, kita pikirkan, sesuai sama kenyataan. Gue akui rencana gue emang gagal, tapi Allah ngasih gue pelajaran yang gue juga nggak kepikiran.


Yang gue syukuri dan pelajari, tuh, banyak banget, deh! Dari mulai pelajaran tentang sistem kerja, idealisme, cara memimpin, cara berkomunikasi, cara mensyukuri hidup, penampilan, dan lain sebagainya… Setelah resign waktu itu dan memutuskan magang gue jadi belajar banyak.


Gue jadi ngerti sistem itu penting banget di perusahaan mana pun, kalau nggak ada sistem, aktivitas perusahaan jadi berantakan, itu akar dari masalah-masalah yang bisa terjadi. Gue sadar nggak bisa jadi manusia ‘sempurna’, karena ada Yang Maha Sempurna. Gue jadi ngerti: kalau komunikasi bisa merusak, maka seharusnya komunikasi juga yang bisa memperbaiki dan membangun. Gue sekarang ngerti kenapa orang dengan rela mau jadi badut, mau jadi pengamen, mau jadi penyebar brosur di jalan: mereka mau makan dan tetep hidup, jadi bersyukur buat kalian yang bisa bekerja ‘enak’, kalian masih bisa lanjutin hidup. Gue jadi kenal banyak orang dengan karakter yang beragam, nggak semuanya bisa cocok, yang bisa itu ‘saling memahami’. Gue jadi bisa lebih mengatur uang yang gue punya, dan paham tentang hukum lifestyle yang berkaitan sama ekonomi. Gue jadi ngerti kalau pola makan gue selama kerja ada yang salah (makan malem banget mulu), gue jadi belajar nggak makan mulu (jam makan gue berubah, kemungkinan gue bisa kurus, haha), gue jadi tahu apa yang selama ini nggak gue perhatikan (kantung mata, komedo, dsb), gue jadi paham cewek itu kayak gimana. Belajar naik commuterline dan beradaptasi sama manusia-manusianya (nanti gue ceritain tentang commuterline). Belajar dari nguping orang-orang di commuterline. Belajar kerja di Jakarta yang melelahkan dan keras. Belajar jalan kaki setiap hari. Banyak, deh, pokoknya!


Ternyata, rencana Allah yang nggak kepikiran itu lebih hebat!
So, segala sesuatunya jangan terlalu dipikirin banget-banget apalagi dibaperin banget, yang berlebihan juga nggak baik, lho! Just try and do your plans!
 
Don’t forget, Allah always knows what the best for you! :)
Semoga Sandra cepat dapat tempat kerja baru, Aamiin :) dan teman hidup baru, Aamiin.
Good night, all!
B7A-Ua1CMAAnmAW

Sumber gambar:
https://pbs.twimg.com/media/B7A-Ua1CMAAnmAW.jpg

Sabtu, 09 Mei 2015

Gue Nulis Lagi, Nih!

Halo, mantemaaaaaan! :D
Seneng banget hari ini gue bisa nulis di sini lagi huhu. Magang content writer yang setiap hari nulis, membuat gue jadi nggak pernah nulis di sini *lapdebu*. Kenapa? Karena otak gue sudah diperas buat bikin tulisan setiap hari Senin-Jum’at. Jangankan nulis di sini, tugas kuliah gue aja jadi ngaret gitu, sampe dosennya nanya ke gue, “Kamu kok jadi sering belum ngerjain tugas, sih? Sibuk, ya…” Ah, Bu, andaikan Ibu tahu, saya pulang magang antara jam 8 sampai jam 9, pulang-pulang udah nggak kuat ngeliat notebook. AMPUN.  Ternyata kalau “bekerja” jadi penulis tidak sesantai yang gue bayangkan: deadline, revisi, mikirin judul atau tema, konsep per paragraf, dan lain sebagainya.  Alhasil gue lelah memeras otak ini. Makanya gue nggak meluangkan waktu untuk begadang dan ngerjain peer seperti biasanya. Selain tugas kuliah, gue juga menelantarkan organisasi, HIKS! Masalah yang terjadi selama 3 bulan terakhir ini membuat gue bener-bener lelah. Gue sampai merasa jadi orang yang “nggak sanggup”. Di mana letak “Man Jadda wajada” yang selama ini gue ingat sebagai motivasi? Akhirnya, gue “cuti” organisasi beberapa lama, walau dibilang nggak bertanggungjawab, atau apalah, yaudah gue nerima aja. Gue beneran “nggak sanggup”. Tapi gue akan tetep berusaha nyari solusi supaya gue keluar dari permasalahan gue dan bisa aktif lagi. Gue sedang berusahaaaa!
Alhamdulillah, Allah selalu tahu dan memberi petunjuk atas segala permasalahan, Man Shabara Zhafira (Siapa yang bersabar, ia akan beruntung). Gue mau bilang makasih buat Abdul Asman, Kak Elvera, Kak Ajeng, yang sudah membantu gue untuk bisa bayar kuliah dan kontrakan rumah :’) makasih juga buat Dessy Indah, Fanni, Diah, Dyah, Dian, Erin, dan temen-temen lain yang nggak bisa disebutin satu-satu yang udah nyemangatin gue!


Magang gue pun berakhir tanggal 11 Mei. Yeaaaay! *lho. Gue jadi bisa kerja full time lagi biar bisa makan enak bayar kuliah dan sebagainya. Semoga Sandra segera mendapat pekerjaan kembali, Ya, Allah, Aamiin. Permasalahan selesai satu per satu, akhirnya gue pun lambat laun agak “kosong”, Alhamdulillah.
Tibalah kemarin (08 Mei 2015) gue udah siap menerjang masalah yang gue “simpen” alias gue tinggalkan beberapa lama: organisasi. Gue ke kampus pulang kerja, untungnya nggak ada dosen, jadi gue bisa langsung ketemuan sama petinggi organisasi yang gue maksud: Adit dan Saqoh.


Jujur sebenernya, sih, gue kangeeen sama mereka! HAHA. Udah lama banget kayaknya nggak ngumpul bareng lagi. Tapi malam itu kami bertemu kembali, yeay! Awalnya gue ketemu sama Saqoh, terus Adit baru dateng.
“Lo pake bedak, ya, San?”
Gue diem.
“Iyalah, Dit. Sandra, kan, juga pengen cantik.”
*ketawadalemhati*


Padahal gue yang tomboi (baca: nggak feminim) ini juga pake bedak mulu kali. Tapi, semalem gue lengkapin sama BB Cream juga, tone warna kulit wajah gue jadi merata (ini bukan iklan, kok) HAHA.
Lanjut. Gue dan mereka berdua mengutarakan segala isi hati kita masing-masing, wkwk. Nggak deng, kami problem solving tentang organisasi yang kami emban. FYI, tadinya, sih, gue mau ntraktir dengan uang gue yang sungguh pas-pasan, tapi ternyata Saqoh lagi kerja kelompok dan temen-temennya bawa makanan banyaaaak, HAHA. Alhasil, gue pun menumpang makan dari kumpulan makanan itu.


Selain ngobrol, gue juga sedikit-sedikit bantuin Saqoh ngerjain tugas PowerPoint-nya. Bukan, gue bukan bantuin ngerjain tugas teknik yang jelas-jelas gue nggak ngerti-ngerti banget. Tapi gue bantuin bikinin animation-nya. HAHA.


Setelah ngobrol, makan makanan orang, dan lain-lain, gue buka Youtube buat nonton Coolyah, salah satunya yang edisi Komeng lagi ngeliat pameran mobil di Jerman. Coolyah itu semacam acara yang dibuat sama students Jerman tentang aktivitas mereka selama di Jerman, dan itu kereeeen abisssss! Semoga kelak bisa kayak mereka, Aamiin.


Abis Youtube-an, gue, Adit, dan Saqoh pun berniat karaokean ala kami. Kami pun meng-cover lagunya Tulus yang judulnya “Teman Hidup”. Berkat instrumennya, cover-an kami jadi kayak cover-an-nya Gitasav-Paul-tapi-nggak-mirip. Eh, Saqoh sebagai pemain gitarnya, deng (ceritanya doang). Check this out, guys!



Gimana? Nggak mirip sama cover-an-nya Gitasav-Paul, kan? wkwk. Yang penting pede aja dulu, ye, kan? HAHA.


Setelah mengeluarkan suara ambigu kami, kami pun pulang ke rumah masing-masing dengan penutup kata, “hati-hati”, lalu melaju bersama motor masing-masing.
Sekian cerita gue. Senangnya bisa posting 1 tulisan di blog yang udah lama nggak diurus (sayang udah bayar domain soalnya) HAHA.
Makasih, semuaaaa! (kayak yang baca banyak gitu)
Have a nice world! ^^

Senin, 09 Februari 2015

Logika

Kau datang tiba-tiba, air laut
Namun mengapa kau turun dari langit?
Aku tidak perlu jauh pergi ke pantai bukan untuk menemukanmu?
Namun tetap saja tidak ada yang memanggilmu dengan sebutan air laut

Aku memang bodoh
Aku menyebutmu air laut sebab kau dari laut
Aku ini cerdas, tapi tetap saja orang-orang menganggapku bodoh
Sama seperti aku menganggap dia
Aku mengira dia adalah makhluk istimewa
Manusia menakjubkan yang Tuhan kirimkan entah dari mana
Entah dari langit, atau tanah
Entah dari udara, atau matahari
Dia sungguh istimewa buatku, sungguh

Aku sering tersenyum diam-diam saat bersamanya
Aku selalu menangkap segala ceria dan cerita darinya
Tapi dia sama sepertimu, air laut
Tidak ada yang menganggap dia seperti apa yang aku kira
Aku terlalu berkhayal
Apa karena aku wanita?
Lebih menggunakan perasaan daripada logika
Lalu, apa benar aku salah?

Sungguh aku lama-lama mati rasa dan perasaanku mati
Kemudian aku gunakan logikaku
Namun mengapa aku selalu mengulang pertanyaan yang sama?
Jawaban beragam dari tanyaku
Hingga aku belum pernah tahu jawaban mana yang benar
Ataukah aku hanya berputar di dalam lingkaran yang sama?

Aku benar-benar tidak mengerti logika ini
Banyak yang membisikkanku satu jawaban yang tidak pasti
“Dia tidak memilihmu”
Serupa denganmu, air laut
Kau bukanlah air laut seperti yang aku sebut selama ini
Kau adalah air hujan
Dan dia adalah milik orang lain
tumblr_m90sr3WveZ1rxkgpwo1_500

Jumat, 02 Januari 2015

Persiapan Menuju Bosscha #1Day1Dream

Hari kedua #1Day1Dream. Di saat semuanya punya waktu mereka sendiri, ada yang lagi liburan, ada yang lagi kerja, gue malah di kamar dan ngetik impian yang mau gue wujudkan. Haha. Kali ini gue mau ceritain tempat impian kecil gue:

Bosscha
 4747_selaksa_cahaya_mengepung_bosscha
Pertama kali tahu tempat ini dari film Petualangan Sherina. Tempatnya Sherina dan Sadam
dicium keningnya….hmmm….sembunyi dari penculik. Nah, di postingan Kembang Api #1Day1Dream, kan, gue udah cerita kalau gue suka ngeliat bulan dan bintang, jadi tentu aja gue mau ke Bosscha, karena di sanalah tempat yang bisa memberikan gue banyak ilmu tentang bintang. Selain itu, gue juga bisa ngeliat cara kerja teleskop besar yang bernama Zeiss.

Tempat impian kecil gue ini ingin sekali gue kunjungi saat gue sedang libur kuliah semester 3, sekitar bulan ini sampai Februari 2015, atau libur semester 4 bulan September 2015. Sejujurnya, gue belum tahu transportasi apa yang bakal gue naiki untuk bisa pergi ke sana. Makanya tulisan ini gue beri judul “Persiapan Menuju Bosscha”, karena persiapannya lah yang mau gue wujudkan. Setelah UAS tanggal 10 dan 11 Januari 2015, gue akan melakukan persiapan itu. Apa aja yang bakal gue lakuin?
  1. Kepo ke website-nya Bosscha
Kalau nulis keyword: Bosscha, website yang muncul paling atas adalah http://bosscha.itb.ac.id. Yaks, karena Observatorium Bosscha itu fasilitas penelitian astronomi milik ITB, jadi website-nya di bawah naungan ITB. Di website ini ada sejumlah informasi tentang Bosscha yang mendukung terwujudnya impian kecil gue:
  • “Tentang Bosscha” yang menjelaskan apa itu Bosscha, penjelasan akses ke sana (alternatif transportasi), peta, dan kontaknya.
  • “Kunjungan” yang menjelaskan Program Kunjungan Siang, Kunjungan Malam, cara pendaftaran dan pembayaran, jadwal tutup kunjungan, aturan kunjungan, dan kontak bagian pendaftaran.
  • “FAQ” daftar pertanyaan beserta jawabannya yang berguna buat mengetahui seputar Bosscha.
Pengkepoan ini akan dimulai tanggal 12 Januari 2015.
  1. Dari pengkepoan mulai tanggal 12 Januari tersebut, sudah pasti gue harus melakukan action nyata. Pertama, gue akan mendaftar dengan menghubungi bagian pendaftaran yang nomor teleponnya tertera di website. Kenapa gue langsung daftar? Karena gue harus bertanya kapan Program Kunjungan yang pendaftar kunjungannya masih kosong atau sedikit, dan supaya nggak keduluan pendaftar lain. Gue, sih, bakal mengajukan tanggal yang hari Sabtu, dan kalau bisa dapatnya Program Kunjungan Malam. Semoga aja di tanggal-tanggal libur kuliah semester gue, Aamiin. Huhu.
  2. Kedua, gue akan memilih akses perjalanan yang paling terjangkau, dengan cara menganalisa transportasi apa yang bisa gue naiki dari rumah gue yang di Bekasi menuju Lembang, gue coba lihat Google Map, gue mau tanya-tanya sama temen, atau menawarkan ke Mama untuk sewa mobil. Menghitung-hitung biaya transportasinya juga.
  3. Ngajak temen
Sebenernya, sih, nggak apa-apa juga kalau gue pergi ke sana sendirian, tapi kalau bisa bareng temen, kan, lebih seru, dong! :D Tapi sebelumnya gue mesti jelasin tujuan ke Bosscha, karena itu Observatorium yang sering digunakan untuk penelitian, maka niatnya bukan mau foto-foto, atau makan-makan di sana, tapi mau belajar. Jadi mungkin gue akan ngajak temen yang satu tujuan sama gue. Hahaha.
  1. Nabung
Pokoknya nabung dari sekarang. Minimal harus bisa nabung untuk biaya transportasi pulang-pergi, masuk Bosscha, dan konsumsi. Kalau bisa nabung lebih, ya, semoga aja bisa beli oleh-oleh juga di sekitar sana. Karena tempatnya di Lembang, udara sejuk dan pemandangan yang ciamik udah merupakan bonus buat gue, nggak bayar, kan?! Hahaha.
Yap, begitulah impian kecil kedua gue: “Persiapan”. Aneh, ya, impian, kok, “Persiapan”?! Iya lah.
Soalnya:
quote-Abraham-Lincoln-i-will-prepare-and-some-day-my-40909



Sumber gambar:
http://intisari-online.com//media/images/4747_selaksa_cahaya_mengepung_bosscha.jpg
http://quotes.lifehack.org/media/quotes/quote-Abraham-Lincoln-i-will-prepare-and-some-day-my-40909.png

Kamis, 01 Januari 2015

Kembang Api #1Day1Dream

Bismillahirrahmaanirrahim!
Hallo, guys! Kali ini gue bakal jadi blogger sesungguhnya. Kenapa? Gue sudah memilih siapa yang memang gue sayangi selama ini #ehsalahfokus. Haha. Gue sudah memilih gue akan jadi siapa dan mencari nafkah di mana, guys! :D

Sebagai project awal sebagai “blogger beneran”, gue bakal ikut project dari Komunitas Blogger Kancut Keblenger. Project ini namanya “#1Day1Dream”, jadi gue Insya Allah bakal ngeposting 1 bulan penuh tentang impian-impian gue, 1 hari gue posting 1 impian.

Untuk postingan #1Day1Dream hari pertama ini, gue mau cerita tentang impian kecil gue. Siap-siaaaaap!
Duar! Duaaaar! Duaaaaar!
kembangapi1
Yaks, melihat kembang api di langit yang luas pada suatu malam adalah impian gue. Whahaha.
Gue pengen banget ke tempat yang langitnya keliatan luas, misalnya laut, atau taman, atau arena bermain (example: Dufan), atau jalan tol sepi (ini ngasal), buat ngeliat kembang api menari-nari di langit malam.
Itu menurut gue keren aja. Ya gitu aja, sih. Haha.

Nggak deng… Jadi gini…
Pada suatu hari, gue tiba-tiba mengagumi benda langit yang bersinar di gelapnya malam. Nama benda langit itu Bulan dan Bintang. Semenjak itu, mata gue selalu berbinar setiap saat melihat benda yang bersinar atau berkelip di angkasa malam. Kalau Bulan dan Bintang itu, kan, benda angkasa yang nggak bisa manusia atur, nah, bagi gue kembang api adalah “benda langit” yang bisa diatur dan dirancang kemunculannya sama manusia. Makanya gue eksaitid banget ngeliat kembang api. Biasa aja, sih, sebenernya, tapi gue ngeliat kembang api, tuh nggak cuma pake mata, tapi pake hati, duh elah!

Kembang Api Tahun Baru 2015
Gue main handphone, di Path, Instagram, BBM, banyak yang posting kembang api yang gue banggakan itu. Tapi sesungguhnya gue sama sekali nggak ngeliat kembang api secara live…….semalam! Haha.
Why? Soalnya gue nggak mau kayak tahun-tahun kemaren, ah, mainstream banget! Gue berdiri deket pager rumah gue, ngeliatin kembang api bertebaran (gue nggak tahu juga siapa yang pasang), sendirian, senyum-senyum sendiri, menadahkan tangan di atas pager dan menopang dagu, hahaha, oke  ini keliatan jonesnya banget -_- skip aja lah~

Gue semalem nggak keluar rumah sama sekali, malah nyelesein rekaman sebagai bayaran utang akhir tahun (yang nggak ngerti, anggap aja satu kalimat sebelum ini nggak ada)

Oh, ya, sebenernya, gue udah diajak sama temen-temen gue ke acara tahun baru yang sangat memungkinkan untuk gue bisa ngeliat kembang api:
Temen SMP alias temen pramuka Naga Sakura, ngajak bakar-bakar di Depok, tempatnya Diah Retno Yuniarni bernaung (anak UI, tjuy!)
Anesya Erin Pradani, sahabat kerja gue yang ngajak ke Harapan Indah 2, biar nggak keliatan jomblo, katanya
Kak Metta, teman kerja yang bikin sosis bakar dan makanan lain yang super duper banyak banget (dikirimin foto lewat grup WA)
Dessy Indah Kurniawati, sahabat kuliah gue yang ngajak liputan (kerja tetep), bayangan gue, sih, ke Summarecon Mal Bekasi

Tapi…………..
Entah, gue…… cuma mau merenung dan berdo’a aja di rumah. Anti mainstream, kan, gue?! Whahaha :DDD

Wait, gue baru nyebutin unsur What, When, Why, dan Where (unsur menulis tetep).
Jeng jeng! Gue bakal sebutin unsur berikutnya!

How
Gue mau pake gaun cantik, terus duduk di bangku taman, depan tamannya itu danau yang menenangkan gitu, tapi di seberang danaunya ada gedung pencakar langit yang berderet kayak light stick, daaaan kembang api mengisi langit dengan percikan cahaya yang warna-warni, nah, itu gambaran latar tempat yang gue impikan buat liat kembang api. Hahahahaha.
Kayak gini:
kembangapi3
kembangapi2
Who
Harus ada unsur Who, apa? Hahaha. Oke, oke. Gue mau liat kembang api bareng Herjunot Ali, atau Fedi Nuril, atau seenggaknya….. kamu, deh ><. Wkwk.
Sama siapa aja, gue udah bahagia banget, Sob! Sama Mama, atau sama sahabat gue 5 serangkai (Tata, Nisa, Dinda, Ani), atau sama temen SD, SMP, SMK, kuliah, atau sama keluarga gue yang jauh di sana, gue udah bersyukur banget, beneran, yang penting lihat kembang apiiiiii \o/.
By the way, tengah malam pergantian tahun ini udah lewat, sih. Enggak, gue bukannya telat nulis ini, bukan. Emang sengaja aja gue nulisnya baru sekarang, supaya yang baca impian kecil gue ini bisa lebih kreatif ngasih kejutan buat gue, hahaha #guepedebanget.
Oke, ini baru 1 impian kecil gue. Selanjutnya gue akan posting impian-impian kecil gue yang lain.
Oh, ya, kenapa tulisan gue mengusung tema “impian kecil”? Kenapa nggak sekalian aja impian besar?
 
“Karena impian kecil serupa dengan cinta yang tidak berlebihan, sederhana.”

Tiga Bulan dan Tiga Hari

Kepada perempuan yang tak pernah marah
Bagaimana awal mulanya kita bertegur sapa?
Aku lupa, atau bahkan tidak peka
Tapi, kita saling mengenal

Kepada perempuan yang jago berakting
Bagaimana bisa kita menjadi akrab?
Lewat sepatah dua patah kata yang ambigu
Lalu kita tertawa dari hati ke hati

Aneh, lucu, gembira bercampur jadi satu
Belum juga aku bicara, kamu sudah tertawa
Belum juga kamu menyebutkan kata, aku meringis
Seolah kita saling bisa membaca hati

Yang aku syukuri, kamu begitu mengenalku
Padahal kita hanya bertemu 3 bulan
Padahal waktu kita hanya tinggal 3 hari
Kamu lah yang tahu kapan air mataku akan jatuh

Terkadang kita punya pertanyaan yang sama
Apa kabar seseorang di masa lalu kita?
Bagaimana cara menyampaikan rindu pada seorang laki-laki yang pernah menitipkan haru?
Apakah masih bisa berjalan bersamanya?

Adik, itu hanya sebutan atas umur kita
Di sisi lain aku menyebutmu: sahabat
Terima kasih atas 3 bulan kita, dan 3 hari nanti
Aku akan merindukanmu

Maaf aku harus pergi
Aku yakin kamu akan baik-baik saja
Beraktinglah bahwa semuanya itu mudah
Kamu pasti bisa, kamu lebih kuat dari aku

Sabtu, 20 Desember 2014

Menurut Kalian?

Suara langkah kaki di malam hari
Berlarian kecil memecah hening
Membelalakkan mataku namun bergeming
Meninggalkan kotak tepung berlilin
Menurut kalian, biasa saja

Giliranku yang berlarian
Menemuinya tanpa teman
Dibalik buku merah ada yang mengintip
Ternyata titik-titik cahaya yang menggelitik
Menurut kalian, biasa saja


Ah, tak perlu itu, sederhana saja
Pesan-pesannya yang sering
Cokelat payung dan koin dalam plastik bening
Bahkan air mata yang mengering
Menurut kalian, masih biasa saja


Aku juga ingin seperti kalian, biasa saja
Tapi coba dengar suara kakiku yang berjalan semalam
Menyusuri ruang berlampu terang dengan lagu-lagu kebetahan
Sendirian, menggapai kosong
Sesak, menyelipkan kuat
Terdengar suara riuh dari balik tumpukan kemasan
Aku ingin ikut ke dalamnya, marah-marah
Namun hatiku sudah berbunyi lebih awal
Urung dan pulang
Aku pulang yang salah
Aku mengingatnya, lagi
Menurut kalian, aku sungguh berlebihan


Nanar pada deretan pesannya, aku lengah
Hanya bisa memandang kamar yang buyar
Melihat lipatan bungkusan cokelat muda
Sampai ada suara yang menyelinap entah darimana
Bohong, itu suara via telepon beberapa minggu lalu
Kami tertawa tanpa bersalah dan menyakiti
Menurut kalian, aku bodoh


Huh, memang begini nasib manusia kesepian
Senang pulang pada yang bukan sepi
Senang pergi untuk lupa pada sepi
Menurut kalian, bagaimana jadi aku?
Dan menurutku, coba kalian jadi aku!

Aku Tidak Punya Hati

Aku jahat padamu
Menenggelamkanmu di lautan hati
Hati yang sangat rapuh, keropos
Airnya yang patah setiap hari
Dan telingaku jenuh mendengar bunyinya


Aku tidak punya hati
Menyeretmu dalam gua yang gelap ini
Memintamu mengikutiku yang suram ini
Padahal aku tahu, kamu milik putri cantik nan jelita
Aku malah memaksamu bersamaku
Aku tidak punya hati, kan?


Aku sangat egois
Menginginkanmu menjadi milikku
Menulis namamu dalam pengharapanku
Padahal aku tahu itu tidak mungkin
Itu hanya dunia paralel kita
Ah, bukan kita, tapi duniaku sendiri


Seperti judul lagu, “Andai Aku Bisa”
Maka berjayalah andai dalam langkahku
Maka kuselipkan kata “Tidak” sebelum “Bisa”
Aku….tidak bisa
Aku tidak akan pernah bisa


Kamu tahu?
Aku ini manusia sibuk
Sibuk menjadi apa dan siapa saja
Sibuk menjadi seorang pelupa, pelupa sakit hati
Ya, aku ingin lupa pada luka yang menganga
Lagi-lagi airnya patah berulang-ulang
Dan aku jatuh lagi berkali-kali
Ya, jatuh cinta
Padamu yang sangat tahu aku
Tanpa aku ceritakan bagaimana aku
Padamu yang mengenalku
Tanpa aku berikan riwayat hidupku


Maaf, ini puisi mati
Rasa ini pun harus mati
Akan kubunuh perasaan ini dengan pedang yang kauberi padaku
Atau dengan waktu yang kita gelangkan bersama


Tolong jangan bahagiakan aku lagi
Sebab setelah ini aku akan jatuh lagi
Tak apa, aku yakin aku jatuh
Jatuh cinta
Entah pada siapa
Mungkin padamu lagi?
image

Minggu, 16 November 2014

Dua Puluh

Hai, Guys!


Kali ini gue bukan mau nulis puisi, atau nulis cerpen, atau nulis artikel dengan ke-sok-tahu-an-nya gue. Hahaha.


Hmmm, gue cuma mau cerita sedikit tentang sesuatu yang gue alami.
Sebenernya , sih, gue mau nulis cerita ini dari bulan September, tapi berhubung gue baru sempet karena kesibukan (jiah) gue yang terus-menerus melanda, akhirnya baru bisa gue rampungin hari ini.
Ini cuma seputar kisah mengenai ulang tahun gue yang keduapuluh, yang kata orang, umur ini udah menjadi dasar seseorang untuk dibilang dewasa, bukan ABG lagi.
Oke, langsung saja!


11 September 2014
Eh, salah deng!
10 September 2014
Handphone  gue berdering. Nomor yang tertera tanpa nama. 0852-….-…. (nggak hafal).
Ah, dia. Gue tahu siapa yang menelpon gue walaupun gue nggak simpan nomornya.
Gue angkat.
“Halo!”
“Halo! Belom tidur?”
“Belom.”
“Jangan tidur dulu, ya!”
“Kenapa?”
“Hmmm, pokoknya jangan tidur dulu, oke!”
“Hmmm, iya.”
Tut… tut… tut!
Dia lagi, apa lagi? Dia mau ngelakuin hal “gila” apa lagi? Setelah dia pernah datang ke depan rumah jam 00.00 di tanggal 11 September tahun 2010? Setelah dia pernah “nyelipin” boneka kura-kura di buku pajak gue dan ketemuan di deket tangga masjid, waktu gue naik umur jadi 17 tahun?
Arrrrggggh!


Pukul 00.00
Gue was-was. Gue mempertajam pendengaran gue. Bukan, bukan buat dengerin suara di telepon, tapi buat mastiin di luar rumah nggak ada “suara-suara aneh” seperti 4 tahun yang lalu.
Tapi, pendengaran gue nggak bisa menyangkal. Gue denger suara-suara gitu di luar rumah, tapi gue nggak ngintip dari jendela kamar, gue takut gue cuma berilusi doang, atau malah de ja vu. Gue masih di kamar belakang (bukan kamar tidur), tapi nggak ngapa-ngapain. Diem. Atau lebih tepat disebut mikir, tapi nggak tahu apa yang dipikir, melayang. Sampai di menit ke 42, handphone gue berdering lagi. Nggak usah mikir siapa yang memanggil, gue udah sangka siapa. Siapa lagi kalau bukan orang yang tadi habis nelpon gue, sebut saja RYF.


Gue mendengar lagi suaranya, suara khas dia yang biasanya terdengar memilukan, tapi kali ini, suaranya berbeda, ini suara yang ceria.


Diawali salam dan sedikit kata-kata pembuka ala dia, lalu tiba-tiba ada suara lain di luar suara dia. Suara wanita. Ups, tenang! Bukan suara pacarnya, tapi suara sahabat SMK gue yang kami panggil Tata.


Tata, wanita periang dengan suara yang cukup menggelegar. Nggak peduli ngomong sama siapa dan di mana, ia selalu terdengar (dan terlihat) ceria, nggak seperti gue yang hobinya cemberut dan melontarkan suara memiris, hahaha.


Selanjutnya, ada suara lain lagi, suara laki-laki yang berat dan kadang bernada datar, Yudi namanya. Teman SMK kami, eh, selain itu juga sahabatnya RYF. Dia pernah satu kantor sama gue, tapi nggak lama. Gue bingung, mereka ada dalam satu tempat apa gimana, sih?! Eh, ternyata ini namanya Conference Call. Hahaha. Maklum, gue, kan, hampir nggak pernah teleponan jadi baru tahu.


Suara di luar rumah makin kedengeran. Gue tambah gusar, gue pindah ke kamar depan (kamar tidur). Walaupun ada nyokap gue, gue tetep milih teleponan di kamar, biasanya, sih, gue nggak mau, gue tahu nyokap itu orangnya suka ngedelek, ntar gue diledekin gini lagi: “Teleponan sama siapa? Udah jam berapa ini? Tidur!” Eh, itu mah bukan ngeledek, yak, tapi marah! Hahaha!


Gue tadinya mau ngintip ke jendela, tapi gue dikagetkan dengan suara lain yang sejujurnya asing banget di telinga gue.


“Halo.”
“Halo. Siapa, ya?”
*RYF,Tata,Yudipadaketawa*
“Halo.”
“Siapa, sih?”
*ketawanyatambah-tambah*
“Beneran nggak tahu. Siapa, sih?” Kalau ada cermin di depan muka gue, sudah dipastikan muka gue cengo’ banget!!!
“Ini beneran nggak tahu?” tanya RYF masih cekikikan.
“Siapa?” Gue melas.
“Ini Ijul,” ucap laki-laki yang sedari tadi gue nggak kenal suaranya itu.
“Oh, Ijul!!!”
“Kok, nggak tahu, sih?” tanya RYF yang sudah pasti heran.
“Iya, kan, nggak pernah denger suaranya lewat telepon,” kata gue polos.
Selama “bareng” sama Ijul, gue nggak pernah, tuh, teleponan sama dia, kecuali, kalau darurat banget. Contohnya, kalau gue lagi di tempat fotocopy, trus….. “Jul, fotocopy-nya berapa? Tadi si Gessy juga mau fotocopy materinya, boleh?” *ROTFL*
Gue memang bukan manusia yang suka teleponan. Aneh, kan?
Kemudian semuanya meledek gue. Suara Ijul terdengar sepatah-dua-patah kata.
Dan….. serius, suaranya Ijul merdu banget! Padahal bukan lagi nyanyi (secara, dia vokalis), dia cuma ngomong aja indah banget suaranya, whahaha!


Setelah tertawa karena meledek dan lain sebagainya, sampailah pada inti pembicaraan (gue lebih memperhatikan bagian ini, hahaha), yang maksudnya adalah ucapan ulang tahun buat gue.
Yang jadi moderator dalam pembicaraan ini, ya, RYF. Gue rasa, sih, ini udah diskenarioin, tapi whatever, lah. Gue jarang-jarang mendapati hal kayak gini :).


Dimulai dari Yudi, setelah ngucapin selamat ulang tahun, dia ngutarain permintaan yang ditujukan ke gue: Do’ain Yudi supaya mendapatkan gebetannya, dan semoga gue menggunakan sisa waktu dengan sebaik-baiknya.


Kedua Tata, ngucapin juga, kemudian minta gue untuk: jangan jauh-jauh, berkomunikasi dengan hati (hahaha, I know what you mean, Ta!), jangan berubah dan tetep jadi Sandra yang dia kenal.


Ketiga Ijul, setelah ngucapin, dia minta: jaga diri baik-baik, do’ain Ijul yang sebentar lagi mau TA (gue udah bayangin dia wisuda aja, hahahahahaha).


Lalu, keempat, RYF, sang moderator. Eh, tapi…………. pembicaraan jadi agak ngelantur, entah ini bagian dari skenario atau bukan. Sampai pada akhirnya RYF nggak ngasih tahu apa permintaannya.


Setelah permintaan dari mereka, gue lah yang gantian mengutarakan permintaan.
Selalu, kalau soal “mengutarakan-mengutarakan” gue awkward banget! Sampai akhirnya si Tata yang baik hati bilang: Sandra pengen dinyanyiin Ijul.
Si Ijul nanya nyanyi lagu apa? Tik tok tik tok. Gue bingung, hahahahahaha.
Untungnya Allah selalu memampirkan ide sekelibat.
“Nyanyi lagunya Project Pop, yang ‘kamu sangat berarti, istimewa di hati’.”
“Ingatlah hari ini!” tanggap RYF.
“Ayo, bareng-bareng!” ajak Ijul.
*nyanyibarengdengansuaradominanIjuldanRYF*
*guesenyum*


Lalu nggak lupa mengenai traktiran. Rencana traktiran dibicarakan dan diputuskan bersama. Kami akan bertemu tanggal 14 September di pecel lele depan kampus gue.
Sampai akhirnya pembicaraan kami berlima selesai karena ada sofa dan kulkas yang berantem (bagian ini disensor, ya! :p).


Tut… tut… tut! Teleponan berakhir di 00.55.


Oh, ya, di tengah teleponan berlima, nyokap gue ikut denger suara-suara aneh di luar rumah, dan bilang, “Di luar ada orang, tuh!” Sampai nyokap gue keluar kamar dan buka pintu rumah, pas balik nemuin gue, beliau bilang, “Ada kucing!” Woelaaaaaah! Hufttttt!


Pukul 01.05
Gue mengangkat handphone.
Suara dia lagi. Dengan kalimat pembuka, lalu inti pembicaraan.
“Tadi aku, kan, belum sebutin permintaan aku.”
“Emang apa?”
“Beneran mau denger?”
“He’eh”
“Permintaanku cuma dua kata.”
“Apa?”
*hening*
***


“Nungguin, ya?!”
“Iiiiiiih!”
*suaraketawadaribaliktelepon*
“Apaan?” ucap gue kepo.
“Jangan pergi!”
Jadi ini lah, hal “gila” yang daritadi gue tunggu-tunggu.
“Iya.”


11 September 2014
Malam hari, di Universitas Bhayangkara Jakarta Raya, kampus II – Bekasi
“Hai!” ucap gue menyapa Adit, Saqoh, Engkong, Dyah, Alex.
Dessy yang berjalan bareng gue, ikut duduk mendekati mereka.
“Saqoh, pizza-nya mana? Udah diambil di Bude?”
Pizza apaan, sih, San?” tanya Adit pakai nada sewot nggak jelas.
“Ih, lah, kita ngapain di sini?”
“Lah, kan, kata lo kita ngumpul di sini? Lo lupa?” tanya Dyah yang nggak biasanya ngomong kayak begitu.
Astagfirullah. Kalau ada cermin di depan muka gue (lagi), muka gue pasti kelihatan kebingungan.


Beberapa jam yang lalu…
Gue sampai di kampus bareng Dessy, dan bawa sekotak Pizza buat makan-makan bareng sahabat-sahabat kampus dalam rangka hari ultah gue. Gue minta tolong Saqoh buat bawain Pizza karena gue bingung bagaimana cara bawanya di tengah kerumunan anak kampus yang banyak (atau lebih dibilang malu atau nggak pede). Akhirnya Saqoh yang baik hati dan penolong bersedia bawain sekotak Pizza itu dan dibawanya ke kantin Bude, dititipin di situ.
Dan…. sebelumnya gue kirim pesan via multichat BBM supaya kami semua ngumpul pulang kuliah, supaya bisa makan Pizza bareng.
Balik lagi di tempat semula, lobi kampus.
“Lho, gimana, sih?” tanya gue, bingung.
“Apaan, sih, San?!” kata Adit yang bikin gue tambah nggak ngerti.


Tiba-tiba, dari belakang muncul sekotak kue bulat dengan lilin 2 dan 0 di atasnya. Lilinnya menyala dan dibawa oleh laki-laki berjulukan Beler. Kue dengan tulisan di atasnya: Lo jangan geer, San!
*nyanyilaguulangtahun*
*makeawish* *tiuplilin*
“Ini rencana Adit!” Entah siapa yang bilang.
“Enggak, ini dari kita semua,” kata Adit dengan nadanya yang amat gue kenal.
*speechless*
Mereka pada ngomong apa gitu, tapi gue nggak fokus.
“Ini kue Blueberry, kue kesukaan gue, jadi nanti bisa buat gue! Hahaha,” ledek Adit (kalau nggak salah, gue lupa! :p)
*potongkue*
Serius, kuenya lembut banget! Gue motongnya nggak pake usah pakai tenaga, udah kepotong kuenya #apasih.


Yap, potongan kue yang pertama.
“Potongan kue pertama buat siapa?”
“Dessy!”
“Nggak boleh cewek. Juga nggak boleh gue, Saqoh, atau Engkong!” ucap Alex.
“Ih!”
*padaketawa*
*handphonedengansettingvideodiaktifkan*
“Buat siapa, Sandra?” tanya Engkong sambil megang handphone gue, merekam.
“Adit.”
“Ciyeeeee!”
Ah, udah, ah, jangan diceritain. Hahahahahaha.
Nggak, nggak…
“Dengan cara begini, udah sebagai kado terindah, buat Sandra,” ceplos Alex, ngasal.
*guediem*
Dan…. akhirnya gue nyuapin Adit kue potongan pertama.
Kedua: Dessy. Ketiga: Dyah. Keempat: Alex. Kelima: Saqoh. Keenam: Engkong.
Alhamdulillah! That’s a specially moment for me!!!!!! :’)
*makanPizza*
*rapiinkueyangmasihada*
“Buat nyokap lo, San! Bilang, dari Adit!”


Setelah makan-makan, kami semua pun menuju motor masing-masing buat pulang.
Dyah gue tarik buat nemenin gue ambil motor di samping kampus, jauh -_-
“Ngapain Dyah ikut lo? Dyah jangan bareng lo, kejauhan!”
“Enggak. Dyah nemenin gue ambil motor!”
“Nggak usah. Dit, temenin Sandra, tuh!”
“Ayo, San!”
Gue menduduki jok belakang motor Adit. Berhenti di deket motor gue. Gue cantolin kue yang buat nyokap di motor, pake helm, hidupin mesin motor, dan mengendarai motor gue menuju gerbang bareng Adit. Yap, no voice selama cuma berdua sama Adit :p
Gue pulang.
Membawa kue Blueberry. Mengendarai motor menuju rumah.
Tidak merasakan apa-apa.
Hambar.
What’s happen with me?
Hahaha. Seperti yang Tata katakan, berkomunikasi dengan hati.
Gue….. belum bisa.
Permintaan yang gue pikir itu nggak mudah. Buktinya, gue nggak tahu, gue senang, sedih, terharu, atau apa?! Hambar. Apa gue mati rasa? Atau gue ini Aleksitimia (suatu kondisi ketidakmampuan individu untuk menghayati suasana perasaannya)? Hahahaha. Gue mulai ngawur.
Memang, semua spesial banget buat gue, tapi tanpa seseorang yang spesial, rasanya ada yang aneh.
Egois memang. Tapi hati gue yang merasakan.


Sampai tanggal 14 September tiba……………
Gue sakit tenggorokan. Kebanyakan pulang malem pas menjelang ospek, badan gue mulai lemah.
Tapi gue tetep berusaha ketemu sama RYF, Ijul, Tata, Nisa, Yudi.
Makan bareng mereka, bercanda bareng mereka, karaokean bareng mereka sampai pukul 23.00-an.
Pulangnya, gue dianter sama RYF dan Yudi sampai rumah. FYI, gue nggak pakai jaket.
Besoknya, gue beneran sakit, demam. Gue nggak masuk kerja di hari Senin.
Besoknya lagi gue masuk kerja, dengan badan yang masih kurang bersahabat.
Besoknya lagi gue nggak masuk kerja lagi.
Besoknya lagi gue nggak masuk kerja lagi.
Hari Kamis baru masuk kerja.
Gue kenapa?
Baru kali ini gue nggak masuk kerja 3 hari karena sakit dalam waktu yang hampir berurutan.
Sepertinya gue…………….. kecapek’an. Hehehe.


Cukup sekian cerita gue. Haha. Kalau ada kesalahan dalam penulisan dan dialog, gue minta maaf yang sebesar-besarnya, karena gue nggak bisa ingat persis perkataan tiap-tiap orangnya, mohon maklum :).
Thanks, Guys, udah sempetin baca! Kalau kalian mau kenal sama tokoh-tokoh yang ada di cerita gue, silakan tanya gue ke @sandrasasi. Whahaha. Macem selebtweet aja gue :p
Semoga ada pesan tersirat yang bisa menjadi pelajaran atau pesan buat kalian yang membacanya.
Setelah gue merasakan semua hal di atas, gue mengerti sesuatu.

Setiap orang punya tempatnya masing-masing. Ada yang ditempatkan sebagai sahabat, bahkan seolah seperti keluarga baru. Mereka semua spesial, kita berhak bahagia atas itu. Tidak usah dipikirkan harus merasa apa, berbahagialah. Hingga pada saatnya kita tahu: siapa yang paling istimewa, dan siapa yang hanya membawa pelajaran. Semua adalah yang terbaik yang Allah beri. Allah Maha Mengetahui, kan? :)
Sekali lagi, makasih :)!

Minggu, 02 November 2014

Menunggu

“Lo masih nungguin dia?” tanya laki-laki yang duduk berhadapan dengan kemudi, sesekali menatap perempuan di sebelah kirinya.
“Hah?” ucap Nia tersentak, seolah tidak mendengar.
Laki-laki itu mengulang pertanyaan walaupun ia tahu sebenarnya Nia sudah mendengar.

“Iya, lo masih nungguin Sigit?”
Perempuan itu menyelipkan helaian rambutnya di belakang telinga sambil mendesah kecil.
“Sampai kapan lo memendam perasaan, Nia? Lo nggak usah mikirin gue,” tutur laki-laki pengemudi itu lalu tertawa kecil.
“Lo kenapa nanya-nanya, sih? Udah nyetir aja!”
“Lho, memangnya kenapa kalau menyetir sambil ngobrol?”
“Nanti lo nggak fokus nyetir! Lo, kan, juga lagi bawa satu nyawa, kalau kenapa-kenapa gimana?”
“Heh, kita itu dikasih otak yang super hebat tahu! Mestinya otak bisa dipakai buat mengerjakan beberapa pekerjaan sekaligus, sayang kalau dipakai beberapa persen doang!”
“Wira, please, deh!” kata Nia sebal. Laki-laki di sebelah kanannya itu memang lebih cerdas darinya, Wira selalu punya pernyataan yang sulit disangkal.
“Nia, kita harus kayak Albert Einstein, Thomas Alfa Edison, atau penemu-penemu lainnya, memaksimalkan kinerja otak. Nah, jadi gue ngelakuin ini supaya…….”
“Setop! Iya, iya! Tapi sebenernya kita ini mau ke mana, sih? Gue, kan, lo culik tadi, tapi lo nggak bilang kita mau ke mana, gue telepon polisi, nih!”
“Polisi, kan, nggak kenal gue, buat apa lo telepon dia. Mending lo jawab pertanyaan gu e yang tadi, deh. Lo masih nungguin Sigit?”
“Menurut lo?”
“Masih lah! Terakhir gue denger cerita lo, lo seneng banget bisa ketemu dia di Rabu malam. Lo bilang dia matanya berbinar banget, dan lo selalu teduh melihatnya. Dari situ gue tahu kalau lo masih nunggu dia, nunggu dia peka sama lo. Nunggu dia nggak cuma nganggep lo temen. Ya, kan?”
“Ah, lo sok tahu.”

Wira tertawa lagi. Ia mengemudikan mobilnya melintasi jalan satu arah yang sepi. Sementara Nia memilih mengalihkan pandangannya ke jendela, memandang hamparan rumput dan tanah kosong yang ia dan Wira lalui. Nia berharap pertanyaan Wira tidak perlu dijawab.
Mobil melaju cukup kencang, lalu berbelok ke kanan dan melewati jalan yang lebih sempit. Wira menginjak pedal rem, mobil pun berhenti.

“Kita sudah sampai,” kata Wira dengan nada suara yang hampir tidak terdengar oleh Nia.
“Kita ini di depan rumah siapa?”
“Coba tebak!”
“Gue kenal?”
“Kenal banget lah! Dia juga kenal lo! Keluar saja, temui orang di dalam rumahnya!”
Nia bingung. Tapi ia tetap membuka pintu mobil, melangkah keluar, dan berjalan dua langkah. Ia memandangi teras rumah itu. Terdapat satu buah meja dan dua buah kursi yang terbuat dari kayu. Tiba-tiba Nia melihat seseorang duduk di salah satu bangku itu.

Sigit.
Nia melihat sosok Sigit tersenyum menghadapnya. Jantung Nia terasa berdegup lebih cepat. Nia melambaikan tangannya namun tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Baru saja Nia ingin mendekat, namun dalam hitungan lima detik, Nia malah mengucek kedua matanya.
“Hah?” teriak Nia sendirian.

Nia langsung terburu-buru ke arah mobil, membuka pintu, langsung duduk, dan menutup pintu dengan tenaga yang cukup kencang.
“Lo kenapa?” tanya Wira panik. Sejauh ia melihat Nia lewat kaca di hadapannya, nampaknya Nia tidak melakukan apa-apa selain melambaikan tangan.
Nia diam, namun dengan muka yang amat tegang dan serius.
“Lo tadi melambaikan tangan sama siapa?”
“Gue mau pulang, Ra. Gue takut.”
“Takut apa, Nia? Lo jangan horor, dong!”
“Gue kayaknya udah terlalu menyimpan perasaan, sampai-sampai gue….. punya ilusi hati yang bener-bener berlebihan, Ra. Gue takut.”

Wira mengambilkan sekaleng minuman bersoda pada Nia.
“Gue cuma punya ini di mobil, nggak ada air putih. Sekarang lo minum dulu, biar tenang!”
Nia mengikuti perintah Wira. Wajahnya berubah, tidak setegang tadi.
“Gue tadi melihat Sigit di teras rumah itu. Tapi ternyata gue cuma berilusi, Ra. Sebenernya Sigit nggak ada di situ. Lagipula itu rumah siapa saja gue nggak tahu. Tadi gue kira itu rumah Sigit. Wira, kita pulang saja, ya!”
“Nia,  sebenernya itu rumah Sigit. Gue memang bawa lo ke rumah dia. Sudah sampai sini, kok, malah minta pulang?!”
“Enggak, tetep saja gue nggak mau, Ra. Kita pulang saja! Percuma, gue cuma berilusi doang, nggak mungkin dia mau menyapa gue seperti yang tadi gue bayangin sendiri. Dia nggak seramah itu sama gue. Gue nggak mau termakan ilusi hati kayak gini, Ra. Gue tersiksa!”
“Yakin mau pulang?”
“Iya.”
“Lo nggak nungguin dia keluar dari rumahnya?”
“Nggak.”
“Bentar lagi dia keluar kali, tungguin saja!”
“Nggak mau.”
“Sudah sejauh ini, lho!”
“Nggak bisa, Ra. Dia bukan buat gue.”
“Lo nggak usah mikirin gue, gue nggak apa-apa. Walaupun memang gue sayang banget sama lo, tapi gue tahu lo menunggu siapa. Gue mau bantuin lo untuk melakukan hal lain selain menunggu, gue mau lo menemuinya. Makanya gue ajak…..”
“Ra! Ayo pulang!”
“Tapi……”
“Ra, gue mau pulang sama lo. Gue sadar, kok, sama semua yang lo lakuin ke gue. Gue tahu lo begitu pedulinya sama gue, sampai-sampai lo malah nganterin gue ke rumah Sigit. Tapi sekarang gue sadar, Ra. Sigit bukan buat gue, dia nggak ada buat gue. Yang sekarang gue mau adalah pulang sama lo!” ucap Nia dengan nada yang makin lama makin meninggi, lalu bulir air dari matanya jatuh. Nia berusaha mengatur napas, namun gagal karena menangis.
“Orang yang gue tunggu belum tentu juga menunggu gue, Ra. Gue nyerah.”
Sebenarnya Wira ingin sekali memeluk Nia, namun ia menahan niatnya itu. Wira tidak mau Nia malah menjadi marah. Wira hanya menatap nanar Nia yang sedang menjadi lemah.
“Maafin gue, Ra. Ayo kita pulang!” ucap Nia sambil….. memeluk Wira.


Note:
Sebenarnya Wira bohong. Ia tidak membawa Nia ke rumah Sigit. Bahkan Wira sendiri tidak tahu itu rumah siapa. Yang benar: Wira sangat menyayangi Nia.